Tujuh belas hari sebelum jatuh tempo, dinding mulai retak dari dalam.
Bank Mahardika — salah satu dari dua bank yang sudah menyetujui konversi utang menjadi obligasi tenor lima tahun — tiba-tiba menunda penandatanganan akhir. Surat resmi datang berbahasa hati-hati: "menunggu kepastian situasi hukum perusahaan" dan "kejelasan tata kelola di tengah sengketa pemegang saham". Terjemahan jujurnya: gugatan Surya telah membuat bank gugup.
"Mereka melihat tiga gugatan dan harga saham anjlok, lalu menarik diri," kata Alana, menggebrak meja pelan — gestur kemarahan terkendali yang jarang ia izinkan. "Surya tidak perlu memenangkan gugatan. Dia hanya perlu membuat banknya takut. Dan itu berhasil."
Tanpa Bank Mahardika, struktur restrukturisasi runtuh. Bank Arta Sentosa sendiri tidak cukup untuk menyerap seluruh utang dua ratus dua puluh miliar. Dan bank ketiga yang dulu Alana kejar belum pernah benar-benar mengunci komitmennya.
Sekar membawa angka-angka yang menggigit. Kas operasional, setelah dikuras gugatan, biaya hukum, dan beban bulanan tiga puluh delapan miliar, kini tipis. Sale-and-leaseback gedung Sudirman — yang seharusnya menyuntik seratus dua puluh miliar — tersandera gugatan kedua dan belum cair. Tanpa kedua sumber itu, dalam tujuh belas hari, Wijaya Group akan gagal membayar utang jatuh tempo, dan gagal bayar berarti kreditor bisa memaksa likuidasi atau menyita aset — persis hadiah yang Surya tunggu.
"Kita di ujung tanduk," kata Alana terus terang pada lingkaran kecilnya. Tidak ada gunanya melembutkan kebenaran. "Aku tidak akan berbohong pada kalian. Tujuh belas hari, dan kita kekurangan sekitar seratus enam puluh miliar."
Hari-hari berikutnya menjadi maraton. Alana menemui pimpinan Bank Mahardika secara langsung, bukan untuk memohon, tapi untuk menunjukkan eksepsi hukumnya dan opini independen yang menyatakan gugatan Surya lemah. Ia membawa data arus kas yang membuktikan bahwa konversi obligasi justru menyelamatkan, bukan membahayakan, posisi bank. Ia berbicara selama tiga jam, dengan ketenangan seorang yang sudah merestrukturisasi belasan perusahaan di Singapura, dan ia melihat keraguan di mata direktur bank itu mulai berbalik.
Sementara itu, untuk gugatan yang menyandera gedung Sudirman, tim hukumnya berhasil meyakinkan hakim mengeluarkan penetapan sela: transaksi sale-and-leaseback boleh berjalan dengan syarat dana disimpan di rekening penampungan (escrow) sampai sengketa selesai. Bukan kemenangan penuh. Tapi cukup untuk mencairkan likuiditas yang terkunci — karena dana di escrow tetap bisa dipakai membayar utang dengan persetujuan pengawas pengadilan, dan membayar utang menguntungkan semua pihak.
Damar memberi kontribusi terakhir yang menentukan. "Aku akan menjamin selisihnya," katanya dalam pertemuan rahasia, "dalam bentuk pinjaman jembatan jangka pendek dari Adiwangsa. Bunga pasar, jangka tiga bulan. Bukan amal — investasi. Tapi ini membuatmu sampai garis finis." Ia menatap Alana. "Anggap ini taruhanku bahwa kau menang. Kalau kau kalah, uangku ikut tenggelam. Jadi pastikan kau tidak kalah."
Alana tahu apa artinya menerima pinjaman jembatan dari pesaing terbesarnya. Itu membuka pintu, sekecil apa pun, bagi Damar untuk suatu hari menagih dengan cara yang tidak ia suka. Tapi pintu yang terbuka sedikit lebih baik daripada perusahaan yang runtuh seluruhnya. Ia menandatangani.
Pada hari kesepuluh sebelum jatuh tempo, potongan-potongan itu mulai tersusun: Bank Arta Sentosa solid, Bank Mahardika kembali ke meja setelah dibujuk fakta, dana escrow Sudirman cair sebagian, dan pinjaman jembatan Damar menutup celah terakhir. Di atas kertas, angkanya pas — nyaris pas, dengan margin setipis kertas.
Tapi "nyaris" adalah kata yang berbahaya. Alana tahu Surya masih punya satu napas lagi untuk merobohkan menara yang berdiri di atas garis tepi setipis ini. Dan ia benar.
Malam itu, Sekar menelepon dengan suara yang membuat perut Alana jatuh. "Bu, ada masalah dengan Bank Arta Sentosa. Penandatanganan besok pagi. Tapi tadi sore mereka menerima dokumen — semacam laporan — yang membuat komite kredit mereka memanggil rapat darurat malam ini." Sekar menelan ludah. "Dokumen itu berisi informasi internal kita, Bu. Detail yang seharusnya hanya diketahui orang dalam. Seseorang mengirimnya untuk menggagalkan kita di garis finis."
Pengkhianat itu bergerak lagi. Dan kali ini, ia mengarahkan pukulannya tepat ke jantung penyelamatan Alana.