RUPS lanjutan kini berjarak lima hari. Surya, lewat Bonar, telah mengirim pemanggilan resmi untuk agenda mosi tidak percaya—kali ini secara prosedural benar. Celah yang Alana pakai di Bab pertama pertempuran ini sudah ditutup lawan.
Tapi Alana belum selesai mencari celah.
"Pak Gunadi," katanya pada notaris RUPS, dalam pertemuan tertutup yang ia minta secara resmi. "Saya ingin membahas independensi proses RUPS lanjutan."
Pak Gunadi, notaris tua yang menjaga palu di rapat sebelumnya, tampak gelisah. "Tugas saya hanya memastikan prosedur dijalankan dengan benar, Nona Wijaya. Saya tidak memihak siapa pun."
"Justru itu yang ingin saya pastikan." Alana meletakkan sebuah berkas di meja. "Saya melakukan sedikit penelusuran. Notaris yang ditunjuk untuk RUPS lanjutan—bukan Bapak, tapi notaris pengganti yang diusulkan pihak Sentra Abadi—bernama Notaris Pranoto. Dan Notaris Pranoto, dalam tiga tahun terakhir, mengesahkan tujuh akta untuk perusahaan-perusahaan yang dikuasakan oleh Situmorang & Rekan. Termasuk satu untuk PT Sentra Abadi."
Wajah Pak Gunadi memucat. "Saya... tidak tahu mereka mengusulkan mengganti saya."
"Mereka mengusulkannya kemarin, dengan alasan Bapak 'sudah terlibat dalam rapat yang diskors sehingga kurang netral'." Alana menatapnya. "Tapi mengganti notaris netral dengan notaris yang punya tujuh akta untuk pengacara lawan—itu bukan menjaga netralitas. Itu membeli wasit."
Alana tidak datang untuk menyudutkan Pak Gunadi. Ia datang untuk merekrutnya—bukan ke pihaknya, tapi ke pihak keadilan prosedur.
"Saya tidak meminta Bapak memihak saya," lanjutnya. "Saya meminta Bapak memihak hukum. Kalau RUPS sepenting ini disahkan oleh notaris yang punya konflik kepentingan tersembunyi dengan salah satu pihak, dan keputusannya kelak digugat dan dibatalkan pengadilan—nama siapa yang akan tercoreng? Pranoto. Tapi juga sistem yang membiarkannya. Bapak punya wewenang menolak digantikan tanpa alasan sah, dan mengangkat persoalan konflik kepentingan ini di hadapan pemegang saham di awal rapat."
Pak Gunadi menatap berkas itu lama. Lelaki tua yang telah menjaga integritas reputasinya selama tiga dekade. Alana melihat pergulatan di wajahnya—ketakutan menghadapi Bonar Situmorang yang berkuasa, melawan harga diri seorang pejabat publik yang tidak ingin dijadikan boneka.
"Pranoto," gumamnya akhirnya. "Saya kenal dia. Tukang stempel." Ia mengangkat wajah, dan di matanya ada baja yang sebelumnya tak terlihat. "Saya akan tetap memimpin RUPS lanjutan, Nona Wijaya. Saya akan menolak penggantian. Dan kalau ada yang mempersoalkan, saya sendiri yang akan menjelaskan kenapa notaris dengan tujuh akta untuk salah satu pihak tidak layak memegang palu."
"Terima kasih, Pak Gunadi."
"Jangan berterima kasih." Lelaki tua itu berdiri. "Saya tidak melakukan ini untuk Anda. Saya melakukan ini karena saya muak dijadikan alat oleh orang-orang seperti Situmorang." Ia merapikan jasnya. "Tapi satu hal, Nona. Surya Danuatmaja akan mencari celah lain. Orang seperti dia selalu punya rencana cadangan. Tutup satu pintu, dia akan mencoba jendela."
Alana mengangguk. "Saya tahu. Itu sebabnya saya tidak mengandalkan satu pintu pun. Saya mengandalkan suara di RUPS. Pintu hukum hanya untuk memastikan permainannya adil."
Saat ia kembali ke menara, satu lagi celah Surya tertutup. Notaris yang netral tetap memegang palu. Tapi kata-kata Pak Gunadi mengiang: tutup satu pintu, dia akan mencoba jendela.
Malam itu, di kantornya, Alana membuka berkas reksa dana tujuh persen sekali lagi. Hari ini ia akhirnya menelepon manajer investasinya—seorang perempuan muda bernama Ibu Lestari yang suaranya berubah waspada begitu Alana memperkenalkan diri.
"Saya hanya ingin memastikan satu hal," kata Alana lewat ponsel pribadinya. "Saham Wijaya di reksa dana yang Ibu kelola—sebagian besar pemiliknya dana pensiun, benar? Maka Ibu punya kewajiban fidusia untuk memilih demi kepentingan nilai jangka panjang nasabah Ibu, bukan demi pihak yang menjanjikan keuntungan pribadi pada Ibu. Saya akan kirim, lewat saluran resmi, perbandingan dua skenario: perusahaan diselamatkan utuh, versus perusahaan dibongkar dan asetnya dijual murah. Ibu yang menilai mana yang menjaga nilai untuk nasabah Ibu. Saya hanya minta Ibu memilih jujur."
Hening lama di seberang. Lalu Ibu Lestari berkata, dengan hati-hati, "Tidak ada yang menjanjikan apa pun pada saya, Nona Wijaya. Tapi... ada yang menyiratkan bahwa memilih 'arah tertentu' akan baik untuk hubungan bisnis ke depan. Saya tidak nyaman dengan itu sejak awal."
"Maka pilih yang membuat Ibu nyaman," kata Alana. "Pilih yang bisa Ibu pertanggungjawabkan kalau suatu hari pengawas pasar modal bertanya kenapa Ibu memilih begitu."
Saat ia menutup telepon, Alana tidak tahu pasti tujuh persen itu akan ke mana. Tapi ia tahu, untuk pertama kalinya, suara itu bukan lagi milik Surya secara otomatis. Surya mengira ia sudah membelinya. Padahal yang ia beli hanyalah seorang manajer yang terikat hukum untuk mengkhianatinya bila kepentingan nasabah menuntut begitu.
Lima hari lagi. Dan Alana tahu, di suatu tempat di kota ini, Surya Danuatmaja sedang menghitung suara yang sama persis dengan yang ia hitung—dan mencari satu jendela yang belum ia kunci. Yang ia tidak tahu adalah: beberapa suara yang sudah ia masukkan ke kolomnya diam-diam sedang merembes keluar.