Bila ia tak bisa mempercayai gedungnya sendiri, Alana memutuskan untuk membangun barisan di luar gedung itu.
Pertemuan diadakan di sebuah rumah lama di kawasan Menteng, milik mantan jaksa temannya, tanpa ponsel, tanpa nama di kalender mana pun. Tujuh orang berkumpul mengelilingi meja makan tua: Alana, Sekar (yang ia putuskan tetap ia bawa — sebagian sebagai uji kepercayaan terakhir, sebagian karena hatinya menolak menyerah padanya), Reza, Bu Lestari, dan tiga orang yang akan mengubah peta perang.
Yang pertama, Damar Adiwangsa.
Ia datang terakhir, mantel mahal dan senyum yang tak pernah sampai ke mata. "Aku tidak pernah mengira akan duduk semeja dengan Wijaya untuk hal selain membeli kalian," katanya, menarik kursi. "Tapi musuh dari musuhku, begitulah."
"Mari kita jujur sejak awal, Pak Damar," kata Alana. "Anda di sini bukan karena peduli pada saya. Anda di sini karena Surya Danuatmaja, kalau berhasil mencaplok Wijaya, akan jadi terlalu besar — dan Anda tidak ingin pesaing yang dipersenjatai dendam tiga puluh tahun. Kita sependapat soal itu?"
Damar tertawa pelan, terkesan. "Ayahmu tidak sefrontal ini. Aku menyukainya. Ya. Surya yang menang adalah Surya yang berikutnya datang ke pintuku. Aku lebih suka dia jatuh di rumahmu daripada tumbuh di halaman belakangku."
"Bagus. Maka selama perang ini, Adiwangsa Holdings memberi Wijaya dua hal: akses ke jaringan banknya untuk mengamankan restrukturisasi, dan suara di pasar saham untuk menyerap lembar-lembar yang Surya incar. Sebagai gantinya—"
"Sebagai gantinya," potong Damar, "kalau kita menang, kita bicara soal kerja sama, bukan akuisisi. Aku tidak menelan Wijaya. Aku berbagi proyek properti Sudirman. Hitam di atas putih, ditandatangani sekarang." Ia mendorong map ke tengah meja. "Aku tidak percaya jabat tangan. Aku hanya percaya tanda tangan."
Alana membaca tiap baris, mengoreksi dua klausa yang memberi Damar terlalu banyak akses ke pembukuan internal, lalu menandatanganinya. Ia tahu pisau ini bermata dua. Tapi pisau bermata dua tetap pisau, dan ia sedang berperang.
Orang kedua di meja adalah Bu Lestari, yang melaporkan bahwa audit forensik kini punya cukup dokumen untuk membuktikan aliran dana mark-up dari kontrak PT Bahari — sekitar dua koma lima miliar rupiah setiap bulan selama bertahun-tahun, mengalir ke perusahaan adik Hendra, Wirawan Salim. "Ini sudah cukup untuk laporan pidana," kata Lestari. "Tinggal menunggu waktu."
Dan orang ketiga — yang membuat seluruh meja terdiam saat namanya disebut — bukan hadir secara fisik, melainkan dalam strategi.
"Hendra Salim," kata Alana, menggelar foto pertemuan tahun sembilan puluh tujuh di tengah meja. Wajah Hendra muda, semeja dengan Surya dan ayahnya, mengejutkan semua orang kecuali Reza. "Selama ini kita menganggap Hendra sebagai sekutu Surya yang harus dijatuhkan. Aku ingin mengubah itu. Aku ingin menjadikannya senjata."
Damar mengangkat alis. "Kau ingin membalik kepala keuanganmu sendiri."
"Hendra takut pada dua hal," kata Alana. "Penjara, karena mark-up itu. Dan Surya, karena dia tahu kalau permainan ini kalah, Surya akan menjadikannya kambing hitam tunggal. Aku akan menawarkan padanya hal yang tidak bisa diberikan Surya: jalan keluar. Bersaksi melawan Surya, serahkan apa yang dia tahu tentang tahun sembilan puluh delapan, dan aku akan memperjuangkan keringanan untuknya."
Sekar bersuara, hati-hati. "Bagaimana kalau dia berpura-pura membelot, lalu melaporkan semuanya ke Surya?"
"Maka kita beri dia informasi yang kita ingin Surya dengar," jawab Alana. "Sama seperti penyadap. Setiap pengkhianat bisa diubah jadi saluran, asal kita yang menentukan apa yang mengalir lewatnya."
Pertemuan bubar lewat tengah malam. Garis pertempuran kini jelas: di satu sisi, Alana, Sekar, Reza, audit forensik, dan aliansi rapuh dengan Damar Adiwangsa. Di sisi lain, Surya Danuatmaja dengan delapan belas persen sahamnya, Garda Prima, Bonar Situmorang, dan seorang pengkhianat tak dikenal yang masih duduk di salah satu kursi terdekat Alana.
Saat semua pergi, Reza menahan Alana sebentar di teras. "Surya akan tahu kita berbaris. Pertemuan sebesar ini tidak akan luput selamanya."
"Aku berharap dia tahu," kata Alana, menatap kegelapan halaman. "Tiga puluh tahun dia bermain dari balik bayangan, membeli saham sepotong demi sepotong, tanpa ada yang berani menatapnya. Sekarang ada barisan yang menatapnya. Biar dia merasakan, untuk pertama kalinya, bagaimana rasanya diburu."
Di seberang kota, seolah menjawab, ponsel Surya Danuatmaja berdering. Sebuah laporan masuk. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, lelaki berambut perak itu berhenti tersenyum.