Surya tidak membalas dengan satu pukulan. Ia membalas dengan badai.
Senin pagi, tiga gugatan didaftarkan sekaligus di pengadilan oleh Situmorang & Rekan atas nama PT Sentra Abadi dan dua pemegang saham minoritas. Yang pertama menggugat keabsahan pengangkatan Alana sebagai Direktur Utama, mempersoalkan teknis surat wasiat Bramantyo. Yang kedua menuntut pembatalan rencana sale-and-leaseback gedung Sudirman dengan dalih merugikan pemegang saham. Yang ketiga, paling licik, meminta pengadilan menunjuk pengawas independen atas keuangan Wijaya Group — yang artinya membekukan kewenangan Alana atas kas perusahaan tepat saat tenggat utang mendekat.
"Dia tidak butuh menang di pengadilan," kata Bonar — bukan, kata Reza, membaca berkas gugatan di ruang rapat lantai 24. "Dia hanya butuh kau sibuk dan kasmu beku. Sembilan puluh hari menuju jatuh tempo utang dua ratus dua puluh miliar sudah tinggal berapa, Bu?"
"Dua puluh enam hari," jawab Sekar, suaranya tegang.
Dua puluh enam hari. Dan Surya baru saja mencoba mengikat kedua tangan Alana selama proses hukum berbulan-bulan.
Serangan kedua datang di pasar. Sepanjang Selasa dan Rabu, harga saham Wijaya yang diperdagangkan publik anjlok delapan persen. Bukan kebetulan. Sebuah laporan analis dari sekuritas kecil — yang belakangan terbukti berafiliasi dengan jaringan Surya — beredar luas, menyebut Wijaya Group "berada di ambang gagal bayar" dan "kepemimpinan yang tidak teruji". Investor publik panik. Setiap lembar yang mereka lepas dengan harga jatuh, diam-diam diserap oleh perantara yang bermuara ke Sentra Abadi. Surya sedang menambah amunisi sahamnya sambil melemahkan Alana — dua keuntungan dari satu serangan.
Alana menghadapinya dengan kepala dingin yang ia paksakan, meski dadanya terbakar.
"Damar," ia menelepon dari ruang aman, "laporan analis itu sedang menghancurkan harga sahamku. Aku butuh jaringanmu menyerap lembar yang dilepas publik sebelum semuanya jatuh ke tangan Surya."
"Sudah kulakukan sejak Selasa siang," suara Damar tenang di seberang. "Aku tidak akan membiarkan Surya memungut Wijaya dari lantai dengan harga murah, ingat? Tapi, Alana — penyerapan ini mahal. Aku menahan harga dengan uangku sendiri. Aliansi ini punya batas anggaran."
"Aku mengerti. Tahan sebisamu. Aku akan urus gugatan."
Untuk gugatan, Alana memainkan kartu prosedural yang ia warisi dari intuisi ayahnya dan keahlian restrukturisasinya sendiri. Bersama tim hukum, ia mengajukan eksepsi: gugatan atas surat wasiat sudah kedaluwarsa secara prosedural karena pengangkatan telah disahkan RUPS sebelumnya; dan permintaan pembekuan kas adalah upaya yang tidak proporsional, mengingat justru pembekuan itulah yang akan menyebabkan gagal bayar dan merugikan seluruh pemegang saham — termasuk penggugat sendiri. Argumen terakhir itu jenius dalam kesederhanaannya: ia membalikkan logika Surya menjadi senjata melawannya.
"Hakim tidak akan mau dituduh menyebabkan kebangkrutan sebuah konglomerasi dengan ribuan karyawan," kata pengacara Alana. "Permintaan pembekuan kas akan sulit dikabulkan kalau kita buktikan itu kontraproduktif."
Tapi semua ini menghabiskan waktu yang tidak Alana punya. Setiap jam yang ia pakai untuk memadamkan satu api, satu api lain menyala.
Kamis malam, di kantornya yang lengang, Alana menatap papan tulis penuh angka, tenggat, dan nama. Dua puluh tiga hari. Kas yang terancam beku. Saham yang dijatuhkan. Tiga gugatan. Dan di balik semuanya, lelaki berambut perak yang tidak menyerang untuk menang cepat, melainkan untuk membuatnya lelah, terhuyung, dan akhirnya jatuh karena kehabisan napas.
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Sebuah pesan suara. Alana memutarnya.
Suara Surya, tenang seperti biasa, hampir lembut. "Alana. Ayahmu juga bertahan lama. Aku memberinya waktu bertahun-tahun untuk merasakan tanah longsor perlahan dari bawah kakinya. Tapi kau, anakku, kau tidak punya waktu bertahun-tahun. Kau punya minggu." Jeda. "Serahkan perusahaan. Dan aku akan mengakhiri ini dengan damai. Tolak — dan kau akan mengerti mengapa ayahmu, di hari-hari terakhirnya, jantungnya tidak sanggup lagi."
Pesan berakhir. Tangan Alana mengepal di sisi tubuhnya.
*Jantungnya tidak sanggup lagi.* Sebuah kalimat. Tapi di dalamnya, untuk pertama kalinya, Surya nyaris mengakui sesuatu tentang kematian ayahnya.
Alana menyimpan rekaman itu. Bukan ke ponselnya. Ke tiga tempat sekaligus.