Tiga hari setelah rapat, Alana menerima undangan makan malam.
Pengirimnya bukan Hendra, melainkan nama yang sama sekali tidak ia duga: Damar Adiwangsa, Direktur Utama Adiwangsa Holdings—konglomerasi yang dua kali lebih besar dari Wijaya Group, dan salah satu pesaing utama di sektor properti.
"Hati-hati, Bu," kata Sekar saat menyerahkan undangan itu. "Adiwangsa bukan teman. Mereka sudah lama ingin mengakuisisi beberapa aset properti kita."
Tetapi Alana tahu satu prinsip dalam dunia bisnis: kau tidak akan pernah mengerti musuhmu kalau kau tidak pernah duduk semeja dengannya.
Restoran itu mewah dan sunyi, tersembunyi di lantai atas sebuah hotel bintang lima, dengan ruang privat yang menghadap kota. Damar sudah menunggu. Ia jauh lebih muda dari yang Alana bayangkan—mungkin awal empat puluhan—dengan setelan jas yang dijahit sempurna dan senyum yang ramah, terlalu ramah.
"Nona Wijaya," sapanya, berdiri. "Terima kasih sudah datang. Saya turut berduka atas ayah Anda. Bramantyo orang yang saya hormati."
"Terima kasih." Alana duduk. "Tapi saya yakin Bapak tidak mengundang saya hanya untuk berbelasungkawa."
Damar tertawa kecil. "Langsung ke pokok masalah. Saya suka itu." Ia menuangkan anggur, lalu mendorong segelas air putih ke arah Alana saat menyadari ia menolak alkohol. "Baiklah. Saya tahu posisi perusahaan Anda. Semua orang di industri ini tahu. Wijaya Group sedang sekarat."
"Kabar baik beredar lambat, kabar buruk terbang cepat," sahut Alana tenang.
"Saya akan tawarkan jalan keluar yang elegan." Damar mencondongkan badan. "Adiwangsa Holdings bersedia mengakuisisi enam puluh persen saham Wijaya Group. Kami suntik modal, kami lunasi utang Anda. Anda tetap menjadi direktur—dengan gaji yang sangat baik—dan nama Wijaya tetap terpampang di menara itu. Anda terselamatkan, karyawan Anda terselamatkan. Semua menang."
Tawaran itu, Alana akui, memikat. Dalam semalam, semua masalahnya akan lenyap. Utang lunas. Tidur nyenyak.
Tetapi ia tahu satu hal: tidak ada yang gratis di dunia ini, dan orang sekaya Damar tidak menawarkan keselamatan tanpa harga.
"Enam puluh persen," ulang Alana. "Itu artinya kendali penuh ada di tangan Bapak. Nama Wijaya tetap di menara, tapi perusahaan Wijaya tidak lagi milik Wijaya."
"Itu konsekuensi yang wajar dari sebuah penyelamatan."
"Dan apa rencana Bapak setelah mengambil kendali? Saya membaca laporan Anda mengakuisisi tiga perusahaan kecil dalam dua tahun terakhir. Ketiganya dipecah dan asetnya dijual. Merek-mereknya hilang."
Senyum Damar sedikit memudar. "Anda melakukan pekerjaan rumah Anda."
"Selalu." Alana melipat tangan di atas meja. "Bapak tidak ingin menyelamatkan Wijaya Group. Bapak ingin lahan kami di Sudirman, gudang-gudang logistik kami di pelabuhan, dan lisensi tekstil ekspor kami. Anda akan mengambil tubuhnya, mengeluarkan organ-organ yang berharga, lalu membuang sisanya. Termasuk para karyawan."
Ruangan hening. Damar menatapnya, dan untuk pertama kalinya senyum ramah itu lenyap sepenuhnya, digantikan sesuatu yang lebih jujur—rasa hormat seorang pemburu kepada pemburu lain.
"Anda berbeda dari yang saya kira," katanya pelan. "Saya pikir saya akan berhadapan dengan gadis yang ketakutan."
"Banyak orang berpikir begitu. Itu kesalahan mereka." Alana berdiri. "Terima kasih atas makan malamnya, Pak Damar. Jawaban saya tidak. Wijaya Group tidak dijual."
"Anda yakin?" Damar tetap duduk, memutar gelas anggurnya. "Saya akan jujur, Nona Wijaya. Saya menawarkan ini dengan baik-baik hari ini. Tapi saya bukan satu-satunya orang yang menginginkan perusahaan Anda. Dan tidak semua orang akan menawarkannya dengan jamuan makan malam dan anggur mahal."
Alana berhenti di ambang pintu.
"Apa maksud Bapak?"
Damar tersenyum lagi, kali ini dingin. "Maksud saya, ada orang di dalam rumah Anda sendiri yang sudah menjual kuncinya. Anda mungkin menolak saya hari ini. Tapi pertanyaannya bukan apakah Wijaya Group akan jatuh ke tangan orang lain. Pertanyaannya adalah ke tangan siapa, dan apakah orang itu akan sebaik saya."
Ia mengangkat gelasnya, seperti memberi hormat.
"Selamat malam, Nona Wijaya. Hati-hati di jalan. Dan hati-hati di kantor Anda sendiri."
Alana keluar dari restoran itu dengan kepala tegak, tetapi pikirannya berputar.
Ada orang di dalam rumah Anda sendiri yang sudah menjual kuncinya.
PT Sentra Abadi. Delapan belas persen. Pemilik yang selalu tersembunyi di balik kuasa hukum.
Dan ayahnya yang menelepon dengan marah seminggu sebelum mati: Kau tidak akan mendapatkan perusahaan ini selama aku masih bernapas.
Potongan-potongan itu mulai membentuk gambar yang menakutkan.