| O2: Lipstik dan Privilese
Angkot berhenti tepat di depan rumah makan padang dekat gerbang komplek. Hari ini Nara sengaja naik angkot karena dia malas berdesakan dengan penumpang busway lain di jam pulang kantor. Tadi sempat ada kumpul ekskul dulu, membuat Nara stay lebih lama di sekolah dan pulang tepat dengan office hour. Di jam-jam ini, penumpang busway dan LRT membludak. Dan alasan utamanya karena pagi tadi Nara mengantuk. Semalam setelah ngobrol dengan Papa, Nara tidak bisa tidur lagi. Hingga pagi menjelang, yang Nara lakuan adalah merenung berkedok nonton tivi. Merenungkan apa? merenungkan omongan Papa. Kemudiane, memanfaatkan kak Ney yang akan berangkat ke kampus, Nara meminta diantarkan ke sekolah. Tapi ketika pulang dan hendak meminta dijemput, Nara sadar hari ini dia tidak membawa ponsel ke sekolah. Mau meminjam, teman-temannya sudah pada pulang. Untung saja angkot masih beroperasi dan melewati jalan tikus sehingga Nara bisa pulang tanpa kemacetan berarti.
Nara turun setelah membayar. Langkahnya mendekati paklek penjual es doger. Nara membeli dua. Baru setelahnya Nara masuk ke area komplek. Blok Nara berada di ujung, tinggal berbelok saja, jarak satu rumah, itu sudah rumahnya. Lalu alih-alih langsung ke rumah untuk beristirahat sambil minum es doger, Nara mampi ke rumah yang dekat dengan belokan.
Melihat ada seseorang duduk di teras sambil menunduk merengut, Nara langsung masuk untuk mampir. Cowok itu sengaja tidak menimbulkan suara. Biar sosok itu menyadari sendiri eksistensinya.Suara gesekan kresek menyedot perhatian. Nara terkekeh ketika namanya dipanggil. Cowok itu berhenti berjalan, menunggu sosok itu yang berjalan kearahnya.
"Bang Nara!" Sosok itu tersenyum lebar. "Apa tuh, Bang?"
"Es Doger, mau?"
"Mau!"
Nara memberikan es Doger yang sudah dia buka padanya. "Pelan-pelan makannya, Chi. Jangan belepotan sampai jatuh ke baju."
"Siap!" Chio menerima gelas es Doger dari Nara dengan semangat.
"Kak Divi mana, Chi?"
"Di dalam. Lagi lipat baju."
"Emang jadi berangkat minggu depan?"
"Kata Mama dimajuin." Bocah kelas empat SD itu mengerjap pelan karena sensasi dingin di mulutnya. "Jadi empat hari lagi."
"Gitu, ya?"
Chio mengangguk. Keduanya kompak duduk di teras. Chio yang semula merengut, kini wajahnya sudah semringah. Hanya ada dua hal yang membuat Chio ngambek, yakni dilarang makan dan dilarang main. Nara jadi tergerak bertanya Chio kenapa karena penasaran.
"Ada kopi dingin di kulkas. Kak Divi ngelarang aku minum itu."
"Kenapa?"
"Katanya aku bakal nggak bisa ngantuk, aku bakal melek terus sampai pagi. Ngomel-ngomel aku bakal telat bangun besok kalau minum kopi hari ini. Padahal kopi aja aku diomelin."
"Chio ngambek sama Kak Divi?"
"Enggak."
"Lha, terus?"
"Aku marah sama papa. Karena yang naruh kopi itu di kulkas kan papa karena papa biasanya minum kopi."
Mendengar itu, Nara terkekeh pelan. Tangannya terulur mengusak rambut Chio.
Setelah Nara menandaskan es dogernya dalam tiga kali telan. Cowok itu kemudian membuang sampah plastik es ke tempat sampah terdekat dan melepas sepatu.
"Abang masuk, Chi." Izinnya pada Chio. Nara yakin tidak ada siapa-siapa lagi di rumah selain Divi dengan Chio. Seperti hari-hari sebelumnya, orang tua Divi pasti sedang bekerja.
