Versi pertama Alana dengar dari Pakde Wira, dari sejarah perusahaan, dari mulut ayahnya sendiri sepanjang masa kecilnya: Surya Danuatmaja adalah sahabat yang berkhianat, partner yang serakah, lelaki yang menggelapkan tiga ratus miliar saat perusahaan paling rapuh, lalu pergi sambil mengutuk. Bramantyo si korban. Bramantyo si penyelamat. Bramantyo yang membangun kembali dari puing yang ditinggalkan pengkhianat.
Versi kedua mulai terbentuk di kepala Alana sekarang, dirakit dari notulen yang hilang, tanda tangan B. Situmorang di rekening penampungan, dan catatan tangan ayahnya yang pudar: Surya menyetujui penarikan dana bersama dua pendiri lain, tapi bukan dia yang menyalurkannya keluar. Seseorang lain memegang kunci. Surya dijadikan wajah kejahatan yang tidak sepenuhnya ia lakukan, dibuang, namanya dihancurkan, sementara pencuri sesungguhnya tetap duduk di dalam.
Dua versi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alana tidak yakin versi mana yang ia percayai.
Ia datang ke ruangan ayahnya—ruangannya sekarang—larut malam, ketika gedung sudah kosong dan Garda Prima mungkin masih menguping lewat alat yang sengaja ia biarkan terpasang. Maka ia tidak bicara keras-keras. Ia hanya duduk di kursi Bramantyo, menatap foto ayahnya di rak, dan membongkar ruangan itu inci demi inci, mencari map yang menurut Pak Darmin diambil Bramantyo dari gudang Cakung beberapa bulan sebelum wafat.
Ia memeriksa laci yang dulu terkunci—kosong, sudah ia bongkar berbulan lalu. Ia memeriksa rak buku, membalik setiap jilid. Ia menekan panel kayu di balik meja, mencari ruang tersembunyi seperti di film, dan tidak menemukan apa-apa selain debu.
Pukul dua dini hari, lelah dan frustrasi, Alana menyandarkan kepala ke kursi dan menatap langit-langit—tempat dulu salah satu kamera Garda Prima ditemukan di sudut. Matanya mengikuti garis langit-langit, lalu turun ke lukisan besar di dinding seberang, lukisan pemandangan yang sudah tergantung di ruangan itu sejak ia masih kecil, sejak ruangan ini milik ayahnya.
Lukisan itu sedikit miring. Tidak banyak. Tapi Bramantyo Wijaya bukan lelaki yang membiarkan lukisan miring.
Alana berdiri, mendekat, dan mengangkat sisi lukisan itu. Di baliknya, menempel pada bingkai dengan selotip yang sudah mulai mengering, ada sebuah amplop cokelat tipis.
Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya bukan map tebal yang ia bayangkan. Hanya satu lembar surat, tulisan tangan ayahnya, dan sebuah kunci kecil dengan label bertuliskan nomor—sebuah safe deposit box di Bank Arta Sentosa.
Surat itu pendek:
*Alana. Kalau kau membaca ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskannya sendiri. Maafkan aku. Aku melakukan sesuatu di tahun sembilan puluh delapan yang tidak bisa kuperbaiki, dan aku menghabiskan tiga puluh tahun berpura-pura sebaliknya. Surya tidak mencuri uang itu sendirian. Aku tahu siapa yang mencuri, dan aku diam, karena kalau aku bicara, aku akan kehilangan lebih dari perusahaan. Aku menukar kebenaran dengan kerajaanku. Dan sekarang masa lalu itu datang menagih. Di safe deposit ini ada bukti yang sebenarnya. Jangan buka kecuali kau siap kehilangan gambaran tentang ayahmu. Aku mencintaimu lebih dari perusahaan ini, meski hidupku tidak pernah membuktikannya.*
Alana membaca surat itu sampai matanya buram. Ia duduk perlahan di lantai, bersandar ke dinding di bawah lukisan, kunci kecil itu tergenggam erat di telapaknya.
Dua versi kebenaran. Dan ayahnya, dengan tangannya sendiri, baru saja mengonfirmasi bahwa versi yang ia percaya seumur hidup—versi pahlawan—adalah dusta yang ia jaga selama tiga puluh tahun.
Tapi yang membuat Alana paling kacau bukan itu. Bukan pengkhianatan terhadap Surya. Bukan diamnya ayahnya. Melainkan satu kalimat: *Aku tahu siapa yang mencuri, dan aku diam, karena kalau aku bicara, aku akan kehilangan lebih dari perusahaan.*
Lebih dari perusahaan. Apa yang lebih berharga bagi Bramantyo Wijaya daripada Wijaya Group, sampai ia rela membiarkan sahabatnya hancur untuk menyembunyikannya?
Alana menatap kunci di tangannya. Jawaban itu ada di safe deposit box di Bank Arta Sentosa. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menduduki kursi ini, ia takut membuka pintu—bukan takut pada Surya, bukan takut pada Hendra.
Takut pada ayahnya sendiri.