Reza datang dari Singapura dengan penerbangan pagi. Teknisi kontra-surveilans itu mengenakan kemeja polo biasa dan ransel yang tampak seperti milik pelancong, tapi di dalamnya ada peralatan yang harganya melebihi mobil mewah.
"Garda Prima," kata Reza sambil menyalakan laptopnya di meja sudut sebuah kafe yang sengaja Alana pilih—ramai, berisik, mustahil disadap. "Saya sudah menggali sejak Bu Alana telepon. Perusahaan keamanan swasta, izin resmi, kantor di Cawang. Di permukaan mereka jasa pengawalan dan pemasangan CCTV biasa. Tapi mereka punya unit khusus. Pengawasan elektronik, penyadapan, pekerjaan kotor."
"Dan mereka yang memasang alat di kantorku."
"Betul. Empat alat, model tahun lalu, sudah saya cabut datanya." Reza memutar laptop. "Yang menarik bukan alatnya. Tapi siapa yang membayar. Saya berhasil masuk ke sistem penagihan mereka—jangan tanya bagaimana—dan menemukan ini."
Layar menampilkan tabel pembayaran. Alana mencondongkan tubuh.
"Klien tetap," Reza menunjuk satu baris. "Pembayaran bulanan, transfer dari rekening PT Sentra Abadi. Sudah kita tahu. Tapi lihat ke bawah." Jarinya bergeser. "Ada kontrak terpisah. Bukan untuk Menara Wijaya. Untuk alamat residensial. Pondok Indah."
Darah Alana berdesir. "Itu rumah ayahku."
"Iya. Dan kontraknya bukan pengawasan elektronik." Reza menatapnya dengan hati-hati. "Ini jasa penempatan personel. Garda Prima tidak cuma memasang alat di rumah ayah Bu Alana. Mereka menyediakan orang. Tenaga yang ditempatkan di dalam rumah dengan kedok pekerjaan tertentu."
Perawat itu. Alana menahan napas. "Aku perlu nama orang itu."
Reza mengetik. "Sistem mereka menyebutnya hanya dengan kode personel. Tapi ada nomor rekening tujuan pembayaran honor. Atas nama—" ia memicingkan mata, "—Yanti Mariani."
Alana mengeluarkan ponselnya, mengirim nama itu ke Sekar dalam satu pesan singkat. Cocokkan dengan nama perawat.
Balasan Sekar datang dalam dua menit. Cocok, Bu. Yanti Mariani. Perawat panggilan yang datang ke rumah Bapak.
Pesan kedua menyusul. Tapi ada masalah. Alamat di KTP yang dia berikan ke agensi palsu. Saya kirim orang mengecek tadi siang. Itu kios fotokopi di Tangerang. Tidak ada yang kenal nama itu. Dia sudah menguap, Bu.
Alana menatap layar. Tentu saja. Mereka tidak akan membiarkan satu-satunya tangan yang menyentuh obat itu tetap bisa ditemukan. Perempuan itu mungkin bukan perawat sungguhan, mungkin namanya bahkan bukan Yanti Mariani. Sekadar alat. Sekarang sudah dibuang seperti sarung tangan bekas pakai.
Alana meletakkan ponselnya menelungkup di meja. Tangannya stabil sekarang, terlalu stabil, seperti permukaan air sebelum badai.
"Reza," katanya. "Aku perlu lebih dari ini. Aku perlu bukti bahwa Garda Prima menerima perintah dari Sentra Abadi untuk menempatkan perawat itu. Rantai perintahnya. Email, pesan, apa pun yang menghubungkan Surya Danuatmaja dengan rumah ayahku."
Reza menyandarkan punggung. "Bu, saya bisa masuk ke sistem mereka. Tapi yang Bu Alana minta ini sudah bukan soal keamanan korporat lagi. Ini bukti kejahatan. Pembunuhan. Kalau kita pakai cara saya, semua bukti ini tidak bisa dipakai di pengadilan. Ilegal."
"Aku tahu." Alana memandang keluar jendela kafe, ke arus mobil yang merayap di jalan. "Aku tidak butuh ini untuk pengadilan. Belum. Aku butuh ini untuk tahu. Untuk yakin aku mengejar orang yang benar, bukan menebak dalam gelap. Pengadilan datang nanti, dengan cara yang sah—setelah aku tahu persis siapa yang harus dijerat dan bagaimana."
Reza menatapnya, lalu mengangguk perlahan. "Saya mengerti. Saya akan gali rantai perintahnya. Tapi satu peringatan, Bu." Ia menutup laptop. "Garda Prima profesional. Begitu mereka tahu sistemnya dibobol, mereka akan menghapus jejak. Dan mereka akan lapor ke klien. Surya akan tahu Bu Alana sedang menggali."
Alana menghabiskan kopinya yang sudah dingin. "Biarkan dia tahu," katanya. "Dia pikir dia memburu aku. Sudah waktunya dia merasakan diburu."
Tapi sebelum ia mengayunkan pukulan apa pun, ia perlu memahami akar dari segalanya. Bukan sekadar siapa membunuh ayahnya—tapi mengapa. Dan jawaban itu, ia tahu, terkubur di Bogor, di rumah tua seorang lelaki yang menyimpan terlalu banyak rahasia.