Berkas peninggalan ayahnya tidak pernah benar-benar Alana tinggalkan. Kartu memori pertama—yang ia temukan di laci terkunci, di balik gesper jam tangan Bramantyo—sudah ia salin, ia kunci, ia pelajari isinya sampai hafal. Tapi malam itu, sambil memutar ulang file demi file, ia menyadari ada yang ganjil.
Folder bernama "SENTRA-DUGAAN" berisi tujuh dokumen. Tapi penomoran filenya melompat. Dokumen 1 sampai 5, lalu langsung 9. Tidak ada 6, 7, 8.
"Ayah tidak akan menomori secara acak," gumam Alana. Bramantyo adalah lelaki yang menata pensilnya berdasarkan panjang. Tiga file hilang itu bukan kecerobohan. Itu disengaja—entah oleh ayahnya, entah oleh orang lain.
Ia memanggil Reza keesokan paginya. Teknisi dari Singapura itu kembali terbang ke Jakarta dengan tas kerja kecil dan wajah yang selalu tampak setengah mengantuk, padahal otaknya paling tajam di ruangan mana pun.
"Kartunya cuma satu?" tanya Reza, memutar kartu memori di antara jarinya.
"Itu yang aku temukan."
Reza memasangnya ke perangkat bacanya, mengetik beberapa baris, menunggu. "Kapasitas terpakai dan kapasitas terlihat tidak cocok," katanya pelan. "Ada partisi tersembunyi. Ayahmu—atau seseorang—menyembunyikan ruang di dalam kartu ini."
Alana mencondongkan tubuh. "Bisa dibuka?"
"Butuh kata sandi. Kalau salah berkali-kali, isinya bisa terhapus permanen. Jadi kita tidak boleh menebak sembarangan." Reza menatapnya. "Apa yang paling berarti bagi ayahmu? Sesuatu yang dia tahu hanya kalian berdua mengerti."
Alana memejamkan mata. Bukan tanggal lahirnya—terlalu mudah. Bukan nama perusahaan. Ia menatap jam tangan di pergelangannya, jam tangan Bramantyo, yang setiap hari ia kenakan sejak ayahnya wafat. Di balik gesper jam itu pula kunci laci dulu disembunyikan.
Ia membalik jam itu. Di bagian belakang casing, terukir samar—bukan merek, bukan nomor seri. Sebuah deret angka kecil yang dulu ia kira tanggal servis. *0698.* Juni 1998. Bulan ketika perusahaan retak. Bulan ketika Surya diusir. Bulan ketika Alana lahir.
"Coba nol-enam-sembilan-delapan," kata Alana, suaranya hampir berbisik.
Reza mengetiknya. Layar berkedip. Lalu folder tersembunyi itu terbuka.
Hanya ada satu file di dalamnya. Sebuah dokumen pindaian. Alana membukanya, dan ruangan terasa menyusut di sekelilingnya.
Itu surat perjanjian internal tahun 1998. Berkop Wijaya Group lama. Tiga kolom tanda tangan: Bramantyo Wijaya, Wirasena Wijaya, dan Surya Danuatmaja. Isinya tentang pembagian tanggung jawab atas dana investasi yang ditarik dari kas perusahaan saat krisis—dana yang kemudian dinyatakan hilang dan dituduhkan pada Surya.
Tapi yang membuat Alana membeku bukan tiga tanda tangan itu. Di pojok bawah, ada catatan tangan ayahnya, tinta yang sudah pudar oleh waktu:
*Dana ditarik atas keputusan bersama. Bukan Surya sendiri. Aku tahu. Tapi aku diam.*
Alana membaca kalimat itu lagi dan lagi. Tangannya dingin.
"Apa artinya?" tanya Reza, yang membaca dari layar.
"Artinya," kata Alana lambat, "ayahku mungkin tahu Surya tidak sepenuhnya bersalah. Dan dia membiarkan Surya difitnah." Ia menelan sesuatu yang pahit. "Selama tiga puluh tahun, aku percaya ayahku adalah pihak yang dizalimi. Sekarang aku tidak yakin lagi siapa yang menzalimi siapa."
Reza diam sejenak, lalu bicara dengan hati-hati. "Ini bisa jadi pembelaan Surya di pengadilan, kalau bocor."
"Atau ini bisa jadi kunci untuk mengerti dia." Alana menatap layar. "Surya bukan sekadar orang serakah yang ingin perusahaan ini. Dia orang yang merasa dirampok identitasnya, lalu menghabiskan setengah hidupnya merancang balasan. Aku tidak bisa mengalahkan orang seperti itu hanya dengan angka."
Ia memerintahkan Reza menyalin file itu ke dua media terpisah, lalu mengembalikan kartu memori ke partisi awalnya. Petunjuk Bramantyo di file lama tadi—"periksa kembali perpecahan tahun 1998"—kini bukan lagi teka-teki. Itu pengakuan.
Sebelum pulang malam itu, Alana berdiri lama di depan jendela. Kota berkelip di bawahnya. Ia memegang jam tangan ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia merasa marah pada lelaki yang sudah mati itu.
"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Ayah?" bisiknya. Tidak ada jawaban. Hanya bayangannya sendiri di kaca, dan seluruh kota yang menunggu untuk dimenangkan.