Damar Adiwangsa memilih tempat pertemuan—sebuah ruang makan privat di lantai atas sebuah hotel di kawasan Thamrin, jauh dari mata wartawan dan telinga pemegang saham. Ketika Alana masuk, Damar sudah menunggu, mengenakan setelan abu-abu tanpa dasi, tampak lebih santai dari pertemuan pertama mereka di restoran sunyi berbulan-bulan lalu.
"Anda terlihat lelah, Nona Wijaya," kata Damar, menuangkan air untuk Alana. "Tapi juga lebih tajam. Tekanan mengasah orang. Atau menghancurkan mereka."
"Saya belum hancur," kata Alana, duduk. "Dan saya tidak datang untuk basa-basi. Pak Damar, dulu Anda menawari saya akuisisi enam puluh persen. Saya tolak. Anda memberi saya peringatan tentang pengkhianat di dalam rumah saya sendiri. Anda benar."
Damar mengangkat alisnya, tertarik. "Lalu?"
"Lalu saya tahu sekarang siapa pengkhianatnya. Hendra Salim. Dan saya tahu siapa otak di belakangnya. Surya Danuatmaja." Alana mengamati wajah Damar mencari reaksi. "Tapi yang menarik buat saya, Pak Damar, adalah bahwa pengacara Anda—Bonar Situmorang—juga pengacara Sentra Abadi. Surya. Jadi izinkan saya bertanya langsung. Apakah Anda bekerja untuk Surya, atau melawannya?"
Damar tertawa, tawa pendek tanpa kegembiraan. Ia meletakkan gelasnya. "Pertanyaan yang bagus. Jawaban jujurnya: tidak keduanya. Surya dan saya menggunakan pengacara yang sama karena Bonar yang terbaik di kota ini untuk pekerjaan kotor yang legal. Itu saja. Kami bukan sekutu." Ia mencondongkan tubuh. "Tapi saya akan jujur lebih jauh, Nona. Saya tidak menyukai Surya. Dia bukan orang bisnis. Dia orang dendam yang kebetulan punya uang. Dan orang dendam adalah mitra yang berbahaya. Mereka membuat keputusan dengan hati, bukan kepala. Cepat atau lambat, mereka membakar semua orang di sekitarnya."
"Termasuk Anda?"
"Termasuk siapa pun yang berdiri terlalu dekat ketika dia jatuh." Damar menatapnya. "Dan dia akan jatuh, Nona. Mungkin tidak sekarang. Tapi orang yang membangun seluruh hidupnya di atas satu kebencian, akhirnya selalu kehilangan kendali."
Alana mengeluarkan map tipis dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Saya punya tawaran, Pak Damar."
Damar memandang map itu, tidak menyentuhnya. "Saya mendengarkan."
"Surya ingin menghancurkan Wijaya Group dan mengambilnya potong demi potong. Anda ingin aset Wijaya—lahan Sudirman, gudang pelabuhan, lisensi tekstil ekspor. Kita berdua tahu itu." Alana menyatukan jemarinya. "Saya tidak akan menjual perusahaan saya. Tidak ke Anda, tidak ke siapa pun. Tapi saya bersedia menawarkan kemitraan. Joint venture di sektor properti. Adiwangsa dan Wijaya membangun bersama proyek Sudirman, bagi hasil. Anda dapat akses ke aset yang Anda inginkan—secara sah, sebagai mitra, bukan sebagai pemangsa. Dan sebagai imbalannya, Anda membantu saya menjatuhkan Surya."
Damar diam lama. Ia memandang map, lalu Alana, lalu kembali ke map.
"Membantu bagaimana?"
"Surya mengumpulkan saham. Anda punya modal dan jaringan yang jauh lebih besar dari saya. Jika Anda membeli saham mengambang di pasar sebelum Surya, dan memberikan suara di pihak saya di RUPS berikutnya, blok suaranya runtuh." Alana menatapnya tajam. "Dan saya akan beri Anda sesuatu yang jauh lebih berharga dari saham. Saya akan beri Anda Surya yang lemah. Surya yang kehilangan Wijaya, kehilangan dendamnya, kehilangan segalanya. Setelah dia jatuh, pasar properti Jakarta jadi milik orang yang masih berdiri. Anda."
Untuk pertama kalinya, sesuatu berkilat di mata Damar. Bukan keserakahan. Perhitungan. Seorang pemain catur yang baru saja melihat tiga langkah ke depan.
"Anda menawarkan saya posisi," kata Damar perlahan. "Bukan kemenangan. Itu cerdas. Kemenangan membuat orang lengah. Posisi membuat mereka tetap waspada." Ia menyandarkan punggung. "Tapi izinkan saya jujur kembali, Nona. Apa yang menghentikan saya menerima tawaran Anda, menjatuhkan Surya, lalu setelah dia jatuh, mengambil Wijaya juga? Anda lemah sekarang. Setelah perang ini, Anda akan lebih lemah lagi."
"Tidak ada yang menghentikan Anda," jawab Alana tanpa berkedip. "Kecuali perhitungan Anda sendiri. Wijaya yang merdeka dan jadi mitra Anda menghasilkan uang untuk Anda setiap tahun, tanpa risiko, tanpa skandal, tanpa OJK mengendus pengambilalihan paksa. Wijaya yang Anda makan paksa membuat Anda jadi target berikutnya bagi setiap konglomerat yang melihat Anda sebagai pemangsa. Termasuk regulator." Ia mencondongkan tubuh. "Saya tidak meminta Anda baik hati, Pak Damar. Saya meminta Anda serakah dengan cara yang lebih pintar. Mitra yang hidup lebih menguntungkan daripada mangsa yang mati sekali."
Damar menatapnya cukup lama. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Ia mengambil map itu, membukanya, dan mulai membaca. "Nona Wijaya," katanya tanpa mengangkat pandangan, "ayah Anda meremehkan Anda. Itu kesalahannya yang fatal." Ia tersenyum tipis. "Saya tidak akan mengulanginya."