Nama di balik tip-ex itu adalah Bonar Situmorang.
Reza menunjukkan citra spektralnya di layar—tanda tangan yang tertekan ke serat kertas tiga puluh tahun lalu, dipulihkan piksel demi piksel. Tidak ada keraguan. Bonar Situmorang adalah pihak ketiga yang menandatangani pemindahan dana tahun sembilan puluh delapan. Bonar Situmorang yang menyusun dokumen agar Surya menanggung seluruh tuduhan. Dan tangan yang membubuhkan tip-ex di atas namanya, menurut catatan kearsipan, adalah staf keuangan muda yang ditugasi merapikan berkas itu—Hendra Salim.
Sekarang, dua hari kemudian, Alana memanggil Hendra ke ruang rapat kecil di lantai dua puluh enam. Hanya mereka berdua. Tidak ada notulen, tidak ada saksi. Pintu tertutup rapat.
Hendra masuk dengan tenang seperti biasa, setelan necis, jam tangan mahal. Tapi Alana melihat kewaspadaan di matanya. Ia tahu sesuatu sedang berubah.
"Nona Alana," kata Hendra, duduk tanpa diminta. "Pertemuan empat mata. Tidak seperti biasanya."
Alana tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, dan ia meletakkan dua berkas di hadapan Hendra.
Berkas pertama: kontrak sewa gudang PT Bahari Logistik Nusantara. Rp4 miliar sebulan, tiga kali harga pasar, ditandatangani Hendra, komisarisnya adiknya sendiri, Wirawan Salim.
Berkas kedua: salinan dokumen otorisasi pemindahan dana tahun sembilan puluh delapan, dengan citra spektral di sebelahnya, nama Bonar Situmorang terbaca jelas di bawah penghapusan.
Hendra memandang kedua berkas itu. Wajahnya tidak berubah, tapi Alana melihat tangannya, yang tadi santai di pangkuan, kini diam membeku.
Ia mengambil berkas kedua—dokumen tahun sembilan puluh delapan—dan menatapnya lama. Citra spektral di sebelahnya menunjukkan nama Bonar, dipulihkan dari balik tip-ex yang Hendra sendiri bubuhkan tiga dekade lalu, saat ia masih staf muda yang disuruh "merapikan" berkas itu. Untuk sesaat, Alana melihat sesuatu melintas di wajah lelaki itu yang bukan ketakutan, bukan amarah. Sesuatu yang lebih tua. Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menyeret sebuah rahasia.
"Anda tahu," kata Hendra akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar, "saya pikir kertas ini sudah hancur puluhan tahun lalu. Ayah Anda bilang dia membakarnya." Ia mengeluarkan tawa kecil yang getir. "Ternyata dia menyimpannya. Selama ini. Sebagai apa? Asuransi? Atau bukti untuk hari nuraninya sendiri tidak tahan lagi?"
"Tiga puluh tahun, Pak Hendra," kata Alana pelan. "Tiga puluh tahun Anda diam menyimpan nama orang yang sebenarnya mengambil dana itu. Anda yang menutupinya dengan tip-ex, atas suruhan ayah saya. Surya Danuatmaja diusir, dihancurkan reputasinya, kehilangan segalanya—untuk dana yang diambil Bonar. Dan ketika Surya kembali untuk membalas dendam, dia justru menyewa Bonar—pengacara yang dulu menjebaknya—tanpa pernah tahu kebenarannya. Anda tahu, dan Anda membiarkan dendam itu menyala ke arah yang salah, sambil menggunakannya untuk kepentingan Anda sendiri."
Hendra diam.
"Dan sekarang," lanjut Alana, "Anda mencuri lagi dengan tangan Anda sendiri. Mark-up vendor lewat adik Anda. Pola yang sama dari orang yang sama." Ia mencondongkan tubuh, kedua telapak tangan di meja. "Audit forensik kami sudah mendokumentasikan aliran dana PT Bahari. Bukti penggelapan sekarang ini sudah cukup untuk menjerat Anda secara pidana. Dan dokumen tahun sembilan puluh delapan membuktikan Anda menyembunyikan kejahatan jauh lebih besar selama tiga puluh tahun. Pengadilan akan melihat seseorang yang seumur hidup memilih diam demi keselamatannya sendiri."
Akhirnya, Hendra bicara. Suaranya rendah, hampir berbisik. "Apa yang Anda inginkan, Nona?"
"Saya ingin memberi Anda pilihan." Alana berdiri tegak. "Pilihan pertama: saya serahkan semua bukti ini ke penegak hukum. Mark-up PT Bahari, dan keterlibatan Anda menutupi penjebakan tahun sembilan puluh delapan. Anda jatuh sendirian. Karena—dan ini bagian yang menarik, Pak Hendra—begitu Surya tahu bahwa Bonar-lah yang sebenarnya menjebaknya tiga puluh tahun lalu, dan Anda yang menyimpan buktinya tanpa pernah bicara, dia tidak akan melindungi Anda. Dia akan menghancurkan Anda dengan tangannya sendiri. Anda kehilangan kedua pelindung sekaligus."
Kulit Hendra memucat. Itu poin yang menusuk tepat di jantungnya.
"Dan pilihan kedua?" tanyanya, suaranya retak.
"Pilihan kedua: Anda bekerja sama. Anda serahkan semua yang Anda tahu tentang Surya Danuatmaja dan tentang Bonar Situmorang. Aliran dana Sentra Abadi, struktur kepemilikannya, dokumen 1998 yang Anda simpan, peran mereka dalam kematian ayah saya. Anda bersaksi. Dan sebagai imbalannya, saya akan memastikan kerja sama Anda diperhitungkan—keringanan, perlindungan dari Surya, dan kesempatan untuk tidak mati sebagai musuh dari semua pihak." Alana menatapnya dingin. "Anda mengkhianati ayah saya selama puluhan tahun, Pak Hendra. Saya tidak menawarkan ini karena belas kasihan. Saya menawarkan karena Anda lebih berguna sebagai saksi daripada sebagai mayat di pengadilan. Pikirkan baik-baik. Anda punya waktu sampai besok pagi."