Tiga ratus miliar. Dalam angka tahun sembilan puluh delapan, itu jumlah yang bisa menenggelamkan sebuah konglomerasi. Dana itu ditarik dari kas Wijaya Group atas keputusan bersama tiga pendiri, lalu menguap. Versi resmi—versi yang tertulis dalam sejarah perusahaan dan dipercaya Alana seumur hidupnya—adalah bahwa Surya Danuatmaja menggelapkannya. Tapi Pratomo menyebut seorang bendahara. Seseorang yang memegang kunci.
Alana menghabiskan akhir pekan menyelimuti dirinya dengan dokumen lama, melacak ke mana tiga ratus miliar itu mengalir. Bukan tugas mudah—rekening tahun sembilan puluh delapan sudah lama ditutup, bank-banknya sebagian sudah merger atau bangkrut saat krisis. Tapi audit forensik mengajarinya satu hal: uang selalu meninggalkan bayangan, bahkan tiga puluh tahun kemudian.
Ia mulai dari ujung yang paling mungkin masih hidup—instruksi transfer. Setiap penarikan dana sebesar itu butuh otorisasi ganda dan instruksi tertulis ke bank. Dan instruksi tertulis disimpan rangkap, salah satunya di arsip korespondensi bank yang—untungnya—tidak ikut dihapus bersama notulen.
Sekar menemukannya di kotak arsip kedua, terselip di antara surat-surat rutin: salinan faksimile instruksi transfer bertanggal lima belas Juni 1998. Tiga ratus miliar dipecah menjadi belasan transaksi ke berbagai rekening tujuan—sebagian ke vendor, sebagian ke "rekening penampungan sementara untuk restrukturisasi aset."
"Rekening penampungan sementara," ulang Alana, membaca. "Ke mana dana di rekening penampungan ini pergi setelahnya?"
Sekar menelusuri dokumen pendukung. "Tidak ada catatan. Rekening penampungan itu seperti lubang hitam. Dana masuk, lalu jejaknya berhenti."
"Siapa yang berhak menandatangani instruksi keluar dari rekening penampungan?"
Sekar mencari di lampiran—spesimen tanda tangan yang diserahkan ke bank. Ia menemukan satu halaman, lalu wajahnya berubah. Ia menyerahkannya pada Alana tanpa berkata apa-apa.
Spesimen tanda tangan untuk rekening penampungan tiga ratus miliar itu hanya satu nama. Bukan Bramantyo. Bukan Wirasena. Bukan Surya.
Nama itu: B. Situmorang.
Alana menatap dua huruf depan itu, dan kepingan-kepingan yang selama ini berserakan mulai bergeser ke tempatnya. "Sekar. B. Situmorang. Bonar Situmorang—pengacara itu—sudah mengurus dokumen perusahaan ini sejak sembilan puluh delapan?"
"Situmorang & Rekan memang kantor hukum tertua yang dipakai Wijaya," kata Sekar perlahan, suaranya bergetar oleh kesadaran. "Bonar yang menyusun hampir semua perjanjian besar perusahaan sejak masa pendiri. Kalau ada rekening penampungan dibuat saat krisis, dialah yang menyiapkan dokumennya."
Alana merasa lantai bergeser di bawahnya. Selama ini ia memandang Bonar hanya sebagai kuasa hukum bayaran—orang yang membela Sentra Abadi dan Adiwangsa sekaligus, lihai tapi netral. Tapi kalau spesimen tanda tangan ini benar, Bonar bukan sekadar pengacara yang menjaga jarak. Ia adalah tangan yang memegang kunci rekening tempat tiga ratus miliar menghilang di tahun sembilan puluh delapan.
Bendahara bayangan. Orang yang memegang kunci.
"Surya dituduh menggelapkan dana ini," kata Alana, suaranya nyaris berbisik. "Tapi tanda tangan yang mengeluarkan dana dari rekening penampungan—tanda tangan Bonar. Surya menyetujui penarikan dari kas, ya. Bersama ayahku dan Pakde Wira. Tapi yang menentukan ke mana uang itu pergi sesudah masuk rekening penampungan... bukan Surya."
Sekar menatapnya. "Berarti Surya benar. Dia memang dijebak."
"Belum tentu sepenuhnya," kata Alana, memaksa dirinya berpikir jernih meski kepalanya berputar. "Tapi setidaknya, dia tidak sendirian. Dan orang yang paling diuntungkan dari Surya jadi kambing hitam—" ia berhenti, menelan kesimpulan yang pahit—"adalah orang yang tanda tangannya ada di sini, yang lalu memegang rahasia setiap pihak selama tiga puluh tahun sambil duduk di dua kursi sekaligus."
Ia meletakkan dokumen itu di meja, tangannya dingin. Catatan tangan ayahnya berkelebat lagi di benaknya. *Dana ditarik atas keputusan bersama. Bukan Surya sendiri. Aku tahu. Tapi aku diam.*
Ayahnya tahu Bonar. Ayahnya tahu siapa yang memegang kunci. Dan ayahnya memilih diam—membiarkan Surya difitnah, membiarkan Bonar tak tersentuh. Pertanyaannya yang membuat Alana mual: kenapa? Apa yang membuat Bramantyo Wijaya melindungi seorang pencuri dan mengorbankan sahabatnya sendiri?
"Sekar," kata Alana akhirnya, mengunci dokumen itu di tasnya. "Salin ini tiga kali. Satu untuk brankas, satu untuk pengacara, satu kau simpan di tempat yang tidak ada hubungannya dengan kantor. Kalau sesuatu terjadi padaku, dokumen ini harus selamat."
Sekar memucat. "Nona, jangan bicara begitu."
"Pratomo bilang ayahku mati karena membuka kotak ini." Alana menatap asistennya, dan untuk pertama kalinya membiarkan ketakutannya terlihat sedikit. "Aku baru saja membukanya lebih lebar dari yang pernah ayahku berani."