| O1: Mimpi dan Papa
Bandara ramai.
Padahal waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu normal orang-orang sudah mulai berangkat istirahat. Namun disini, keramaian orang-orang seolah mengatakan, sekarang adalah awal kesibukan, bergerak sekarang, atau memilih tertinggal di belakang. Bandara adalah tempat fana. Dia hanya didatangi banyak orang, namun untuk singgah sesaat. Soal berbeda waktu saja, yang datang harus pergi.
Nara merangkul Mami yang mulai terisak melihat abangnya, Manggala. Yang hari ini akan berangkat ke negara yang dia tuju untuk melanjutkan pendidikannya. Dimana-mana, perpisahan selalu meninggalkan kesedihan. Mami mengalaminya hari ini. Makanya Nara merengkuhnya. Tingginya dan tinggi Mami sudah menciptakan gap besar berkat gen Papa yang dia turuni. Makanya dengan mudah, Nara menyembunyikan wajah Mami ke dadanya.
Nara tahu Manggala melihatnya. Abangnya itu mengkode Nara. Berkata tanpa kata bahwa dia hendak menggantikan posisinya memeluk Mami.
"Mami, jangan nangis, nanti maskaranya luntur." bisik Nara.
Mami terkekeh dan melepaskan pelukan.
"Mi, sini, deh. Pelukan Papa nggak kalah hangat dari pelukan Nara." Papa maju. Mendorong Gala yang sudah ingin maju jadi berhenti di tempat.
"Peluk aja tiang, Pa. Sama anak sendiri kok jelous." Cibir Mami.
Gala langsung maju melewati papa dan memeluk Mami. Melihat bagaimana wajah abangnya jadi sedih, Nara terkekeh.
"Lo masih bisa pulang kalau lo mau. Yang ngebayarin Papa."
"Boleh juga." jawab Gala. "Papa bisa jajanin aku tiket pulang kalau sewatu-waktu aku kangen Mami."
"Kalau gini caranya, mending amu nggak usah balik ke Indo, bang. Nggak apa-apa anak Paap berkurang satu. Papa masih bisa punya anak lagi."
"Ketimbang punya anak lagi. Mending cari isteri aja lagi, Pa." Celetuk Nara. Celetukan seperti ini sudah sering terdengar sebagai candaan di keluarga mereka. Candaan khusus untuk Papa sebab Papa memiliki dua isteri. Mami adalah isteri keduanya. Sedangkan isteri pertamanya, yang juga Ibu kandung Nara, biasa dipanggil Bunda, kini berada di Jepang sebab memenuhi pekerjaannya sebagai pelatih pramugari dan tidak bisa ikut mengantarkan Gala hari ini.
"Nara nggak mau punya adik." tambah Nara. Walau wajahnya keliatan sama sekali lagi main-main. Jauh di dalam hati Nara serius. Dia tidak mau punya adik. Cukup dirinya yang jadi bungsu. Nanti perhatian Mami dan Bunda bukan ke dirinya lagi.
Nazneen, kakak nomor tiga Nara tertawa kaku. Gadis itu nimbrung setelah kalah pushrank. Tangannya terulur untuk mengusak rambut belakang Nara. "Lucu banget, Papa udah akhir lima puluh tahun. Kalau masih cari isteri lagi. Gue serius mau keluar sendiri dari KK." Ujarnya yakin.
Membuat Papa pura-pura bergidik ngeri. "Ih, serem."
Melihat respon sang ayah yang kelewat santai atas ancamannya, Naz sewot."Papa emang nggak bisa diajak serius!"
"Emang barusan kamu serius?"
"Seriusan!"
"Loh, kamu nggak mau warisan dari papa?"
Gala dan Nara tanpa diminta lansung saling pandang. Sedangkan Mami menggeleng melihat kelakuan anak gadisnya dan sang ayah.
"Aku bakal rebut paksa kalau Papa ngga ngasih aku warisan, lihat aja."
"Aduh, atut."
"Papa, ih!"
