Nama yang muncul dari notulen rapat dua belas Juni 1998 itu satu: Pratomo. Sekretaris korporat era krisis, orang yang tanda tangannya tertera sebagai notulis di setiap rapat—termasuk dua minggu yang kemudian dihapus. Kalau ada satu orang yang tahu apa yang terjadi di celah waktu itu, ia adalah lelaki yang menuliskannya.
Sekar membutuhkan tiga hari untuk melacaknya. Pratomo, kini berusia lebih dari tujuh puluh tahun, tinggal di sebuah rumah sederhana di kawasan Depok, pensiunan yang menghabiskan harinya merawat tanaman anggrek di teras.
Alana datang sore hari, membawa sekotak kue dan tidak membawa rombongan—ia belajar bahwa orang tua bicara lebih jujur pada satu wajah daripada pada delegasi. Pratomo menerimanya dengan sopan, menuangkan teh, dan saat Alana menyebut nama Wijaya Group, tangan lelaki tua itu sedikit gemetar di atas cangkir.
"Saya putri Bramantyo Wijaya," kata Alana lembut. "Saya ingin bertanya soal tahun sembilan puluh delapan. Soal rapat-rapat di bulan Juni."
Wajah Pratomo berubah. Bukan terkejut. Lebih seperti seseorang yang sudah lama menunggu pertanyaan ini, dan berharap tidak akan pernah mendengarnya.
"Saya sudah pensiun lama, Nona," katanya, suaranya datar. "Ingatan orang tua tidak bisa dipercaya."
"Pak Pratomo," kata Alana pelan, "saya tahu Bapak yang menjadi notulis rapat dua belas Juni sembilan puluh delapan. Rapat yang menyetujui penarikan dana tiga ratus miliar. Bertiga—ayah saya, Pakde Wira, dan Pak Surya. Saya juga tahu notulen dua minggu sesudahnya hilang. Saya tidak menyalahkan Bapak. Saya hanya ingin tahu apa yang Bapak tulis."
Pratomo meletakkan cangkirnya. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara, hanya menatap tanaman anggreknya, dan ketika akhirnya bicara, suaranya hampir berbisik.
"Nona, ada hal-hal yang dulu saya pikir akan saya bawa sampai mati. Dan saya masih berpikir begitu."
"Kenapa?"
Lelaki tua itu menatapnya, dan ada ketakutan yang nyata di matanya, ketakutan yang sudah tiga puluh tahun tertanam. "Karena ada orang yang ingin notulen-notulen itu tetap hilang. Dan orang itu—" ia menelan ludah—"orang itu tidak pernah hilang. Saya kira dia sudah tidak ada, sudah pergi entah ke mana setelah sembilan puluh delapan. Tapi tiga bulan lalu, ada yang menelepon saya. Suara yang saya kenal. Suara yang saya pikir tidak akan pernah saya dengar lagi."
Dada Alana berdebar. "Surya Danuatmaja."
Pratomo tidak mengonfirmasi. Tapi ia juga tidak membantah. Ia hanya berkata, "Dia bilang, 'Pratomo, kalau ada yang datang bertanya soal Juni sembilan puluh delapan, kau tidak ingat apa-apa. Demi keselamatanmu sendiri.' Lalu dia tutup telepon." Lelaki tua itu menggenggam tangannya sendiri agar tidak gemetar. "Tiga bulan lalu, Nona. Sebelum ayah Nona meninggal."
Alana terdiam. Tiga bulan lalu. Saat Bramantyo masih hidup dan baru saja membongkar arsip lama di gudang Cakung. Surya sudah bergerak, sudah membungkam saksi, sudah menutup pintu, jauh sebelum palu RUPS dan rambut perak yang ia tunjukkan di ruang sidang.
"Pak Pratomo," kata Alana, mencondongkan tubuh, suaranya menahan sesuatu yang mendesak, "ayah saya juga datang menemui Bapak, kan? Sebelum dia meninggal."
Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, satu kali.
"Apa yang dia tanyakan?"
"Hal yang sama dengan Nona." Pratomo menyeka matanya dengan punggung tangan yang keriput. "Dan saya menolaknya juga. Saya menyuruhnya pulang. Saya bilang, 'Pak Bram, jangan buka kotak itu lagi, Bapak akan menyesal.'" Suaranya pecah. "Dua bulan kemudian saya dengar beliau meninggal. Dan saya tidak bisa tidur sejak itu, Nona. Karena saya membiarkan beliau pergi tanpa peringatan yang sebenarnya."
"Peringatan apa?"
Pratomo menatapnya lama, perang batin tergambar jelas di wajah tuanya. Lalu, perlahan, ia menggeleng. "Tidak. Saya sudah bicara terlalu banyak. Pulanglah, Nona. Demi nama ayah Nona, jangan teruskan ini. Kotak sembilan puluh delapan itu—isinya bukan cuma uang yang hilang. Ada nama di dalamnya. Nama yang kalau Nona sebut keras-keras, Nona akan berakhir seperti ayah Nona."
Ia berdiri, menandakan percakapan selesai, tangannya gemetar saat membukakan pintu. Alana berdiri juga, tapi sebelum pergi, ia menyentuh lengan lelaki tua itu dengan lembut.
"Pak Pratomo. Saya tidak akan berhenti. Bukan karena saya nekat. Tapi karena ayah saya sudah berhenti dipaksa diam—dan dia mati dengan rahasia ini. Saya tidak mau mati dengan ketakutan yang sama yang membuat Bapak tidak bisa tidur."
Pratomo menatapnya lama. Ada sesuatu yang luruh di wajahnya—mungkin rasa bersalah, mungkin keberanian yang sudah lama terkubur. Saat Alana melangkah keluar, lelaki tua itu berbisik, begitu pelan hampir tertelan suara angin sore.
"Cari Bendahara. Bukan Surya yang memegang uang itu. Cari siapa yang pegang kuncinya."
Alana berbalik. Tapi pintu sudah tertutup pelan. Saksi yang bungkam itu sudah mengatakan satu kalimat lebih banyak daripada yang ia niatkan—dan kalimat itu mengubah segalanya. Bukan Surya yang memegang dana yang hilang di tahun sembilan puluh delapan.
Ada orang lain. Seorang bendahara. Seseorang yang memegang kunci.