Kotak arsip itu berat, kotak besi tua yang catnya sudah berkarat di sudut-sudutnya. Alana membawanya pulang ke apartemennya di Jakarta dan menghabiskan sepanjang malam membuka isinya, satu dokumen demi satu, di lantai ruang tamu yang berserakan kertas.
Catatan pemindahan dana tahun sembilan puluh delapan. Salinan transfer antarbank yang sudah menguning. Memo internal dengan ketikan mesin tik. Dan di antara semuanya, satu berkas yang membuat tangan Alana berhenti bergerak: daftar otorisasi transfer dana ke luar negeri.
Tiga tanda tangan diperlukan untuk setiap pemindahan. Bramantyo Wijaya. Surya Danuatmaja. Dan satu nama ketiga.
Tapi nama ketiga itu dihapus.
Bukan dicoret. Dihapus—dengan tip-ex, dengan teliti, di setiap dokumen, sehingga yang tersisa hanya tanda tangan tanpa nama. Seseorang telah berusaha keras membuat nama ketiga itu lenyap dari catatan, sehingga yang tertinggal di permukaan hanya dua nama: Bramantyo dan Surya. Dan ketika dana hilang, hanya ada satu yang bisa disalahkan.
Alana mengangkat satu lembar ke arah lampu. Di balik tip-ex, samar-samar, masih ada bekas tekanan pena. Goresan tanda tangan yang tertinggal di serat kertas. Cairan koreksi itu menutupi tinta, tapi tidak bisa menghapus alur yang ditekan pena ke dalam kertas tiga puluh tahun lalu. Bayangan sebuah nama, terkubur tapi tidak musnah.
Ia mengamati huruf pertamanya, samar di balik lapisan putih yang sudah retak dimakan usia. Sebuah lengkung. Mungkin B. Mungkin bukan. Ia menahan diri menebak. Tebakan adalah racun dalam pekerjaan seperti ini; tebakan yang salah membunuh orang yang tepat dan menyelamatkan orang yang bersalah.
Ia memotret setiap lembar dan mengirimkannya ke Reza dengan satu pesan. Bisa kau pulihkan nama di balik penghapusan ini? Forensik dokumen.
Balasan Reza datang menjelang subuh. Bisa. Kirim dokumen aslinya. Ada teknik pencitraan spektral yang bisa membaca tekanan pena di bawah tip-ex. Butuh dua hari.
Alana menyandarkan punggung ke sofa, kelelahan menyergap, tapi pikirannya berputar terlalu cepat untuk tidur. Nama ketiga. Orang yang sebenarnya mengambil dana itu. Orang yang membiarkan Surya menanggung seluruh tuduhan. Orang yang—menurut Pakde Wira—masih ada di perusahaan sampai sekarang.
Daftar tersangka di kepalanya pendek. Siapa yang sudah mengurus dokumen Wijaya Group sejak tahun sembilan puluh delapan, cukup dipercaya untuk menyiapkan dan menandatangani instruksi pemindahan dana atas nama perusahaan?
Hanya satu nama yang muncul dengan jelas.
Bonar Situmorang.
Tahun sembilan puluh delapan, Bonar adalah pengacara muda yang sudah dipercaya penuh menangani perjanjian-perjanjian besar perusahaan. Cukup dekat dengan para pendiri untuk menyiapkan dan menandatangani transfer atas nama Wijaya. Dan jika Bonar yang mengambil dana itu—jika Bonar yang membiarkan Surya dijebak—maka semuanya masuk akal dengan cara yang mengerikan. Tangan yang sama menyusun dokumen yang menghancurkan Surya tiga puluh tahun lalu, lalu menyusun struktur cangkang Sentra Abadi yang menyerang Wijaya sekarang. Pola yang sama, dari tangan yang sama.
Tapi jika begitu, mengapa Surya mempercayakan pembalasannya pada Bonar sekarang? Mengapa orang yang dijebak menyewa orang yang menjebaknya?
Alana memejamkan mata. Ada lapisan yang belum ia pahami. Mungkin Surya tidak tahu Bonar-lah pelakunya. Mungkin Surya mengira Bramantyo yang menjebaknya—dan itulah sumber dendamnya, dendam yang salah arah selama tiga puluh tahun. Mungkin Bonar membiarkan kesalahpahaman itu hidup, menggunakan dendam Surya sebagai senjata, sambil menyembunyikan bahwa dialah penyebab segalanya.
Jika benar, maka pembalasan Surya berdiri di atas kebohongan yang dirancang pengacaranya sendiri. Dan kebohongan adalah retakan. Retakan bisa diperlebar.
Alana membuka mata. Di luar jendela, langit Jakarta mulai membiru di ufuk timur. Ia meraih ponselnya dan menelepon nomor yang sudah berminggu-minggu ia simpan tanpa berani memutarnya.
"Halo," sebuah suara berat menjawab di seberang. "Saya tidak menyangka akan menerima telepon dari Anda, Nona Wijaya."
"Pak Damar," kata Alana. "Saya rasa sudah waktunya kita bicara. Tanpa pengacara. Tanpa permainan. Hanya Anda dan saya."