Sekar tidak menyukainya. Itu jelas dari caranya berdiri di ambang pintu kantor Alana keesokan paginya, lengan terlipat, alis berkerut.
"Bu, dengan segala hormat, beraliansi dengan Damar Adiwangsa itu seperti memelihara harimau untuk mengusir serigala." Sekar meletakkan secangkir kopi di meja Alana lebih keras dari biasanya. "Begitu serigala mati, harimaunya akan menatap Anda."
Alana menyandarkan punggung di kursinya. "Aku tahu."
"Anda tahu?"
"Tentu aku tahu, Sekar." Alana mengangkat cangkir kopinya. "Damar tidak membantuku karena baik hati. Dia membantuku karena dia menghitung bahwa Wijaya yang merdeka tapi melemah lebih menguntungkan baginya daripada Wijaya yang dimakan Surya. Begitu Surya jatuh, perhitungan Damar berubah. Saat itu, joint venture properti bisa jadi jalan masuknya untuk perlahan-lahan mengambil alih dari dalam. Pelan, sah, sopan. Jauh lebih berbahaya daripada akuisisi paksa."
Sekar menatapnya. "Lalu kenapa Anda lakukan?"
Alana meletakkan cangkirnya. "Karena saat ini, Surya adalah ancaman yang bisa membunuhku besok. Damar ancaman yang mungkin membahayakanku tahun depan. Aku tidak punya kemewahan memilih musuh yang sopan." Ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap garis langit Jakarta. "Aku selamat dari hari ini dulu. Soal Damar, aku urus saat waktunya tiba. Dan aku tidak akan masuk ke kemitraan ini tanpa pengaman."
"Pengaman apa?"
Alana berbalik. "Perjanjian joint venture itu akan kususun dengan klausul yang membuat Adiwangsa tidak bisa mengakuisisi saham Wijaya selama lima tahun. Klausul anti-pengambilalihan. Hak veto Wijaya atas keputusan strategis di proyek bersama. Dan—" ia tersenyum tipis, "—pengacaranya bukan Bonar Situmorang. Aku tidak akan mempercayakan kontrak ini pada orang yang juga bekerja untuk Surya. Aku sudah menyewa firma hukum sendiri. Bersih, independen, dari Surabaya. Tidak ada hubungannya dengan siapa pun di lingkaran ini."
Sekar tampak sedikit lega, tapi belum sepenuhnya. "Dan kalau Damar berbalik? Kalau di tengah jalan dia memutuskan bersekutu dengan Surya melawan Anda?"
"Maka aku akan tahu lebih dulu." Alana mengembalikan tatapannya ke jendela. "Karena kemitraan ini memberiku sesuatu yang tidak kupunya sebelumnya: akses ke dalam organisasi Damar. Pertukaran informasi berjalan dua arah, Sekar. Aku mengawasinya seperti dia mengawasiku. Pisau ini bermata dua. Dan aku berniat memegang gagangnya, bukan bilahnya."
Sekar diam sejenak, lalu menarik kursi dan duduk—sesuatu yang jarang ia lakukan tanpa diminta. "Bu, boleh saya bicara bukan sebagai asisten?"
Alana berbalik dari jendela. "Selalu."
"Saya melayani ayah Anda selama bertahun-tahun. Saya melihat bagaimana dia membuat aliansi. Damar, Surya dulu, banyak orang." Sekar menatap cangkir di tangannya. "Setiap kali dia berpikir dia memegang gagang pisaunya. Dan setiap kali, satu per satu orang itu berbalik. Sampai akhirnya dia sendirian, dengan perusahaan besar dan tidak ada satu pun yang benar-benar bisa dia percaya." Ia mengangkat pandangan. "Saya tidak ingin Anda berakhir seperti itu, Bu. Menang, tapi sendirian."
Sesuatu melembut di wajah Alana. Ia berjalan kembali ke meja dan duduk di seberang asistennya. "Ayahku percaya pada perhitungan, bukan pada orang. Itu kekuatannya. Juga kesepiannya." Ia menatap Sekar. "Aku tidak berniat mengulangi itu. Damar aku awasi. Tapi kau—kau bukan aliansi, Sekar. Kau bukan perhitungan. Dan itu bedanya."
Sekar menunduk, menyembunyikan sesuatu di matanya, lalu mengangguk.
Ponsel Alana bergetar. Pesan dari Reza.
Forensik dokumen selesai lebih cepat. Nama ketiga di balik tip-ex sudah terbaca. Bu Alana perlu lihat ini sendiri. Bukan di telepon.
Alana menatap layar, jantungnya berpacu. Nama orang yang sebenarnya mengambil dana tahun sembilan puluh delapan. Orang yang membiarkan Surya dijebak. Orang yang masih berputar di sekitar perusahaan sampai hari ini.
"Sekar," katanya, suaranya pelan. "Batalkan semua agendaku siang ini. Aku harus menemui Reza."
Sekar mengangguk, tapi sebelum ia keluar, Alana menambahkan satu hal lagi, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk asistennya.
"Dan siapkan ruang rapat. Setelah aku tahu namanya, ada satu orang yang harus aku ajak bicara empat mata. Sebelum dia tahu bahwa aku tahu."