Pesan itu datang ke ponsel pribadi Alana pada pukul sebelas malam, dari nomor tak dikenal. Hanya satu baris.
"Ruang parkir basement, lantai dua. Lima belas menit. Datang sendiri. —H."
H. Hendra.
Setiap insting bisnis Alana berteriak ini jebakan. Tapi insting lain—yang lebih tua, yang ia warisi dari ayahnya—berkata bahwa orang yang menjebak tidak menulis dengan tergesa. Dan tergesa adalah bau yang menempel di pesan itu.
Ia turun ke basement sendirian, dengan ponsel di tangan dan jempol melayang di atas nomor Reza. Hendra sudah menunggu di antara mobil-mobil, tanpa sopir, tanpa jas—hanya kemeja kusut dan wajah yang, untuk pertama kalinya sejak Alana mengenalnya, tampak setua usianya yang lima puluh delapan.
"Nona Alana," katanya. Tidak ada lagi senyum dingin yang sempurna. "Saya tidak punya banyak waktu. Kalau dia tahu saya bicara dengan Anda, saya mati."
"Surya."
Hendra mengangguk, melirik ke sekeliling seperti binatang yang terjebak. "Saya pikir saya yang memegang permainan. Dua puluh tahun saya membangun jaringan ini di dalam Wijaya. Kontrak Bahari, vendor, semuanya. Saya pikir saya hanya bekerja sama dengan Sentra Abadi—investor yang membantu saya merebut kursi yang seharusnya jadi milik saya." Tawanya pahit. "Lalu dia muncul di RUPS. Surya Danuatmaja. Dan saya sadar saya bukan pemain. Saya pion. Selama dua dekade saya pikir saya tuan rumah, ternyata saya kunci yang dia gunakan untuk membuka pintu."
Alana berdiri diam, membiarkan keretakan itu terbuka tanpa mendorongnya. Ayahnya pernah mengajarinya: kalau musuh mulai bicara, jangan memotong. Beri mereka tali secukupnya.
"Kemarin," lanjut Hendra, "saya minta jaminan padanya. Kalau RUPS menang dan Anda turun, saya jadi Direktur Utama. Itu kesepakatannya sejak awal." Rahangnya mengeras. "Tahu apa jawabannya? Dia bilang, 'Kursi itu untuk orang yang aku pilih, Hendra. Kau akan dapat tempat. Tempat yang sesuai.' Tempat yang sesuai. Setelah dua puluh tahun, dia bicara pada saya seperti pelayan."
"Dia tidak pernah berniat mengangkat Bapak," kata Alana pelan. "Bapak terlalu tahu banyak. Begitu kursi ini jatuh, Bapak jadi beban—saksi yang tahu seluruh aliran dana Bahari. Orang seperti Surya tidak menyimpan saksi. Ia membuangnya."
Hendra menatapnya, dan Alana tahu kalimat itu mengenai sasaran karena Hendra sendiri sudah memikirkannya, sudah terjaga di malam-malam belakangan ini memikirkannya.
"Saya tidak datang untuk menyerah pada Anda," kata Hendra cepat, harga dirinya berontak. "Saya datang untuk... saya tidak tahu. Untuk melihat apakah ada jalan keluar yang tidak berakhir dengan saya di penjara atau di selokan."
"Ada," kata Alana. Ia tidak tersenyum; ini bukan saat untuk kemenangan. "Tapi bukan malam ini, dan bukan dengan kata-kata di basement. Saya tidak akan memohon Bapak membelot. Saya hanya akan mengatakan satu hal." Ia menatap mata lelaki yang selama berminggu-minggu jadi musuhnya. "Saya tahu soal Pak Yatno. Soal surat perintah memalsukan laporan gudang. Tanda tangan Bapak ada di sana. Saya bisa menjepit Bapak kapan saja saya mau."
Wajah Hendra memucat.
"Tapi saya tidak melakukannya malam ini," lanjut Alana. "Karena Surya akan menjepit Bapak juga—hanya saja, dengan Surya, jepitan itu tidak datang dengan tawaran. Pikirkan, Pak Hendra. Di pihak mana Bapak punya peluang berdiri tegak di akhir, dan di pihak mana Bapak hanya akan jadi pion yang dikorbankan saat tak lagi berguna."
Hendra tidak menjawab. Tapi ia tidak membantah. Ia hanya berbalik dan menghilang di antara mobil-mobil, punggungnya membungkuk di bawah beban yang baru ia sadari telah ia pikul selama dua puluh tahun.
Alana naik kembali ke lantai dua puluh enam, dan untuk pertama kalinya sejak Surya muncul di RUPS, ia merasakan tanah bergeser ke arahnya. Bukan kemenangan. Belum. Tapi sebuah retakan—tipis, halus—merambat di barisan lawan.
Dan retakan, ia tahu, adalah tempat di mana benteng paling kokoh sekalipun akhirnya runtuh.
Empat hari lagi menuju RUPS lanjutan. Dan salah satu dari dua suara yang paling Surya andalkan baru saja mulai goyah.