Serangan pertama datang lewat kaca depan mobil Alana.
Pagi itu, sopirnya, Pak Gunawan, menelepon dengan suara bergetar sebelum Alana sempat turun dari apartemen. Mobil yang diparkir di basement gedung ditemukan dengan kaca depan retak laba-laba, dan di kap mesin tergeletak sebuah amplop cokelat tanpa nama.
Alana turun, melarang satpam menyentuh apa pun, dan membuka amplop dengan sarung tangan dari kotak P3K mobil. Isinya selembar foto: dirinya, kemarin sore, keluar dari kantor Reza di kawasan Mega Kuningan. Diambil dari jarak dekat. Di baliknya, satu baris ketikan: *Hentikan menggali masa lalu. Yang mati biarlah mati.*
Tangannya tidak gemetar. Itu yang mengejutkannya. Tiga bulan lalu ia mungkin akan panik. Sekarang ia hanya merasa dingin yang akrab, perhitungan yang otomatis. Mereka tahu ia mendatangi Reza. Artinya pengawasan tak berhenti pada empat alat di kantor. Artinya ada mata di luar gedung.
Di kantor, ia menggelar pertemuan tertutup dengan Sekar dan Reza.
"Ini bukan Hendra," kata Reza, memeriksa foto. "Hendra menjepit orang lewat angka, bukan lewat kaca pecah. Ini gaya orang yang ingin kau merasa diawasi setiap saat. Ini Surya."
"Atau Garda Prima atas perintah Surya," timpal Sekar. Wajahnya pucat. "Bu Alana, ini sudah personal. Mereka tahu ke mana Anda pergi, dengan siapa Anda bicara—"
"Aku tahu." Alana meletakkan foto menelungkup. "Dan itu justru kabar baik."
Sekar menatapnya seolah ia gila.
"Kalau Surya cukup tenang, dia tidak perlu meretakkan kaca mobilku," jelas Alana. "Dia akan terus diam, membeli saham, menunggu RUPS. Ancaman ini berarti dia gugup. Foto pertemuan tahun sembilan puluh tujuh itu — entah bagaimana dia tahu kita memegang sesuatu dari kartu memori Ayah. Penyadap di kantor menangkap aku menyebut 'foto lama' tadi malam." Ia berhenti. "Yang berarti, sekali lagi, aku bisa memberinya makan informasi palsu lewat telinga yang sama."
Hari itu juga Alana berakting. Di kantor yang masih disadap, ia menelepon Reza dengan suara cukup keras, mengeluh bahwa "berkas foto itu ternyata rusak, hanya dua gambar yang terbaca, dan tidak ada yang berguna." Ia berharap Surya menelan umpan, mengira ancamannya berhasil menakutinya mundur.
Tapi malam itu, di apartemen, Alana memasang sistem keamanan baru dengan bantuan Reza dan memindahkan dokumen pentingnya. Ia juga melakukan sesuatu yang tidak ia ceritakan pada siapa pun: ia menelepon seorang teman lama dari masa konsultan di Singapura, seorang mantan jaksa yang kini praktik swasta, dan mulai menanyakan tentang prosedur perlindungan saksi dan pelaporan ke aparat bila terjadi intimidasi.
"Kau menyimpan ini sebagai amunisi atau sebagai jaring pengaman?" tanya temannya di telepon.
"Keduanya," jawab Alana. "Kalau mereka berani menyentuhku, aku ingin jejaknya sudah tercatat sebelum apa pun terjadi."
Ia menutup telepon dan berdiri di jendela. Di bawah, lampu kota sama seperti tadi malam. Tapi sekarang ia tahu salah satu dari titik-titik cahaya itu mungkin adalah mobil yang memarkir dengan mesin menyala, menunggu, mengawasi.
Ayahnya pernah menulis dalam suratnya: *mereka akan mencoba membuatmu takut sebelum mencoba membuatmu kalah.* Alana mengerti sekarang. Ketakutan adalah serangan pertama karena paling murah. Dan ia memutuskan, sambil menatap kota yang luas dan acuh tak acuh itu, bahwa ia tidak akan memberi mereka kepuasan itu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sekar. *Bu, ada yang harus Anda tahu tentang Pak Wibisana dari logistik. Dia tidak masuk hari ini. Dan dia tidak mengangkat telepon sejak siang.*
Pak Wibisana. Kepala gudang pelabuhan. Orang yang dua hari lalu setuju memberi keterangan tentang kontrak PT Bahari.