Surya menunggunya di lorong, di luar jangkauan wartawan, bersandar di dinding kaca yang menghadap kota seolah ia pemilik gedung itu, bukan tamu. Bonar Situmorang berdiri beberapa langkah di belakang, sopan dan diam seperti bayangan.
"Selamat, Nona Alana," kata Surya. Suaranya hangat, dan itulah yang paling mengerikan dari dirinya. "Kemenangan yang rapi. Dua koma satu persen. Ayahmu tidak akan secermat itu."
Alana berhenti, menjaga jarak. "Anda kelihatan terlalu senang untuk orang yang baru saja kalah voting."
"Karena saya tidak kalah." Surya melangkah mendekat, pelan, tanpa ancaman fisik—hanya kehadiran yang menekan. "Apa kau benar-benar mengira saya membawa tiga blok saham ke ruangan itu karena saya butuh suaramu turun? Saya bisa menjatuhkanmu kapan saja, Nona. Saya bisa membeli lebih banyak. Saya bisa menunggu utang berikutnya. Saya punya waktu, dan saya punya uang yang tidak pernah kau lihat ujungnya."
"Lalu kenapa Anda tidak melakukannya?"
Senyum Surya melebar sedikit, dan untuk pertama kalinya Alana melihat sesuatu yang dingin dan tua di matanya—luka yang sudah mengeras menjadi batu. "Karena menjatuhkanmu hari ini terlalu cepat. Terlalu murah. Ayahmu mengambil segalanya dariku dalam satu hari di tahun sembilan puluh delapan. Satu sidang. Satu palu. Dan setelahnya saya menghilang—tanpa nama, tanpa reputasi, tanpa apa pun."
Ia berhenti, menatap kota di balik kaca.
"Saya tidak ingin memberimu satu hari, Nona. Saya ingin memberimu tiga bulan. Enam bulan. Setahun. Saya ingin kau merasakan setiap malam tanpa tidur, setiap rapat yang kau menangkan tipis-tipis, setiap kemenangan yang terasa seperti kekalahan yang ditunda. Saya ingin kau membangun perusahaan ini kembali dengan tanganmu sendiri—lalu saya akan mengambilnya, batu demi batu, di depan matamu. Itu sebabnya saya membiarkanmu menang hari ini."
Darah Alana terasa membeku, tapi ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkannya. "Anda menghabiskan tiga puluh tahun merancang balas dendam terhadap orang yang sudah mati. Ayah saya tidak akan merasakan apa pun dari semua ini. Hanya saya."
"Justru itu intinya." Suara Surya melembut, dan entah kenapa itu lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak. "Bramantyo merebut dariku perusahaan, ya. Tapi dia juga merebut hal lain. Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti." Ia menatap Alana lama, terlalu lama, dengan ekspresi yang sekilas hampir menyerupai—kesedihan. Lalu hilang. "Kau hanya tahu separuh cerita, Nona. Dan separuh yang kau tahu, ayahmu yang menulisnya."
Alana teringat catatan tangan di file tahun 1998. *Bukan Surya sendiri. Aku tahu. Tapi aku diam.* Ia hampir mengatakannya. Hampir menantang Surya dengan kebenaran yang baru ia temukan. Tapi naluri menahannya. Kartu itu terlalu berharga untuk dibuka di lorong, pada musuh yang lebih tua dan lebih sabar darinya.
"Kalau Anda ingin menghancurkan saya pelan-pelan," kata Alana akhirnya, mengangkat dagu, "maka Anda baru saja memberi saya satu hal yang Anda lupakan harganya."
"Apa itu?"
"Waktu." Ia menatap lurus ke mata lelaki perak itu. "Setiap hari Anda biarkan saya hidup, saya akan pakai untuk menggali. Dan saya pandai menggali, Pak Surya. Saya akan menemukan apa yang sebenarnya terjadi di tahun sembilan puluh delapan. Saya akan menemukan kenapa ayah saya menelepon seseorang seminggu sebelum dia mati dan berkata 'kau tidak akan mendapatkan perusahaan ini selama aku masih bernapas.' Dan saya akan menemukan siapa yang memastikan napas itu berhenti."
Untuk sepersekian detik—sangat singkat, hampir tak terlihat—senyum Surya goyah. Hanya sekejap. Lalu kembali utuh.
"Berhati-hatilah dengan apa yang kau gali, Nona," katanya pelan. "Kadang yang kita temukan bukan musuh yang kita kira. Kadang itu wajah ayah kita sendiri."
Ia berbalik dan berjalan pergi, Bonar mengikuti seperti bayangan, langkah keduanya teredam karpet lorong. Alana berdiri sendirian, dan baru setelah lift menelan mereka, ia membiarkan dirinya bersandar ke dinding, persis seperti hari pertama, tiga bulan lalu.
Tangannya gemetar lagi. Tapi kali ini bukan karena takut.
Ia menang hari ini. Kemenangan yang mahal—dibayar dengan pengetahuan bahwa musuhnya sengaja membiarkannya hidup, dan dengan benih keraguan tentang ayahnya sendiri yang kini tumbuh di dadanya. Tapi Surya melakukan satu kesalahan di lorong tadi. Ia membiarkan senyumnya goyah saat Alana menyebut kematian Bramantyo.
Lelaki itu menyembunyikan sesuatu tentang malam ayahnya wafat.
Dan Alana baru saja memutuskan ke mana ia akan menggali berikutnya.