RUPS luar biasa yang tertunda akhirnya dibuka kembali pada hari Kamis, pukul sepuluh pagi, di ruang serbaguna lantai dua puluh lima yang sengaja dipenuhi kursi tambahan. Alana mengenakan jas abu-abu gelap, jam tangan ayahnya di pergelangan, dan ketenangan yang ia paksa menempel di wajahnya meski di dalam dadanya jantungnya berdebar seperti genderang.
Surya Danuatmaja sudah duduk di barisan pemegang saham, rambut peraknya rapi, ekspresinya seperti orang yang datang menonton pertunjukan yang sudah ia tahu akhirnya. Di sampingnya, Bonar Situmorang membuka map kulit hitam. Hendra Salim duduk dua kursi dari mereka, lebih jauh dari biasanya, dan Alana mencatat jarak itu. Retak yang ia lihat di Bab-bab sebelumnya mulai melebar.
Notaris membacakan agenda. Mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama dimasukkan kembali ke pemungutan suara. Surya jelas yakin angkanya cukup—delapan belas persen miliknya, sembilan persen Hendra, ditambah tiga blok publik yang ia beli sehari sebelum sidang pertama.
Tapi Alana sudah menghitung ulang setiap suara dalam dua minggu terakhir. Ia tidak duduk diam.
"Sebelum pemungutan suara," kata Alana, berdiri, suaranya jernih memenuhi ruangan, "saya ingin menyampaikan kepada para pemegang saham publik—Bapak dan Ibu yang menanamkan uang sungguhan di perusahaan ini—satu hal sederhana."
Ia menekan tombol. Di layar besar muncul angka.
"Utang dua ratus dua puluh miliar yang menjadi alasan keraguan terhadap kepemimpinan saya—" ia berhenti satu detik—"sembilan puluh persennya sudah terkonversi menjadi obligasi tenor lima tahun, ditandatangani oleh Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika tiga hari lalu. Perusahaan ini tidak lagi berdiri di tepi jurang. Ia berdiri di tanah yang sudah saya kuatkan, batu demi batu, sementara sebagian orang di ruangan ini sibuk merancang kejatuhan saya."
Gumaman menjalar di antara para pemegang saham publik. Alana melihat Surya tidak bergerak. Tapi rahang Hendra mengeras.
"Saya tidak meminta Anda mencintai saya," lanjut Alana. "Saya meminta Anda menghitung. Siapa yang menyelamatkan nilai saham Anda dalam tiga bulan terakhir? Dan siapa yang ingin menjatuhkan direktur yang baru saja menutup utang itu—justru di saat perusahaan mulai sembuh?"
Bonar Situmorang berdiri, suaranya licin. "Pidato yang menyentuh. Tapi RUPS bukan panggung drama, Nona. Mari kita pungut suara."
"Saya setuju," kata Alana, duduk kembali. "Mari kita pungut suara."
Pemungutan suara dilakukan terbuka, satu per satu. Notaris membacakan nama dan persentase.
Keluarga Wijaya—empat puluh satu persen—menolak mosi.
Sentra Abadi—delapan belas persen—mendukung mosi.
Hendra Salim—sembilan persen—Alana menahan napas—mendukung mosi. Tapi ada jeda sepersekian detik sebelum Hendra mengangkat tangannya. Jeda yang dilihat semua orang.
Lalu blok publik. Ini medan sesungguhnya. Tiga blok yang dibeli Surya mendukung mosi. Tapi sisa pemegang saham publik—mereka yang dua minggu terakhir Alana temui satu per satu, ia tunjukkan term sheet bank, ia yakinkan bahwa nilai saham mereka aman di tangannya—satu demi satu menolak mosi.
Notaris menghitung. Lalu menghitung ulang. Ruangan hening total.
"Mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama," kata notaris akhirnya, "ditolak. Dengan selisih dua koma satu persen."
Dua koma satu persen. Setipis kertas. Tapi cukup.
Alana tidak tersenyum. Ia hanya mengembuskan napas yang terasa seperti sudah ia tahan selama tiga minggu. Di seberang ruangan, Hendra menyeka keningnya. Dan Surya—Surya justru tersenyum kecil, seolah hasil ini sama sekali tidak mengganggunya.
Itulah yang membuat bulu kuduk Alana berdiri. Ia menang. Tapi musuhnya tampak puas.
Palu notaris akhirnya diketuk—bukan untuk menjatuhkannya, melainkan untuk mengesahkan bahwa ia tetap Direktur Utama Wijaya Group. Wartawan di belakang ruangan mulai mengetik. Pram ada di antara mereka, dan ia menatap Alana dengan satu anggukan kecil.
Alana bertahan. Tapi saat ia berdiri untuk menutup sidang, tatapan Surya menemukan matanya dari seberang ruangan, dan lelaki tua itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, hanya untuknya.
*Bagus,* katanya. *Tetaplah di kursi itu.*