Rumah Pakde Wira tampak lebih tua dari kunjungan pertama Alana, atau mungkin Alana yang melihatnya dengan mata berbeda sekarang. Cat hijau dindingnya mengelupas. Pohon mangga di halaman menggugurkan daun-daun cokelat ke teras semen yang retak.
Wirasena Wijaya duduk di kursi rotan, selimut tipis menutupi kakinya meski udara Bogor hangat. Ia tampak lebih kurus. Tapi matanya, ketika menatap Alana, masih tajam.
"Kau datang lagi," katanya. "Berarti kau sudah tahu sesuatu yang membuatmu tidak bisa tidur."
Alana duduk di kursi seberangnya. Ia tidak membuang waktu. "Pakde, ayah dibunuh. Diberi obat jantung yang tidak ia butuhkan, oleh perawat yang ditanam di rumahnya. Aku punya buktinya. Dan semua jejaknya mengarah ke Surya Danuatmaja."
Wajah tua itu tidak berubah. Tapi tangannya, yang tadi tenang di pangkuan, mencengkeram tepi selimut.
"Aku takut akan hal ini," bisik Pakde Wira.
"Pakde tahu sesuatu yang Pakde sembunyikan dariku waktu itu." Alana menatapnya tanpa berkedip. "Saat kunjungan pertama, Pakde bilang tidak tahu siapa yang benar di tahun sembilan puluh delapan. Tapi Pakde tahu lebih banyak. Aku bisa melihatnya. Sekarang ayah sudah mati, dan aku yang diburu. Aku berhak tahu segalanya."
Lelaki tua itu menghela napas panjang, napas yang seolah ditahannya selama tiga puluh tahun. Ia menatap pohon mangga, ke masa lalu.
"Surya tidak menggelapkan dana itu," kata Pakde Wira akhirnya.
Alana membeku. "Apa?"
"Dana perusahaan yang hilang tahun sembilan puluh delapan. Ratusan miliar dalam nilai sekarang. Tuduhan yang menghancurkan Surya, yang membuatnya diusir." Pakde Wira menutup matanya. "Bukan dia yang mengambilnya. Ayahmu tahu itu."
Ruangan terasa berputar. "Pakde bilang apa?"
"Saat krisis, perusahaan kami nyaris bangkrut. Ada dana yang harus dipindahkan ke luar negeri untuk diselamatkan dari penyitaan bank. Surya yang mengurus pemindahan itu—dia yang paling paham keuangan dari kami bertiga. Tapi ketika dana itu hilang dari catatan, Bramantyo dan beberapa orang dalam menuduhnya mencuri." Pakde Wira membuka matanya, dan ada air di sana. "Surya bersumpah dia dijebak. Bahwa dana itu diambil orang lain, dan dia hanya kambing hitam yang sempurna. Tidak ada yang percaya. Aku pun ragu. Reputasinya hancur. Dia diusir, sahamnya dibeli murah."
"Lalu siapa yang sebenarnya mengambil dana itu?"
Pakde Wira menuangkan teh dari teko tanah liat dengan tangan gemetar, lebih untuk menunda jawaban daripada karena haus. Uap tipis mengepul di antara mereka.
"Kau harus mengerti suasana tahun itu, Nak," katanya. "Semua orang panik. Rupiah jatuh dari dua ribu ke enam belas ribu dalam hitungan bulan. Bank-bank tutup. Orang-orang menarik uang dari mana saja, kapan saja. Dalam kekacauan seperti itu, sangat mudah memindahkan dana dan menyalahkan orang lain. Tidak ada sistem yang bisa melacak. Catatan dibuat dengan tangan, disimpan di laci, mudah hilang." Ia menyeruput tehnya. "Surya dijadikan tumbal yang sempurna karena dialah yang memegang kunci pemindahan. Tinggal dihapus satu nama, dan semua jari menunjuk ke arahnya."
"Dihapus satu nama?" Alana mencondongkan tubuh.
Pakde Wira terdiam lama. Terlalu lama.
"Itu yang aku tidak pernah berani cari tahu," katanya akhirnya. "Karena setiap kali aku mendekati jawabannya, semua petunjuk mengarah ke seseorang yang sangat dekat dengan kami. Seseorang yang ayahmu lindungi. Seseorang yang masih ada di perusahaan sampai sekarang."
Alana mencondongkan tubuh, jantungnya berdebar keras. "Siapa, Pakde?"
Tapi Wirasena Wijaya menggeleng, dan tangannya gemetar. "Aku tidak akan menyebut nama yang tidak bisa kubuktikan. Itu kesalahan yang merenggut Surya. Aku tidak akan mengulanginya padamu." Ia meraih tangan Alana, genggamannya rapuh. "Tapi aku akan beri kau ini: ayahmu menyesal. Di tahun-tahun terakhirnya, dia tahu dia telah menghukum orang yang salah. Atau setidaknya, orang yang tidak sepenuhnya bersalah. Itu yang menghantuinya."
Alana menarik napas dalam. "Pakde, ada arsip lama. Dokumen tahun sembilan puluh delapan. Catatan pemindahan dana. Apakah masih ada?"
Pakde Wira menatapnya, dan untuk pertama kali, senyum tipis muncul di wajah keriputnya. "Ada satu set. Bramantyo menitipkannya padaku sebelum dia meninggal. Katanya, jika sesuatu terjadi padanya, berikan pada Alana. Tapi hanya jika kau datang mencarinya sendiri." Ia mengangguk ke arah lemari tua di sudut ruangan. "Kau datang. Jadi kau berhak."