Nara terkekeh melihat Naz yang kini mulai bercanda dengan Papa. Dari kelima saudaranya, hanya Naz yang berani meroasting Papa. Pandangan Nara lalu jatuh pada abangnya dan Mami yang tengah ngobrol. Gala adalah abangnya satu ayah. Namun karena kasih sayang Papa dan kekompakannya dengan isteri-isterinya, Nara dekat dengan saudara-saudara beda ibunya. Mereka tinggal bersama di rumah Papa. Bersama bertahun-tahun. Menciptakan kekeluargaan erat. Stigma tidak sehat tentang poligami dipatahkan oleh Papa dan keluarga yang dia miliki. Di pandangan Nara, Papa adalah sosok terbuka yang berpikiran luas dan adil. Sosok yang sampai kapanpun akan menjadi panutan Nara dalam hidupnya.
"Kalau ada Mas Utha, Mami mungkin nangis lebih kenceng." Ujar Nara pada Neyshan, kakak pertamanya, yang baru bergabung setelah membeli beberapa penganan ringan di market bandara. Mas Utha adalah anak laki-laki pertama Papa yang lahir setelah Ney. Jumlah saudara Nara ada empat. Bila diurut secara umur, maka Neyshan adalah anak pertama Papa. Disusul Makutha, Nazneen, Manggalan dan terakhir dirinya.
"Soalnya Utha bakal ngedekep Mami sampai tangisannya nggak kedengaran." Tambah Ney, memberikan sebungkus ciki ukuran sedang pada Nara yang diterima dengan tangan terbuka. "Ini pada mau berdiri disini aja? Masih ada tiga puluh menit sebelum Gala masuk. Duduk, yuk." Ney menggandeng Papa mendekati kursi duduk kosong terdekat. Gala merangkul Mami. Melihat itu Nara juga ikutan merangkul Naz.
"Kak, kok lo pendek, sih?" Tanya Nara. Tangannya terlentang memeluk pundak Naz dengan mudah. Tanpa perlu berjinjit seperti dulu.
"Gue 165, ya! Lo aja yang tiang banget." Naz sewot. Perasaan dirinya paling tinggi diantara teman-temannya. Hei, tingginya lebih dari tinggi perempuan Indonesia. Seenaknya Nara mengatainya pendek. "Tapi, seriusan Na, lo pernah setinggi pinggang gue." Naz mendongak. Merasa tidak adil sebab dia lahir lebih dulu tapi kalah besar. Namun kemudian sadar, gen yang mereka bawa berbeda.
"Itukan dulu. Sekarang bahkan gue udah bisa nutupin badan lo." NAra melepas rangkulann dan berdiri di belakang sang kakak. "Dari belakang elo ketutupan. Lihat, pertumbuhan gue maksimal." uajr Nara menyombong.
"Terus maksud lo, pertumbuhan gue nggak maksimal gitu?"
"Bukan."
"Terus tadi maksudnya apa?"
"Kok lo sensi banget, sih. Pantes nggak pernah keliatan punya pacar."
"Gue mah orangnya low profile, ya. Single in public. Boyfriend in private."
"Terus sekarang lo punya pacar?"
"Nggak, sih."
"Ya terus kenapa ngomong single in public boyfriend in private???" Nara sewot.
"Ya pengan aja. Emang gue nggak boleh ngomong gitu?" Naz gantian nyolot.
Nara mendecih. Tangannya terulur untuk menarik (baca: menjambak kecil) rambut Ney dan berlari menjauhinya. Ney yang ditinggal menggerutu sendiri. Cuma ditarik rambutnya sih, tapi tetap saja kepala Ney sampai mendongak. Dasar adik!
Untung sayang.
"Buruan!" Ney berseru agar Ney dan Naz bergegas mendekat. Mereka akan berfoto berenam sebagai kenang-kenangan. Setelah selfie bareng, Nara menawarkan diri untuk memotret keluarganya.
Walau masih amatiran, begini-begini Nara tahu bagaimana menyeting kamera ponsel agar menghasilkan gambar yang sesuai kemauan. Nara memiliki ketertarikan sendiri dalam fotografi, dan sering mengisi waktu luangnya dengan belajar memotret secara otodidak melalui internet.
"Mas Utha telfon!" Nara memekik. Segera mengangkat panggilan video yang masuk dan mengarahkan ponsel ke keluarganya.
"Kok gelap, Ta?" tanya Ney.
"Lampu kamar gue mati. Belum sempet gue ganti." di layar ponsel, Utha nampak membawa ponselnya keluar menuju tempat yang lebih terang. "Mami kenapa nangis?" laki-laki itu tertawa.
"Ih Nara wajah Mami jangan di zoom." Nara terkekeh pelan. Perempuan ahir 40-an itu mengambil alih ponsel dari genggaman tangan anak bungsunya. "Kamu habis pulang?"