Divi dan Nara sudah mengenal sejak dalam kandungan. Divi bahkan punya fotonya yang masih berumur dua tahun dengan Nara yang masih bayi. Kini dipajang di ruang keluarga. Hubungan tetangga menjelma jadi sahabat. Nara dan Divi sering merepotkan satu sama lain. Masuk ke rumah masing-masing sudah biasa, bila ada pemilik rumah di dalamnya. Nara dan Gala yang usianya seumuran Divi, sedari kecil menjadikan kamar Divi sebagai basecamp mereka yang biasa digunakan menyimpan mainan. Namun sejak mereka mengalami masa pubertas, keluar masuk kamar Divi sudah mulai dibatasi.
Nara membuka pintu selebarnya. Sebelum bergabung dengan Divi di atas karpet. Hal yang menarik Nara adalah dua koper ukuran besar yang terbuka. Divi tengah menata jaket dan hoodie di satu koper. Perhatian Nara lalu teralih pada pouch putih berbandul kelinci. Pouch hadiah ulang tahun Divi yang dia berikan setahun lalu, berikut gantungan kuncinya. Nara tidak pernah tahu Divi memakai itu sebelum hari ini.
"Pouch itu lo bawa?"
"Iya, buat wadah makeup."
Nara menarik pouch itu dan memeriksa isinya. Penjepit bulu mata, maskara, pensil alis, lipbalm, bedak padat, liptint, beauty spray, milk cleanser, dan toner. Hanya itu?
"Blush-on, eyeshadow? lipstik?" Alis kiri Nara terangkat. "Eh, tapi nggak pake gituan pun wajah lo dah cakep."
"Hm." Respon Divi sekenanya. Sudah biasa mendengar Nara memuji wajahnya. "Bisa bantuan nekan koper? Gue mau nutup kopernya."
Nara beringsut mendekati Divi. Melihat isi koper yang penuh dengan lipatan rapi jaket, sweater dan handuk. Nara menekan koper agar bisa di reseleting dengan mudah oleh Divi.
"Lo bakal balik pas liburan gak, Dip?"
"Astaga, gue bahkan belum berangkat. Udah ditanya kapan pulang?"
"Ya kan, nanya doang."
"Kayaknya nggak pulang. Gue mau ambil semester pendek."
"Oh, biar bisa lulus cepet, ya?"
"Gitu, deh."
"Gue juga mau belajar rajin biar masuk ke kampus elo."
"Biar apa?" Tanya Divi yang ini sudah berada di depan lemari.
"Biar gue bisa jagain lo disana." Ujar Nara serius. Kali ini dia memainkan kotak pensil Divi.
"Emang ada jurusan di kampus gue yang bikin lo tertarik?"
"Nggak tahu."
"Terus, lo mau ngapain di kampus gue kalau bukan buat kuliah, ganteng?" Tanya Divi. Nadanya terdengar sarkas. Tapi Nara terkekeh sebab dia disebut ganteng.
"Ya belajar. Tapi gue belum nemu mau masuk jurusan apa."
"Masuk pendidikan sosiologi aja." Jawab Divi sambil menurunkan tumpukan kemeja ke karpet.
"Lo mau gue mati muda?" Nara mendelik. Semua orang disekitar Nara tahu, dia dan sosiologi tidak pernah akur. Mungkin kebanyakan orang musuhan dengan ilmu eksakta, tapi Nara kemusuhan dengan sosiologi. Bagi Nara, buat apa belajar sosiologi kalau dia sudah bisa bersosialisasi dengan baik.
"Belajar sosiologi nggak sampai bikin lo mati. Kecuali pas belajar lo minum racun dulu."
"Ha, ha, lucu." Nara merebahkan tubuhnya di karpet. Sekarang tangannya memainkan pensil mekanik yang dia temukan di kotak pensil tadi. "Lo tahu nggak, Dip. Semalam gue ngobrol sama papa soal mimpi."
