Klinik Kardiologi Persada terletak di lantai empat sebuah gedung medis di kawasan Menteng, jauh dari hiruk-pikuk Sudirman tempat Alana menghabiskan hari-harinya. Ia sengaja datang sendiri, tanpa Sekar, tanpa mobil perusahaan. Hanya taksi daring dan jaket abu-abu yang membuatnya tampak seperti pasien biasa.
Di ruang tunggu yang berbau antiseptik dan kopi instan, ia membaca ulang nama di layar ponselnya. Dokter Rahmat Hidayat. Dokter pribadi ayahnya selama hampir lima belas tahun. Nama yang ia temukan dari catatan janji temu di agenda Bramantyo, tertulis tiga bulan sebelum kematiannya.
"Nona Alana?" Seorang perawat memanggil. "Dokter sudah siap."
Dokter Rahmat lelaki paruh baya dengan rambut menipis dan kacamata baca yang melorot di hidungnya. Ia berdiri ketika Alana masuk, menjabat tangannya dengan kehati-hatian seseorang yang tahu sedang berbicara dengan anak orang yang baru saja ia kuburkan.
"Saya turut berduka, Nona," katanya. "Ayah Nona pasien yang baik. Disiplin. Selalu datang tepat waktu."
Alana duduk. "Dokter, saya tidak akan berbasa-basi. Saya ingin tahu kondisi jantung ayah saya. Yang sebenarnya."
Dokter Rahmat melepas kacamatanya. "Boleh saya tanya kenapa?"
"Karena saya mewarisi perusahaannya, dan saya perlu memahami segalanya tentang tiga bulan terakhir hidupnya." Ia menahan diri menyebut kata pembunuhan. Belum waktunya. "Termasuk kesehatannya."
Dokter itu menatapnya lama, lalu memutar layar komputernya. "Pemeriksaan terakhir, sembilan belas Maret. Tiga bulan sebelum beliau wafat." Ia mengklik beberapa kali. "Saya sendiri yang menanganinya. Ekokardiogram, treadmill stress test, profil lipid, semuanya lengkap."
"Dan?"
"Dan jantung ayah Nona," kata Dokter Rahmat pelan, "sehat. Sangat sehat untuk lelaki seumurnya. Fungsi pompa di atas enam puluh persen. Tidak ada penyumbatan signifikan. Tekanan darah terkendali. Saya bahkan bercanda dengan beliau, bilang beliau bisa hidup sampai sembilan puluh tahun kalau tidak terlalu banyak stres."
Sesuatu mendingin di dada Alana. "Jadi serangan jantung mendadak..."
"Selalu mungkin. Plak bisa pecah tiba-tiba. Aritmia bisa datang tanpa peringatan." Dokter Rahmat menggeleng perlahan. "Tapi saya jujur, Nona. Ketika saya dengar kabar beliau meninggal karena serangan jantung di ruang kerjanya, saya terkejut. Sangat terkejut. Secara statistik, itu mungkin. Tapi secara klinis, beliau termasuk pasien dengan risiko paling rendah yang saya tangani."
Alana mencondongkan tubuh. "Apakah ada otopsi?"
"Setahu saya tidak. Surat kematian ditandatangani dokter jaga di rumah sakit tempat jenazah dibawa. Karena ada riwayat sebelumnya—" Dokter Rahmat berhenti. "Tunggu."
"Apa?"
Ia membuka kembali rekam medis. Matanya menyipit di balik layar. "Ini aneh. Di sini ada catatan resep dari klinik lain. Bukan saya yang meresepkan. Tertanggal dua puluh tujuh Mei. Beberapa hari sebelum beliau meninggal."
Jantung Alana berdebar. "Resep apa?"
"Obat jantung. Digoxin dosis tinggi. Dan ada diuretik." Dokter Rahmat mengernyit dalam, seolah membaca sesuatu yang menyakiti matanya. "Nona, saya tidak pernah meresepkan ini untuk ayah Nona. Beliau tidak butuh digoxin. Dia tidak punya gagal jantung, tidak punya aritmia yang memerlukan ini. Memberi digoxin pada jantung sehat—dengan dosis seperti ini—itu berbahaya. Sangat berbahaya."
"Berbahaya bagaimana?"
Dokter itu menatapnya, dan untuk pertama kali Alana melihat ketakutan di matanya. "Overdosis digoxin bisa memicu gangguan irama jantung yang fatal. Pada orang yang tidak membutuhkannya, itu bisa membunuh. Dan—" ia menelan ludah, "—pada otopsi standar, sangat sulit dibedakan dari serangan jantung biasa, kecuali ada yang sengaja memeriksa kadar obat dalam darah."
Ruangan terasa menyempit. Alana menggenggam jam tangan ayahnya di pergelangannya, logam dingin menempel di kulit.
Ia teringat kata-kata Surya di RUPS, dibisikkan ke telinganya di hari musuhnya itu pertama kali menampakkan diri. Mengawasi setiap napas ayahmu sampai napas terakhirnya. Dulu ia menganggapnya kiasan—gaya bicara seorang lelaki yang ingin tampak menakutkan. Sekarang kalimat itu terdengar berbeda. Harfiah. Dingin. Seperti laporan, bukan ancaman.
"Siapa yang meresepkannya?" tanyanya, suaranya nyaris bisikan.
Dokter Rahmat memutar layar agar Alana bisa melihat. Di sudut bawah dokumen elektronik itu, tertera nama dokter peresep dan nama kliniknya. Alana membacanya sekali, dua kali, memastikan ia tidak salah.
Klinik itu beralamat di sebuah gedung di kawasan Kuningan. Gedung yang sama, lantai yang berbeda, dengan kantor cabang Situmorang & Rekan.