"Iya, Mi. Habis praktek lapangan. Ke laut, Mi. Wajahku buluk banget karena mandi cuma sehari waktu praktek."
"Terus, kamu tidur jam berapa? Eh, bukan, semalam kamu tidur berapa jam?"
"Dua jam kali, ya. Tapi aku tidur cukup, Mi."
Papa yang sejak tadi berdiri di sisin Mami, mulai menampakkan layar di ponsel. "Mas, kok nggak siap-siap jemput Gala?"
"Pa, penerbangannya seharian. 24 jam Gala di udara. Aku masih bisa tidur, mandi, makan dulu selagi nunggu Gala sampai." Menangkap sosok Gala dan Nara yang berdiri di belakang Papa, Utha tersenyum. "Mi, anak cowok Mami berkurang lagi."
"Kalian ini, suka banget sekolah jauh." Mami membuang muka. Berpindaj pada Ney yang segari tadi berdiri sambil makan ciki yang dia beli bersama Naz.
"Mas!" Nara mengambil alih ponsel dari Papa. "Mas tadi kita mau foto. Mumpung elo telfon. Kita foto bareng. Bentar, gue sambungin ke Bunda."
Menunggu tiga menit tanpa ada respon dari Bunda, Nara menyerah. Mereka sepaat akan berfoto tanpa Bunda. "Kita foto bertuju." Nara kemudian meminta tolong pada office boy untuk memotret keluarganya. Nara memegang ponsel. Menunjukkan Utha yang tersenyum lebar di layar ponsel.
Usai berfoto bertuju, panggilan keberangkatan pesawat Jakarta menuju Toronto mulai terdengar. Sambungan telfon Utha terputus setelah Utha mendapatkan nasehat singkat dengan Mami. Semuanya bergegas menuju pintu boarding. Papa yang pertama memberikan pelukan terakhir pada Gala. Lalu urut ke Mami hingga terakhir giliran Nara.
Melihat abangnya yang sering dia jahili, sering dia repotkan, sering dia ejek, kini harus kuliah jauh, membuat Nara sedih juga. Sedih sebab siapa lagi yang akan menjadi objek kejahilannya si rumah. Karena Kak Ney bekerja sebagai dosen dan sudah tidak tinggal di rumah, Mas Utha kuliah di Kanada dan Gala menyusulnya, Kak Naz mahasiswa di tahun-tahun terakhir kuliahnya sekarang dan kali ini bisa pulang sebab dia memiliki libur setelah ujian semester, kini di rumah hanya ada Nara.
Tapi sejujurnya, Nara merasa kesepian ketimbang sedih.
"Jaga diri, jaga Bunda, Mami, Papa, kak Ney, juga Naz. Lo udah gede. Jangan makan ciki mulu. Olahraga. Sekolah yang bener. Belajar serius." Pesan Gala pada adik laki-lakinya ketika keduanya berpelukan. Manggala menepuk tengkuk Nara dan mulai mengambil jarak dari keluarga yang berdiri mengantarkannya.
Nara merengkuh pundak Mami yang mulai terisak. Nara tahu, Mami menangis karena bangga anak laki-lakinya bisa sekolah ke luar negeri tanpa membebani orang tua dengan biaya sebab Gala kuliah dengan beasiswa. Tangisan yang sama seperti beberapa tahun lalu saat Mas Utha juga pergi ke Kanada untuk kuliah. Tangisan yang sama ketika Kak Ney memberi Mami hadiah ketika dia mendapat gaji pertamanya. Tangisan yang sama ketika Kak Naz memberikan surat penerimaan mahasiswa jalur raport di PTN Jogja pada Mami. Jenis tangisan bangga dan bahagia.
Lalu, satu kenyataan menyinggung Nara.
Apa dia bisa membuat Bunda dan Mami menangis bangga begini juga?
••
Sudah empat jam berlalu sejak mereka semua pulang dari bandara. Malam kian larut. Terakhir sebelum keluar kamar, Nara melihat jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua pagi. Nara tidak bisa tidur walau besok dia masih ada sekolah. Biarlah besok mengantuk di kelas, Nara akan izin sakit dan tidur di UKS. Mata Nara betulan tidak bisa diajak merem sekarang.
