Alana memutuskan ia harus tahu siapa pemilik PT Sentra Abadi.
Selama tiga hari, ia dan Sekar menelusuri lapisan demi lapisan kepemilikan. PT Sentra Abadi dimiliki oleh sebuah perusahaan investasi yang dimiliki oleh perusahaan cangkang lain, yang akhirnya bermuara pada sebuah entitas di Singapura. Setiap lapisan dirancang untuk menyembunyikan satu nama di puncaknya.
"Ini bukan struktur biasa," kata Alana, menatap diagram yang ia gambar di papan tulis kantornya. "Ini struktur yang dibuat oleh orang yang sangat tidak ingin diketahui. Orang yang punya uang dan punya pengacara mahal."
"Bagaimana kita bisa menembusnya, Bu?" tanya Sekar.
Alana memikirkannya. Jalur dokumen buntu. Tetapi setiap perusahaan, sekalipun cangkang, harus melapor kepada seseorang. Dan harus diwakili oleh seseorang dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
"Siapa kuasa hukum yang selalu mewakili Sentra Abadi di rapat?"
Sekar membuka catatannya. "Namanya Pengacara Bonar Situmorang. Dari kantor hukum Situmorang & Rekan."
Alana menelusuri nama itu. Bonar Situmorang adalah pengacara korporat papan atas, terkenal mahal dan tertutup. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatian Alana: dalam sebuah artikel lama, Situmorang & Rekan disebut sebagai penasihat hukum tetap untuk... Adiwangsa Holdings.
Damar.
Alana menyandarkan diri ke kursi. Apakah PT Sentra Abadi adalah Damar yang menyamar? Apakah Damar sudah memiliki delapan belas persen saham Wijaya Group dari dalam, sambil menawarkan akuisisi dari luar?
Itu masuk akal. Itu strategi yang cerdas dan kejam—mengepung dari dalam dan dari luar sekaligus.
Tetapi Alana sudah terlalu lama berkecimpung di dunia ini untuk langsung percaya pada kesimpulan pertama. Banyak pengacara papan atas melayani banyak klien. Kesamaan pengacara bukan bukti.
"Sekar, ada satu cara untuk memancing keluar pemilik sebenarnya." Alana berdiri. "Setiap pemegang saham punya hak untuk hadir dan memberi suara di RUPS. Saya akan mengadakan RUPS Luar Biasa."
Sekar mengernyit. "RUPS Luar Biasa? Untuk apa, Bu? Bukankah itu justru memberi kesempatan musuh-musuh Ibu untuk berkumpul dan—"
"Untuk menggulingkan saya. Ya." Alana tersenyum tipis. "Tapi RUPS juga memaksa setiap pemegang saham menunjukkan posisinya. Hitam di atas putih. Saya akan mengajukan agenda yang harus mereka pilih: setuju atau tidak. Dan saat mereka memilih, saya akan tahu persis siapa berdiri di pihak siapa."
"Tapi risikonya, Bu—"
"Risiko terbesar dalam permainan ini bukan kalah, Sekar. Tapi tidak tahu siapa lawanmu. Aku tidak bisa bertarung melawan bayangan. Aku harus memaksa mereka keluar ke cahaya."
Alana menatap diagram di papan tulis—jaring laba-laba kepemilikan yang dirancang untuk menyembunyikan satu wajah.
"Agenda RUPS akan sederhana," lanjutnya. "Pengesahan rencana penyelamatan dan pemberian wewenang khusus kepada direktur utama untuk menjalankan restrukturisasi. Bagi yang mendukung perusahaan, ini wajar disetujui. Bagi yang ingin perusahaan ini jatuh agar bisa diambil murah—mereka akan menolak. Dan penolakan mereka akan menjadi pengakuan."
Sekar memandangnya dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran. "Ibu mempertaruhkan kursi Ibu hanya untuk melihat wajah musuh?"
"Bukan hanya untuk melihat wajah mereka." Alana menutup spidol. "Tapi karena begitu mereka keluar ke cahaya, aku punya alasan sah untuk menyelidiki mereka. Selama mereka bersembunyi sebagai 'pemegang saham minoritas yang netral', tanganku terikat. Begitu mereka menyerangku secara terbuka di RUPS, aturannya berubah."
Ia menatap ke luar jendela, ke arah salah satu menara di kejauhan—menara Adiwangsa Holdings, berkilau di bawah matahari.
"Ayah," gumamnya pelan, "siapa yang kau lawan di hari-hari terakhirmu? Siapa yang membuatmu begitu takut sampai kau sembunyikan semuanya dariku?"
Tidak ada jawaban kecuali deru samar lalu lintas dua puluh enam lantai di bawah.
Tetapi Alana bersumpah pada dirinya sendiri: ia akan menemukan jawaban itu. Bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan.
Tetapi untuk ayahnya.