"Oh, lo punya mimpi?"
"Kenapa lo kedengaran heran gitu??? Gue punya mimpi!" Nara sewot. Orang mau cerita dipotong mulu. "Dengerin cerita gue dulu." Nara mencari posisi nyaman sebelum bercerita. "Kemarin papa ngasih gue alternatif mimpi yang bisa gue raih, selain jadi fotografer. Kayaknya sampai sini udah ketebak, papa nyuruh gue jadi penerus dia. Terus gue mikir, Hyundai di kelola Papa sama teman-temannya, dan perusahaan itu masih anak perusahaan yang induk usahanya bukan milik keluarga. Hyundai punyanya orang Korsel. Daripada gue capek memperkaya usahanya orang, mending gue usaha di perusahaan keluarga sendiri. Jadi, pilihan gue jelas ke Indurasmi."
"Bentar, Na. Kenapa lo udah mikirin ini di minggu awal tahun ajaran?" tanya Divi sambil melipat ulang kemeja agar maut masuk kedalam koper. "Lo baru seminggu ini jadi anak kelas sebelas. Kenapa nggak main-main dulu?" Pancing Divi. Hidup Nra sebelumnya penuh dengan main, jajan, dan main. Divi ingin tahu seberapa serius Nara dengan topik pembicaraan yang dia angkat sendiri.
"Karena saudara-saudara gue bangun mimpinya juga pas masih sekolah. Contoh paling deket dan yang lo saksinya, abang gue." Nara kembali merubah posisi badannya. Kali ini terlentang menatap langit-langit kamar Divi. "Bahkan di SMP dia udah tahu mimpi dan tujuan dia apaan. Dan lo saksi gimana cemerlangnya Abang gue, kan? Gue mau juga kayak gitu. Gue mau ngejar mimpi gue dari sekarang biar gue udah terbiasa bikin pencapaian, kayak abang."
Dia serius. Diam-diam Divi merasa senang. Nara mulai meninggalkan kebiasaannya untuk main-main.
"Selama ini hidup gue terlalu mengikuti arus. Gue pengen kayak abang yang nyiapin diri buat gapai mimpinya dari sekarang." tambah Nara.
"Terus sekarang. Lo lagi dilema karena lo ngerasa nggak punya kapasitas buat ngeraih tujuan yang dimaksud papa, lo?"
"Correct!" Nara menjentikkan jari. Cowok itu mendongakkan kepalanya ke Divi yang melihatnya sambil melipat kemeja. "Lo emang selalu tahu, gue."
"Na, kapasitas itu dibentuk. Kalau lo udah mulai belajar sesuatu buat raih tujuan lo. Kapasitas otak lo, kapasitas kemampuan lo bakal berkembang juga."
"Emang bener," Nara mengubah posisinya jadi tengkurap. Menatap Divi yang kini mulai menyusun kemeja-kemejanya ke koper. "Tapi buat belajar-sesuatu-untuk-raih tujuan ini. Bukannya harus ada ketertarikan dulu?"
"Emang lo belum ada ketertarikan?"
Nara menggeleng. "Gue berdiri di abu-abu. Antara tertarik atau nggak."
"Kalau lo tanya gue. Jawaban gue sama, ketertarikan bisa dibentuk. Ini pendapat gue ya, khusus buat belajar suatu ilmu. Misal gue, yang nggak minat ke sosio. Tapi kalau nilai sosio gue jelek, gue bakal terus-menerus ujian ulang buat benerin nilai sosio gue. Gue nggak bisa dong terus-terusan ujian ulang yang bakal merugikan waktu gue dan tenaga gue yang bisa gue gunain buat belajar hal lain? Terus buat memperbaiki itu, gue mulai cari deh, apa hal yang bisa bikin gue tertarik belajar lebih tentang sosiologi? Selanjutnya gue bakal mulai belajar di sesuatu yang bikin gue tertarik itu. Setelahnya, gue jadi faham sama sosio. Nilai ujian gue meningkat. Gue nggak lagi membuang waktu dan tenaga gue buat ujian ulang."
