Alana tidak tidur malam itu. Ia kembali ke rumah keluarga di Pondok Indah—rumah tempat ia dibesarkan, tempat ayahnya menghabiskan malam-malam terakhirnya—dan menuju kamar kerja Bramantyo yang sejak pemakaman ia kunci rapat.
Bau ayahnya masih ada di ruangan itu. Tembakau pipa yang sudah lama tidak dinyalakan, kulit kursi tua, kertas. Alana berdiri di ambang pintu, lalu memaksa kakinya melangkah masuk.
Ia mencari obat-obatan.
Di kamar mandi pribadi ayahnya, di balik cermin, deretan botol berbaris rapi. Suplemen, vitamin, obat tekanan darah yang ia kenal—amlodipin, dosis kecil. Alana memeriksanya satu per satu, membaca label, mencocokkan dengan apa yang dikatakan Dokter Rahmat.
Lalu ia menemukannya.
Di laci paling bawah meja rias, terselip di belakang setumpuk sapu tangan, sebuah kotak obat kecil tanpa label apotek. Di dalamnya, dua strip tablet. Alana mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama yang tercetak di balik kemasan: digoxin, 0,25 miligram. Dosis tinggi, persis seperti yang dikatakan Dokter Rahmat.
Tangannya bergetar ketika ia membalik kotak itu. Tidak ada nama pasien. Tidak ada nama apotek. Tidak ada tanggal. Hanya obat telanjang—seolah seseorang ingin Bramantyo meminumnya tanpa bisa melacak dari mana asalnya.
Alana membuka kotak amlodipin yang asli, yang ia kenal, dan meletakkannya berdampingan dengan kotak tanpa nama itu di atas meja rias. Dua strip tablet putih kecil, nyaris kembar. Ukuran serupa. Warna serupa. Seseorang yang tidak tahu—seorang lelaki tua yang sibuk dengan perusahaannya, yang mempercayai perawat yang menyiapkan obatnya—tidak akan pernah membedakan keduanya. Ditelan setiap pagi bersama kopi, seperti rutinitas yang sudah belasan tahun ia jalani. Pelan-pelan menumpuk di tubuhnya, mengacaukan irama jantung yang sehat, sampai pada suatu sore di ruang kerjanya jantung itu berhenti tanpa peringatan.
Begitu rapi. Begitu sabar.
Alana duduk di tepi tempat tidur ayahnya, kotak itu di telapak tangannya, dan untuk pertama kali sejak pemakaman, ia menangis. Bukan tangis sedih biasa. Ini tangis marah—jenis amarah yang membakar dari dalam.
Mereka tidak hanya merebut perusahaan ayahnya. Mereka membunuhnya. Pelan-pelan, dengan obat yang menyamar sebagai pengobatan, di rumahnya sendiri, di mana ia merasa paling aman.
Ponselnya berdering. Sekar.
"Bu, maaf mengganggu malam-malam," suara Sekar terdengar tegang. "Saya baru memeriksa daftar tamu rumah Bapak dari catatan keamanan kompleks. Tiga bulan terakhir sebelum beliau meninggal. Ada satu nama yang berulang. Seorang perawat panggilan."
Alana menegakkan punggung. "Perawat?"
"Iya. Bapak menyewa perawat rumah untuk membantu mengukur tekanan darah, menyiapkan obat. Katanya saran dari dokter. Datang tiga kali seminggu." Sekar berhenti. "Tapi saya cek ke Dokter Rahmat tadi sore lewat pesan. Beliau bilang tidak pernah menyarankan perawat rumah. Bapak tidak butuh."
Potongan-potongan itu jatuh ke tempatnya satu per satu, membentuk gambar yang membuat Alana mual.
Seseorang menanam perawat di rumah ayahnya. Seseorang yang menyiapkan obatnya. Seseorang yang, tiga kali seminggu, bisa menukar amlodipin dengan digoxin tanpa Bramantyo curiga.
"Sekar, apakah perawat itu masih datang ke rumah setelah Bapak meninggal?"
"Tidak, Bu. Catatan terakhir kedatangannya dua hari sebelum beliau wafat. Setelah itu hilang. Tidak ada lagi. Saya pikir tadinya karena tugasnya selesai. Tapi sekarang—" Sekar tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tapi sekarang artinya berbeda. Perawat itu menghilang persis ketika pekerjaannya tuntas. Ketika jantung yang ia incar akhirnya menyerah.
"Sekar," kata Alana, suaranya rata dan dingin sekarang, amarah sudah mengeras jadi tekad. "Nama perawat itu. Cari semua tentangnya. Alamat, agensi yang menyalurkannya, siapa yang membayarnya. Dan lakukan dengan tenang. Jangan ada yang tahu kita sedang mencari."
"Baik, Bu."
"Satu lagi." Alana menatap kotak obat di tangannya. "Aku perlu kotak ini diperiksa di laboratorium independen. Kandungannya, sidik jari di kemasan, semuanya. Cari laboratorium yang tidak ada hubungannya dengan siapa pun di Jakarta. Bisa kita kirim ke Singapura."
Setelah menutup telepon, Alana memasukkan kotak obat ke dalam kantong plastik bersih, lalu ke dalam tasnya. Ia memandang foto ayahnya di meja kerja—Bramantyo muda, tersenyum di depan menara yang belum jadi.
"Aku akan tahu siapa," bisiknya. "Sampai orang terakhir."
Tapi ia juga tahu, kebenaran ini terlalu besar untuk dibawa sendirian. Ia butuh seseorang yang bisa membongkar rantai perintah—siapa yang menyewa perawat itu, siapa yang membayar resep palsu itu. Dan jalan menuju jawaban itu, sadarnya, melewati satu pintu yang sudah ia kenal: perusahaan keamanan swasta yang telah memasang mata di kantornya. Garda Prima.