Dengan gerak sepelan mungkin, Nara membuka kunci pintu. Takut membangunkan orang rumah yang tertidur. Walau teknisnya, meski dibuka dengan gerakan biasanya, orang-orang tidak akan mendengar sebab jarak pintu dengan kamar-kamar sudah berbeda lantai.
Tanpa menggunakan alas kaki, Nara berjalan melewati paving block dan rerumputan yang lembab karena embun. Cowok itu membuka carport dan menyalakan lampu.
Nara mengeluarkan sepeda yang biasanya dia pakai ke sekolah dan mengambil botol kanebo. Membasahi kanebo dengan sedikit air dari kran air yang biasanya digunakan untuk menyirami halaman, lalu menggunakan itu dia mengelap body sepedanya.
Sepeda Nara sudah ada sejak dia masuk SMA. Menggantikan sepeda miliknya yang sebelumnya digunakan di SMP. Walau mampu membelikan masing-masing anaknya sebuah mobil, Atmaditya (nama papa) enggan memfasilitasi mereka dengan itu. Sebagai gantinya, Atma akan membelikan sepeda walau harganya sama dengan harga motor sekalipun. Ketika ditanya apa alasannya, Atma menjawab diplomatis,
"Jakarta udah penuh sama polusi, lagian, pemerintah membangun jalur pesepeda buat apa kalau bukan buat dipake? Kalau kalian nggak mau naik sepeda, yaudah, naik busway aja, atau LRT, papa kasih duitnya buat naik LRT kelas bisnis setiap hari kalo kalian mau. Manfaatkan kendaraan umum buat mengurangi polusi. Walau dikit, kalian ikut kontribusi baik buat lingkungan. Tapi kalau minta motor atau mobil, mending kalian nggak usah uang saku sampai lulus sekolah."
Sejak SD, Nara sudah biasa naik sepeda ke sekolah. Walau jaraknya cukup jauh, dia akan berangkat pagi-pagi sekali. Dulu, hal itu menyenangkan karena ada saudara-saudaranya juga yang berjuang bangun pagi agar sekolah tidak terlambat. Kadang juga, Nara akan naik busway bila musim hujan dan dia tidak bisa ke sekolah dengan sepeda. Bila saldo e-ticketnya habis, Nara naik angkot dan turun di depan komplek perumahan. Kebiasaan jalan kaki, naik sepeda, dan tidak pernah diantarkan ke sekolah bila tidak sakit membuat Nara mandiri.
"Na?"
"Eh, Papa?"
"Kamu ngapain?"
"Gosok Joko, biar tambah kinclong." Sepeda Nara diproduksi di Jawa Tengah, dibeli dari UKM yang menjual sepeda unik dari bambu. Jadi Nara memberi nama Joko, nama yang khas orang Jawa, pada sepedanya.
"Nggak bisa tidur, ya?" Atma mengeratkan jaketnya dan mengambil kursi plastik dari carport. Menaruh kursi itu di dekat sang anak dan duduk disana. "Papa nggak bisa tidur."
"Aku juga, nggak bisa merem."
"Mikirin siapa emang?" Atma berasumsi bila Nara tidak bisa tidur karena ada yang mengusik pikirannya.
"Guru magang kali, ya. Guru magang di sekolah ku cakep banget." lalu Nara menggeleng. Merasa dugaannya salah. "Tapi kayaknya, bukan guru magang itu yang bikin aku nggak bisa tidur."
"Terus siapa?"
"Nggak tahu, Pa." Nara mengelap stang sepedanya dengan gerak konstan. Berharap tetap kinclong sampai nanti pagi.
"Kok nggak tahu?" Atma mengerutkan alisnya. "Mungkin bukan 'siapa' yang ganggu pikiran kamu. Tapi, 'apa'. Apa yang ganggu pikiran kamu?"
Nara berhenti menggosok body Joko. Pikirannya jadi menerka-nerka. Apa yang mengganggu pikirannya?
Hari ini Nara sekolah dan pulang seperti biasanya. Lalu makan malam dengan Gala untuk terkahir kali. Mengantarkan abangnya ke Bandara. Kemudian pulang. Lantas, Apa?
"Ah, aku tahu, Pa." Nara berbalik menghadap Atma. Wajahnya sendu ketika mengatakan, "aku cemburu sama Abang."
"Cemburu?"
"Iya, cemburu." Nara balik lagi mengelap Joko. "Aku cemburu lihat Mami nangis karena abang."
