Bank Arta Sentosa membuka pukul delapan. Alana sudah berdiri di depan pintu ruang safe deposit pukul delapan lewat tiga menit, kunci kecil di saku, kartu identitas dan dokumen ahli waris di tangan. Petugas bank memeriksa berkas dengan teliti—safe deposit box atas nama Bramantyo Wijaya, dan Alana sebagai ahli waris tunggal sesuai surat wasiat yang sudah disahkan notaris. Tidak ada hambatan hukum. Hanya hambatan di dadanya sendiri.
Sekar menunggu di luar, atas permintaan Alana. Ini harus ia hadapi sendiri.
Ruang brankas dingin dan hening, dinding penuh kotak logam berderet. Petugas mencocokkan dua kunci—miliknya dan milik Alana—lalu menarik kotak panjang itu keluar dan meninggalkannya di bilik privat. Pintu tertutup. Alana sendirian dengan apa pun yang ayahnya sembunyikan.
Ia membuka tutup kotak.
Di dalamnya ada tiga benda. Sebuah map cokelat tebal—map yang dicari-cari dari gudang Cakung. Sebuah amplop tertutup berlabel *Surat Wasiat — Tambahan*. Dan sebuah foto lama, hitam putih, tepinya sudah menguning.
Alana mengambil foto itu lebih dulu. Tiga lelaki muda berdiri di depan gedung Wijaya Group yang dulu—lebih kecil, lebih sederhana. Ia mengenali ayahnya di tengah, muda, tersenyum lebar, lengannya merangkul dua orang di sisinya. Di kanan, Pakde Wira muda. Di kiri—
Surya. Surya Danuatmaja muda, rambutnya masih hitam, wajahnya cerah, tertawa pada sesuatu di luar bingkai. Tiga sahabat. Tiga pendiri. Sebelum semuanya runtuh.
Di balik foto, tulisan tangan ayahnya: *Kami bertiga. Sebelum aku menghancurkan salah satu dari kami.*
Alana meletakkan foto itu dengan tangan bergetar, lalu membuka amplop wasiat tambahan. Ini bukan wasiat yang menyerahkan perusahaan padanya—itu sudah disahkan, itu yang membuatnya jadi Direktur Utama. Ini sesuatu yang lain. Sebuah pernyataan, dibuat di hadapan notaris yang berbeda, ditandatangani Bramantyo hanya enam minggu sebelum kematiannya.
Isinya membuat napas Alana tercekat.
Bramantyo mengakui, secara hukum dan tertulis, bahwa pada tahun 1998 ia mengetahui penggelapan dana tiga ratus miliar tidak dilakukan oleh Surya Danuatmaja seorang diri, melainkan oleh penasihat hukum perusahaan yang ia percaya, yang ia sebut namanya dalam dokumen di map terlampir. Bramantyo mengakui ia memilih menutupi kebenaran itu dan membiarkan Surya menanggung seluruh tuduhan—dan ia menyatakan alasannya dengan satu kalimat yang harus Alana baca tiga kali sebelum ia percaya:
*Karena pengacara itu memegang bukti bahwa istriku, ibu Alana, meninggal bukan karena kecelakaan biasa di tahun itu, dan aku tidak sanggup membiarkan putriku yang baru lahir tumbuh dengan kebenaran itu.*
Alana berpegangan pada tepi meja. Ibunya—yang selalu ia tahu meninggal dalam kecelakaan saat ia bayi, sesuatu yang ayahnya tidak pernah mau bicarakan. Selama dua puluh tujuh tahun ia mengira itu sekadar duka yang terlalu pedih untuk disentuh. Bukan. Itu rahasia. Itu pengungkit. Itu rantai yang mengikat ayahnya selama tiga puluh tahun pada seorang pencuri yang tahu terlalu banyak.
Bramantyo membiarkan Surya hancur untuk menyembunyikan sesuatu tentang kematian istrinya. Dan pencuri yang memegang rahasia itu—yang memeras ayahnya selama tiga dekade—tetap berdiri di sisi perusahaan sebagai penasihat hukum yang tak pernah dicurigai siapa pun. Bonar Situmorang.
Alana membuka map cokelat dengan tangan yang nyaris tak bisa ia kendalikan. Di dalamnya: salinan instruksi transfer dengan tanda tangan B. Situmorang—yang sudah ia temukan. Tapi juga lebih banyak. Laporan investigasi swasta yang dipesan Bramantyo, foto-foto, dan satu dokumen tentang kematian seorang perempuan di tahun 1998 yang labelnya membuat Alana menutup mulutnya dengan tangan agar tidak bersuara di ruang brankas yang sunyi itu.
Ia tidak membaca lebih jauh. Belum. Tangannya terlalu gemetar, dan air mata yang ia tahan sejak masuk ke bilik ini akhirnya jatuh, menetes ke atas map tua ayahnya.
Selama ini ia mengira perang ini soal perusahaan. Soal saham, utang, voting, kursi nomor satu. Surya yang membalas dendam korporat. Hendra yang serakah. Dirinya yang mempertahankan warisan.
Ia salah. Ini bukan soal perusahaan. Tidak pernah. Ini soal seorang perempuan yang mati di tahun 1998, seorang ayah yang menjual sahabatnya demi mengubur kebenaran itu, dan seorang pencuri yang menggunakan rahasia itu untuk membeli dirinya sendiri sebuah kerajaan.
Dan Alana, putri yang lahir di tahun semua dosa ini dimulai, kini memegang setiap kepingnya di tangannya.
Ia merapikan dokumen, mengembalikan foto tiga sahabat itu ke dalam map, dan menutup kotak. Saat ia keluar dari ruang brankas, Sekar yang menunggu di lobi langsung berdiri, wajahnya pucat melihat mata Alana yang merah.
"Nona? Ada apa? Apa isinya?"
Alana memegang map cokelat itu di dadanya seperti memegang sesuatu yang bisa pecah. Ketika ia bicara, suaranya tenang—terlalu tenang, ketenangan orang yang baru saja kehilangan tanah di bawah kakinya dan memaksa diri tetap berdiri.
"Pulang ke kantor, Sekar," katanya pelan. "Aku perlu kau memanggil pengacara kita. Dan aku perlu kau mencari tahu satu hal." Ia menatap asistennya. "Aku perlu tahu segalanya tentang bagaimana ibuku meninggal di tahun sembilan puluh delapan. Karena ternyata, seluruh perang ini—dimulai dari sana."