Telepon di meja Alana berdering pukul tujuh pagi, sebelum kopi pertamanya sempat dingin. Sekar yang mengangkat, dan dari kerutan di dahinya saja Alana sudah tahu kabarnya tidak menyenangkan.
"Redaksi Bisnis Harian," kata Sekar, menutup gagang dengan telapak tangan. "Mereka minta konfirmasi soal 'krisis kepemimpinan' di Wijaya Group. Wartawan namanya Pram. Dia bilang sudah punya sumber di dalam."
Alana meletakkan cangkirnya pelan-pelan, supaya tangannya tidak gemetar. Ini yang ia takutkan sejak palu notaris nyaris diketuk di RUPS itu. Bukan suara pemegang saham. Bukan bank. Tapi narasi. Begitu pers menulis bahwa perusahaan ini sedang sekarat di tangan anak berusia dua puluh tujuh tahun, kreditor akan panik, vendor akan minta bayar tunai di muka, dan Surya Danuatmaja tidak perlu mengangkat satu jari pun.
"Apa yang sudah dia tahu?" tanya Alana.
Sekar menyampaikan pertanyaan itu ke telepon, mendengarkan, lalu melaporkan dengan suara datar. "Dia tahu soal mosi tidak percaya. Tahu soal utang dua ratus dua puluh miliar. Tahu sale-and-leaseback Sudirman. Bahkan tahu angka kas operasional kita."
Empat puluh tiga miliar. Angka yang seharusnya hanya beredar di antara dewan direksi.
"Itu bocoran dari dalam," kata Alana pelan. "Bukan tebakan."
Ia tahu siapa yang diuntungkan kalau cerita ini meledak sebagai kisah kehancuran. Surya ingin Alana terlihat seperti kapten yang menabrakkan kapal ke karang. Maka Alana harus bicara lebih dulu, dengan suaranya sendiri, sebelum bisikan-bisikan itu mengeras menjadi judul berita.
"Sekar, batalkan semua jadwalku pagi ini. Undang Pram ke sini. Bukan lewat humas. Aku yang temui langsung."
Sekar menatapnya. "Itu berbahaya. Kalau salah satu kata—"
"Lebih berbahaya membiarkan dia menulis dari sumber Surya."
Pram datang satu setengah jam kemudian. Lelaki kurus berusia akhir tiga puluhan, mata yang sudah terbiasa mengukur kebohongan, perekam suara diletakkan di meja tanpa basa-basi. Alana menyuruhnya menyalakannya.
"Anda mau merekam, rekam saja semuanya," kata Alana. "Saya tidak punya yang perlu disembunyikan, dan itu justru masalah orang-orang yang ingin saya jatuh."
Pram mengangkat alis. "Berani sekali untuk perusahaan yang katanya di ambang gagal bayar."
"Kami punya utang jatuh tempo. Itu benar dan saya tidak akan berpura-pura sebaliknya." Alana mendorong setumpuk dokumen ke arahnya—term sheet dari Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika, draf restrukturisasi, perhitungan penghematan vendor. "Tapi 'krisis kepemimpinan' itu cerita yang ditanam, Pak Pram. Pertanyaannya, siapa yang menanam, dan kenapa dia repot-repot menemui Anda sekarang, tepat ketika saya hampir menutup utang itu."
Pram tidak menjawab. Tapi pena yang tadi diam mulai bergerak di buku catatannya.
"Saya tidak minta Anda menulis pujian," lanjut Alana. "Saya minta Anda bertanya satu hal pada sumber Anda. Tanyakan: siapa yang membeli tiga blok saham publik dalam satu pagi, sehari sebelum RUPS luar biasa. Lalu tanyakan, dari rekening apa uang itu datang."
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berkilat di mata wartawan itu. Bukan permusuhan. Rasa ingin tahu.
"Anda menuduh ada pihak yang sengaja mengguncang perusahaan ini," kata Pram.
"Saya tidak menuduh apa pun di depan rekaman," kata Alana hati-hati. "Saya hanya menunjukkan dokumen, dan menyarankan Anda menjadi wartawan, bukan corong."
Pram tersenyum tipis, mematikan perekam. "Off the record sekarang." Ia menatap Alana lama. "Sumber saya menyebut nama Sentra Abadi. Tapi dia gugup waktu saya tanya siapa di balik Sentra. Seperti orang yang takut pada majikannya sendiri."
Alana menjaga wajahnya tetap tenang, meski jantungnya berdebar. Hendra. Atau seseorang dari kubu Hendra. Sumber kebocoran ini berasal dari orang yang sudah mulai gentar pada bayangan di belakangnya.
"Tulislah yang benar, Pak Pram," kata Alana sambil berdiri, mengulurkan tangan. "Kebenaran itu—untuk sekali ini—kebetulan ada di pihak saya."
Setelah Pram pergi, Sekar masuk dengan wajah cemas. "Dia akan tetap menulis sesuatu."
"Ya. Tapi sekarang dia akan menulis pertanyaan, bukan vonis." Alana menatap kota Jakarta dari kaca lantai dua puluh enam. "Dan setiap pertanyaan yang dia ajukan ke Sentra Abadi, akan terdengar sampai ke telinga Surya."
Itulah yang ia inginkan. Membuat sang dalang tahu bahwa permainannya sudah mulai diterangi cahaya. Orang yang terbiasa bekerja dalam gelap selalu membuat kesalahan pertamanya ketika lampu dinyalakan.
Sore itu, ponsel Alana bergetar. Nomor tak dikenal, satu baris pesan.
*Anda pandai bicara pada pers, Nona. Ayah Anda juga dulu begitu. Mari kita lihat apakah angka Anda sepandai lidah Anda.*
Tidak ada nama. Tapi Alana tahu siapa. Ia tidak membalas. Ia hanya menyimpan nomor itu, lalu kembali ke berkas audit yang menunggu. Perang narasi sudah ia menangi satu babak. Sekarang ia harus memenangkan perang angka.