Arsip lama Wijaya Group disimpan di sebuah gudang dokumen di kawasan industri Cakung, tiga puluh menit dari Menara Wijaya, sebuah bangunan tanpa jendela yang baunya seperti kertas tua dan debu yang sudah puluhan tahun tidak diganggu. Alana datang sendiri, tanpa rombongan, hanya ditemani Sekar dan seorang petugas arsip tua bernama Pak Darmin yang sudah bekerja di perusahaan sejak sebelum Alana lahir.
"Tahun sembilan puluh delapan," kata Alana, menyerahkan kertas berisi nomor referensi yang ia salin dari dokumen di kartu memori. "Saya mau semua yang berkaitan dengan penarikan dana investasi krisis. Notulen rapat, korespondensi bank, laporan internal."
Pak Darmin menatap kertas itu lama, lalu menatap Alana dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Nona yakin mau membuka kotak itu?"
"Kenapa tidak?"
Lelaki tua itu menggaruk lehernya. "Karena dulu, waktu kerusuhan reda, ada perintah supaya kotak-kotak tahun sembilan puluh delapan tidak dibuka tanpa izin Pak Bramantyo langsung. Bukan izin direksi. Izin beliau pribadi." Ia berhenti. "Beliau sudah tidak ada. Jadi sekarang Nona yang berhak. Tapi saya cuma mau Nona tahu—kotak itu memang sengaja dikubur dalam-dalam."
Alana dan Sekar bertukar pandang. "Tunjukkan."
Mereka menyusuri lorong rak logam yang menjulang, lampu neon berdengung di atas kepala, sampai Pak Darmin berhenti di rak paling belakang dan menarik tangga. Di rak teratas, terselip di antara kardus-kardus berlabel tahun lain, ada tiga kotak arsip berstempel *1998 — RAHASIA — BW*.
Inisial ayahnya. Bramantyo Wijaya.
Mereka menurunkan ketiganya ke meja baca yang berdebu. Alana membuka yang pertama dengan jantung berdebar. Isinya notulen rapat direksi era krisis—Bramantyo, Wirasena, Surya, dan beberapa nama yang tidak ia kenal. Ia membaca cepat, mencari kalimat tentang dana yang hilang.
Ia menemukannya. Tapi ada yang aneh.
"Sekar, lihat ini." Alana menunjuk satu halaman notulen. "Rapat tanggal dua belas Juni sembilan puluh delapan. Notulennya membahas penarikan dana investasi tiga ratus miliar—angka besar untuk masa itu. Yang menyetujui: Bramantyo, Wirasena, dan Surya. Bertiga. Tanda tangan ketiganya ada."
"Lalu kenapa cuma Surya yang dituduh?" tanya Sekar.
"Itu yang aneh." Alana membalik halaman, mencari notulen berikutnya. Tapi notulen rapat sesudahnya—yang seharusnya membahas ke mana dana itu pergi—tidak ada. Lompat. Dari dua belas Juni langsung ke dua puluh delapan Juni, ke rapat yang isinya keputusan mengeluarkan Surya. Dua minggu di tengahnya kosong.
"Ada notulen yang dicabut," kata Alana pelan. "Sama seperti file yang hilang di kartu memori. Seseorang membersihkan dua minggu di bulan Juni sembilan puluh delapan."
Pak Darmin, yang berdiri di belakang mereka, berdeham. "Nona mencari notulen dua minggu itu?"
Alana berbalik. "Bapak tahu sesuatu?"
Lelaki tua itu ragu, jari-jarinya gelisah di tepi mejanya. "Saya tidak tahu isinya. Tapi saya yang dulu memindahkan kotak ini. Dan saya ingat—ada satu map yang dipindahkan terpisah dari ketiga kotak ini. Pak Bramantyo sendiri yang ambil, tahun lalu. Beberapa bulan sebelum beliau..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Beberapa bulan sebelum ayah saya meninggal," sambung Alana, "dia datang sendiri ke gudang ini dan mengambil satu map dari arsip sembilan puluh delapan."
Pak Darmin mengangguk pelan. "Beliau lama sekali di sini hari itu. Sendirian. Waktu keluar, mukanya... saya belum pernah lihat Pak Bramantyo setakut itu. Padahal beliau orang yang berani."
Alana merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ayahnya, beberapa bulan sebelum kematiannya, datang membongkar luka lama tahun sembilan puluh delapan. Dan ia keluar dari sini ketakutan.
"Bapak ingat map itu dibawa ke mana?"
"Tidak, Nona. Tapi kalau beliau bawa pulang ke kantor, mungkin..." Pak Darmin mengangkat bahu. "Mungkin masih ada di ruangan beliau. Ruangan yang sekarang jadi ruangan Nona."
Alana menutup kotak arsip itu perlahan. Jejak tahun sembilan puluh delapan tidak berhenti di gudang berdebu ini. Ia mengarah kembali ke lantai dua puluh enam, ke meja tempat ia duduk setiap hari, ke ruangan tempat ayahnya menarik napas terakhir.
Ayahnya sudah memulai penyelidikan ini. Dan penyelidikan itu mungkin yang membunuhnya.