"Oh, kamu mau Mami nangis karena kamu? Yaudah gampang, tinggal ilangin Tupperware Mami atau pecahin aja koleksi keramiknya."
"Nggak gitu, pa!"
Atma terkekeh pelan. "Ya terus, gimana?"
"Mami nggak nangis sedih buat abang. Tapi nangis bangga buat abang."
"Ooh, gitu. Kamu cemburu dibagian mana?" Atma mengulum bibir ke dalam. Merasa lucu sendiri sebab dia pernah dalam posisi Nara. Saat-saat remaja yang masih sering denial dengan tujuan hidupnya sendiri.
"... apa aku bisa kayak abang, kakak-kakak, sama Mas Utha? Mereka udah dijalur buat meraih mimpinya masing-masing. Bikin Mami, Bunda, Papa bangga karena prestasi mereka. Apa aku juga bisa?"
"Kenapa enggak bisa?"
"Aku nggak punya prestasi apa-apa. Akademikku biasa-biasa aja. Aku juga nggak begitu jago di ekskul."
Atma semakin mengeratkan jaketnya. Diam-diam merasa tubuhnya memang beranjak tua. Laki-laki itu melihat Nara dengan tatapan takjub, anak bungsunya yang kini sudah SMA. Dulu Nara datang padanya untuk meminta gendong. Ini, belasan tahun setelah itu, anak itu sudah mengalami keresahan remaja umumnya yang beranjak dewasa. Waktu meninggalkan memori. Lalu bergerak membuat kenangan baru.
"Papa tanya, deh, apa mimpi kamu?"
Nara berhenti mengelap Joko. Ada hening sesaat diantara pasangan ayah-anak itu. Di bawah cahaya lampu taman dan lampu carport, Nara merenung. Bertanya-tanya, apa mimpinya?
"Nara? Kamu nggak tidur disitu, kan?" Celetuk Atma. Karena keheningan yang tercipta lumayan lama.
Nara menoleh ke papa. Pemuda itu menggeleng. "Nggak ada, Pa."
"Apa?"
"Aku nggak punya mimpi."
Remaja dan krisis identitasnya.
"Coba dipikir dulu, cari hal yang kamu suka, lalu jadikan itu mimpi."
"Aku suka fotografi, Pa. Tapi, papa pernah bilang, aku nggak boleh jadiin itu mimpiku."
Atma terdiam. Mulai menggali ingatan kapan dirinya mengatakan itu pada Nara. "Nara, kalau kamu niat menjadikan mimpi kamu jadi pekerjaan, cari sesuatu yang kamu sukai, lalu selamanya kamu akan dibayar untuk bersenang-senang. Papa tahu, kesukaan kamu ada difotografi. Tapi, jadikan itu pekerjaan sampingan. Cari pekerjaan yang tetap, Na. Buat apa? Bisa buat menunjang hobi foto-foto kamu."
"Emang Papa ada saran?" Tanya Nara. Pemuda itu bangkit dari jongkoknya dan sepenuhnya menghadap Atma.
"Ada dong. Jadi pegawai Indurasmi, misalnya. Atau kuliah mesin biar bisa kerja di pabrik Hyundai. Kamu masa lupa kakek dan Papa punya usaha? Emang kamu nggak ada niatan buat nerusin usaha keluarga?" Ditanya begitu, Nara terdiam.
Atma berdiri, dia sudah tidak kuat dengan hawa dingin angin malam. Merasa harus masuk rumah sebelum persendiannya mulai ngilu. "Nara, Papa emang nggak mau membatasi mimpi kamu, makanya Papa nggak mengatakan ke kamu, jadilah penerus Papa. Sama kayak papa ke anak-anak Papa yang lain. Tuh, kak Ney aja jadi dosen. Mas Utha kuliah ambil teknik minyak." Atma tersenyum melihat bungsunya. Laki-laki itu memegang tengkuk Nara. "Tapi ketimbang denial dengan tujuan kamu, belum tahu apa yang harus kamu raih buat hidup kamu, saran papa ya dua itu tadi. Kamu bisa nentuin tujuan sekarang, mau di Indurasmi atau Hyundai. Ingat, kalau udah milih tujuan, jangan setengah-setengah, sepenuh hati. Hasilnya nanti kamu jadi pegawai resmi, terus masih bisa nerusin hobi."
Sepeninggal Papa. Nara merenung sendiri.
[/].