Alana tidak pulang malam itu. Ia pergi langsung ke kantor pusat Bank Arta Sentosa, di mana komite kredit sedang bersidang darurat, dan ia meminta — menuntut — untuk diberi sepuluh menit di depan mereka.
Dokumen yang dikirim si pengkhianat adalah racun yang dirancang rapi: kumpulan memo internal Wijaya, sebagian asli sebagian dipelintir, yang menggambarkan perusahaan jauh lebih rapuh daripada kenyataan, dan menyiratkan bahwa Alana menyembunyikan kewajiban tersembunyi dari bank. Tujuannya jelas — membuat komite kredit menarik komitmen di menit terakhir, menjatuhkan satu kartu yang membuat seluruh susunan runtuh.
"Tuan-tuan," kata Alana, berdiri di ujung meja konferensi panjang, sebelas wajah skeptis menatapnya, "seseorang mengirim Anda dokumen ini agar Anda takut. Saya tidak akan menghabiskan waktu menyangkal setiap baris. Saya akan melakukan sesuatu yang lebih berguna. Saya akan membuka segalanya."
Ia membuka laptopnya dan menayangkan pembukuan Wijaya — bukan versi yang dipoles, melainkan angka mentah, real-time, termasuk kewajiban yang oleh dokumen racun itu disebut "tersembunyi". "Ini yang mereka sebut disembunyikan. Lihat — sudah tercatat di sini, di laporan yang sama yang saya serahkan ke komite ini tiga minggu lalu. Tidak ada yang disembunyikan. Yang ada hanyalah orang yang berkepentingan agar Anda gagal mempercayai saya, karena bila bank ini menarik diri malam ini, perusahaan saya gagal bayar — dan satu-satunya pihak yang diuntungkan oleh kegagalan itu adalah orang yang ingin mencaplok Wijaya dengan harga reruntuhan."
Ia membiarkan kalimat itu mengendap. Lalu ia memainkan kartu terakhirnya — bukan emosi, tapi aritmatika.
"Konversi utang ini menguntungkan bank Anda. Bila saya gagal bayar, Anda menjadi kreditor dalam likuidasi yang panjang, berebut aset dengan belasan kreditor lain, dan beruntung memulihkan separuh. Bila Anda menandatangani obligasi konversi, Anda mendapat instrumen bertenor lima tahun dengan jaminan aset properti yang nilainya jauh di atas pokok utang, dan bunga yang lebih tinggi dari deposito. Pertanyaannya bukan apakah Anda mempercayai saya. Pertanyaannya adalah versi mana dari diri Anda yang ingin Anda jelaskan kepada pemegang saham bank Anda tahun depan — yang menyelamatkan instrumen menguntungkan, atau yang panik karena selembar dokumen anonim."
Ruangan hening. Ketua komite, seorang perempuan tua berkacamata yang sejak tadi diam, menurunkan dokumen racun ke meja. "Siapa yang mengirim ini?" tanyanya pelan.
"Saya belum tahu," jawab Alana jujur. "Tapi saya akan mencari tahu. Dan ketika saya menemukannya, dokumen itu sendiri akan menjadi bukti pidana atas upaya sabotase. Saya sarankan Bank Arta Sentosa tidak ingin tercatat sebagai pihak yang ikut menelannya."
Sidang berlanjut hingga pukul tiga dini hari. Pada pukul tiga lewat dua puluh, komite kredit memutuskan: komitmen konversi tetap. Penandatanganan berjalan sesuai jadwal pagi nanti.
Tiga hari kemudian — empat hari sebelum tenggat — semua potongan akhirnya terkunci di tempatnya. Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika menandatangani konversi obligasi. Dana escrow dari sale-and-leaseback Sudirman cair untuk pembayaran utang dengan restu pengawas pengadilan. Pinjaman jembatan Adiwangsa menutup selisih terakhir.
Pada hari jatuh tempo, Alana duduk di kantornya dan menyaksikan Sekar mengonfirmasi transfer terakhir. Utang dua ratus dua puluh miliar rupiah — jam pasir yang menggantung di atas kepalanya sejak hari pertama ia melangkah ke ruang rapat lantai 25 — lunas. Dibayar. Selesai.
Pendarahan berhenti.
Sekar menangis pelan, lega. Reza menyandarkan punggung dengan mata terpejam. Bahkan Bu Lestari, yang biasanya kaku, tersenyum tipis. Untuk satu momen singkat, ruangan itu terasa seperti kemenangan.
Alana tidak ikut tersenyum lama. Ia tahu kebenarannya: melunasi utang hanya menutup satu front. Perusahaan kini bernapas, tapi musuh masih memegang delapan belas persen saham, masih punya pengacara, masih punya mata di dalam gedung ini, dan masih punya dendam tiga puluh tahun yang belum mereda satu inci pun.
Ia menatap layar tempat konfirmasi pembayaran berkedip hijau, lalu berkata pelan, lebih kepada bayangan ayahnya daripada kepada orang di ruangan, "Front pertama selamat, Ayah. Sekarang aku akan cari siapa yang berdiri di belakang punggungku."
Karena dokumen racun yang dikirim ke Bank Arta Sentosa berisi detail yang hanya diketahui segelintir orang. Dan kali ini, Alana sudah menyiapkan jebakan yang bersih.