Audit forensik tidak diumumkan dengan pengeras suara. Itulah letak kekuatannya. Alana menandatangani penunjukan kantor akuntan publik independen pada hari Senin, dengan ruang lingkup yang sengaja ditulis luas: seluruh kontrak vendor logistik tiga tahun terakhir, dengan penekanan diam-diam pada satu nama yang sudah ia kunci di laci sejak Bab-bab pertama kepemimpinannya—PT Bahari Logistik Nusantara.
"Kenapa harus resmi?" tanya Sekar saat membawa map penunjukan untuk ditandatangani. "Bukti mark-up sudah ada di tangan kita. Kontrak empat miliar sebulan untuk gudang yang harga pasarnya satu setengah miliar. Itu sudah cukup untuk menyerang Hendra."
"Cukup untuk bertengkar," koreksi Alana. "Tidak cukup untuk menang." Ia menandatangani halaman terakhir, lalu menyandarkan punggung. "Kalau aku yang menuduh, itu jadi perseteruan pribadi antara direktur baru dan wakilnya. Hendra akan bilang aku menyingkirkan saingan. Tapi kalau auditor independen yang menulis, dengan stempel dan tanda tangan, itu jadi temuan. Dan temuan tidak bisa dibantah dengan emosi."
Auditor itu bekerja selama dua minggu. Mereka tidak banyak bicara—hanya meminta akses, menyalin, mencocokkan. Alana memastikan tim Hendra tahu audit sedang berjalan, tapi tidak tahu seberapa dalam. Ia ingin melihat reaksi.
Reaksi itu datang pada hari kesembilan.
Sekar masuk ke ruangan Alana dengan terburu, menutup pintu. "Ada yang aneh. Arsip kontrak fisik PT Bahari tahun pertama—yang asli, bertanda tangan basah—hilang dari ruang dokumen. Petugas arsip bilang ada 'pemindahan untuk digitalisasi' yang diperintahkan kemarin."
"Diperintahkan siapa?"
"Memo internal. Tanda tangannya..." Sekar menelan ludah. "Divisi keuangan."
Alana berdiri. Di sinilah letak ujian audit forensik yang sesungguhnya—bukan menemukan dokumen, tapi mendokumentasikan upaya menghilangkannya. "Mereka mencoba membersihkan jejak. Itu kabar baik, Sekar."
"Bagaimana bisa kabar baik?"
"Karena orang yang yakin tidak bersalah tidak menghancurkan bukti." Alana sudah meraih telepon. "Hubungi auditor. Aku mau mereka mencatat pemindahan arsip itu sebagai temuan tersendiri—penghalangan terhadap audit. Dan minta mereka tarik salinan digital yang sudah kita amankan tiga minggu lalu. Aku sudah menggandakan semuanya jauh sebelum Hendra sadar ada audit."
Sekar menatapnya, perlahan mengerti. Alana sudah menduga langkah ini sejak awal. Ia memberi musuhnya cukup ruang untuk berbuat salah.
Laporan audit interim keluar pada hari ke empat belas. Tebal, kering, penuh tabel. Tapi di halaman tujuh belas, satu paragraf yang ditulis dengan bahasa akuntan yang sopan namun mematikan menyimpulkan: kontrak sewa gudang dengan PT Bahari Logistik Nusantara mencerminkan harga dua sampai tiga kali lipat di atas tarif pasar yang sebanding, ditandatangani oleh Wakil Direktur Utama Hendra Salim, dengan pihak berelasi—Wirawan Salim, komisaris PT Bahari, adik kandung penanda tangan—yang tidak diungkapkan dalam transaksi pihak berelasi sebagaimana diwajibkan. Selisih kumulatif yang teridentifikasi: sekitar tiga puluh miliar rupiah dalam dua tahun.
Alana membaca paragraf itu tiga kali. Bukan untuk menikmatinya. Untuk memastikan tidak ada celah.
Ia tahu paragraf sopan itu adalah palu. Tapi palu yang diayunkan terlalu dini hanya akan memberi peringatan, bukan luka. Audit ini juga bukan sekadar soal Hendra. Di balik kontrak gudang yang ditandatangani sang wakil direktur, ada pola yang lebih tua, lebih rapi—seolah seseorang sudah lama mengajarkan Hendra cara mengeluarkan uang tanpa meninggalkan sidik jari. Alana belum bisa membuktikan firasat itu. Tapi auditor mencatat satu hal kecil yang membuat tengkuknya dingin: rekening tujuan akhir sebagian pembayaran PT Bahari bermuara ke entitas yang struktur kepemilikannya berlapis-lapis, mirip sekali dengan cara PT Sentra Abadi menyembunyikan pemiliknya.
"Auditor menemukan jejak ke arah Sentra?" tanya Sekar pelan, membaca dari balik bahu Alana.
"Belum cukup untuk ditarik garis lurus," kata Alana. "Tapi cukup untuk membuatku yakin uang yang dicuri Hendra dari gudang ini tidak semuanya masuk ke kantongnya sendiri. Sebagian mengalir ke atas." Ia menutup laporan. "Hendra bukan kepala ular. Dia cuma taringnya."
"Sekar," katanya akhirnya. "Buat dua salinan tersegel. Satu untuk brankas. Satu untuk pengacara kita." Ia berhenti. "Belum untuk dewan. Belum untuk Hendra. Kartu ini terlalu berharga untuk dimainkan sekarang."
"Kapan kita pakai?"
Alana menatap ke arah lantai dua puluh lima, ke ruangan tempat dewan biasa berkumpul, tempat Hendra masih duduk yakin kursinya aman. "Saat dia paling membutuhkannya untuk menyelamatkan diri. Dan saat itu, dia harus memohon padaku, bukan padaku yang memohon padanya."
Malam itu, ponsel Hendra dilaporkan beberapa kali menelepon nomor di Singapura. Garda Prima mungkin masih menguping kantor Alana, tapi Alana juga punya mata sendiri sekarang. Audit yang menggigit itu sudah mulai mengoyak daging. Tinggal menunggu siapa yang berdarah lebih dulu.