Mereka menemukan Pak Wibisana di rumah sakit, bukan di kamar mayat. Untuk itu, Alana bersyukur sampai lututnya lemas.
Kabarnya datang menjelang tengah malam. Wibisana mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol arah Cikampek; mobilnya menghantam pembatas, terguling sekali. Polisi menyebut kemungkinan sopir mengantuk. Tapi saat Alana dan Sekar tiba di IGD, istri Wibisana menarik lengan Alana dengan tangan dingin.
"Suami saya tidak mengantuk, Bu," bisiknya, mata merah. "Dia bilang ada mobil yang mengikuti sejak keluar gerbang tol. Dia telepon saya, panik. Lalu sambungannya putus."
Wibisana selamat — patah tulang selangka, gegar otak ringan, dan ketakutan yang jauh lebih dalam dari luka mana pun. Ketika Alana diizinkan menengoknya keesokan paginya, lelaki paruh baya itu memegang tangannya dengan cengkeraman putus asa.
"Bu Alana, saya minta maaf," suaranya serak di balik selang oksigen. "Saya tidak bisa bersaksi. Saya punya tiga anak. Tolong... cari orang lain."
Alana duduk di sisi ranjang, menahan amarah yang membakar dadanya — bukan pada Wibisana, tapi pada orang yang membuat seorang ayah memohon maaf karena ingin melindungi anak-anaknya. "Pak Wibisana, Bapak tidak perlu minta maaf pada siapa pun. Yang harus minta maaf adalah orang yang membuat Bapak ketakutan."
"Mereka tahu, Bu," Wibisana menelan ludah. "Mereka tahu saya bicara sama tim audit. Bagaimana mereka bisa tahu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau.
Di koridor rumah sakit, Alana berdiri lama menatap lantai keramik yang dipantul-pantulkan lampu neon. Sekar di sampingnya, menggenggam map berisi pernyataan saksi yang kini tak ada gunanya.
"Hanya empat orang yang tahu Wibisana akan bersaksi," kata Alana, suaranya rata dan dingin. "Aku. Kamu. Ketua tim audit forensik, Bu Lestari. Dan Reza." Ia berbalik menatap Sekar. "Penyadap di kantorku tidak menangkap nama Wibisana, karena aku tidak pernah menyebutnya di kantor. Aku hati-hati soal itu."
Sekar memucat. "Maksud Bu Alana... ada kebocoran di luar penyadap?"
"Maksudku," kata Alana, memilih kata-katanya dengan hati-hati karena ia tahu memikirkan ini sama menyakitkannya bagi Sekar seperti baginya, "informasi ini keluar dari salah satu dari kita berempat. Atau dari seseorang yang dipercaya salah satu dari kita." Ia menggeleng pelan. "Aku tidak menuduhmu, Sekar. Tapi mulai sekarang, lingkaran kepercayaan kita harus dianggap bocor sampai terbukti sebaliknya."
Mata Sekar berkaca-kaca, antara terluka dan takut. "Saya akan lakukan apa pun untuk membuktikan—"
"Aku tahu." Alana meremas bahunya. "Karena itu aku masih berdiri di sini bicara denganmu, bukan memecatmu."
Sore itu, Alana mengambil keputusan yang mengubah cara perangnya berjalan. Ia menghentikan semua perekrutan saksi dari luar. Tidak akan ada lagi orang biasa yang dijadikan tameng dan diburu di jalan tol. Korban pertama sudah cukup. Mulai sekarang, ia hanya akan memakai bukti dokumen, jejak transaksi, dan rekaman — hal-hal yang tidak punya anak untuk dilindungi, tidak punya ketakutan untuk dieksploitasi.
Dan ia melakukan satu hal lagi. Ia menempatkan dua orang dari tim keamanan tepercaya Reza untuk menjaga keluarga Wibisana, tanpa diminta, tanpa publikasi. Bukan karena ia membutuhkan kesaksian Wibisana lagi. Tapi karena ia menolak menjadi seperti musuhnya — seseorang yang memandang manusia hanya sebagai bidak.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Alana menatap setiap mobil di belakangnya lewat spion. Untuk pertama kalinya, perang ini terasa bisa membunuh. Dan ia tahu, dengan kepastian dingin yang menetap di tulangnya, bahwa orang yang mengirim mobil ke jalan tol itu tidak akan berhenti pada satu korban.