Nara tersenyum lebar dengan raut jengkel. Divi baru saja menyindirnya.
"Jadi, buat tertarik sama manajemen dan bisnis. Gue harus cari sesuatu yang menarik dan gue mulai belajar dari hal yang bikin gue tertarik. Gitu maksud lo?"
Divi mengiyakan. Gadis itu kembali berdiri untuk memilah celana di lemari yang akan dia pakai untuk kuliah nanti.
"Lo udah punya privilese buat jadi pegawai di Indurasmi, Na. Tinggal lo aja menyiapkan diri belajar manajemen sama bisnis buat ngeraih sesuatu yang lebih."
"Gue tahu maksud lo. Kalau gue belajar, gue bisa gantiin kakek ngelola Indurasmi. Tapi gue nggak mau jadi pegawai kantoran. Gue maunya jadi fotografer, Dip. Papa nunjukin tujuan lain dan mimpi lain selain jadi fotografer. Gue mau belajar bisnis, tapi sekedar biar gue bisa kerja, ngehasilin uang, buat nunjang hobi gue." Nara kembali rebahan. Kali ini di kasur Divi.
Melihat punggung Nara yang memunggunginya, Divi mengangguk sendiri. Nara tipikal orang yang harus ditekan dahulu baru mau melakukan perubahan. Biarlah anak itu dengan pikirannya. Divi yakin, setiap manusia punya waktu, lama dan momen yang berbeda untuk berkembang.
"Oke, senyaman elo."" Jawab Divi. Tidak lanjut menjelaskan pada Nara tentang sesuatu yang lebih besar yang bisa di raih cowok itu karena hak istimewa yang dia punya. Sebab itu bukan bagiannya.
"Bangunin gue kalau kakak gue nyariin. Kasur lo enak banget buat rebahan."
Nara berakhir tidur sore disana.
••
Naz dan Nara masuk rumah sambil berteriak memanggil Mami. Suatu kebiasaan mencari sang Ibu lebih dulu setelah dari luar rumah. Nara yang mengekor di belakangnya dengan muka ngantuk. Pemuda itu memilih duduk di kursi bar dapur. Melihat Mami masak makan malam dan Naz yang heboh dengan sepiring kue-kue basah pemberian Tante Rasta, Mamanya Divi. Nara duduk dengan muka malas, nyawanya belum terkumpul semua, mana dia masih ngantuk pula. Nara enggan menghampiri sofa atau ke kamar. Karena dia pasti kebablasan tidur lagi.
"Tadi muffinnya udah kamu kasih?" Tanya Mami pada Naz. Tadi Mami menyuruh Naz ke rumah Divi untuk melihat apakah Nara yang nggak pulang-pulang betulan disana atau tidak. Sambil mengantarkan muffin. Lalu balik-balik bawa kue lagi.
"Udah, Mi. Tadi aku datang barengan Tante Rasta pulang. Dia bawa kue-kue gitu, sisa pesenan katering. Dikasih, deh." Jawab Naz. Gadis lima tahun di atas Nara itu menyodorkan nagasari pada adiknya. Berharap Nara memakan itu dan tidak jadi ngantuk.
"Lo baru pulang, Na?" Ney masuk dapur dengan gelas kosong di tangan. Dia bertanya sebab baru melihat Nara di dapur.
"Dia habis tidur di rumah tetangga." Jawab Ney.
"Dirumah Divi?"
"Dimana lagi?"
Naz mengangguk-angguk. "Tadi gue telfon elo. Tahunya hape lo di rumah. Gue mau jemput elo sekalian ke Kwitang gue mau nyari buku." Ujarnya sambil menuang air dingin ke gelas.
"Udah kesana?" Tanya Nara.
"Belom. Gue sibuk beresin nilai anak kampus."
"Sekarang aja gimana?" Nara menggeliat pelan. Meregangkan otot tubuhnya. "Gue juga mau nyari lipstik."
Ney yang membantu Mami memotong kentang. Naz yang minum langsung berhenti dari kegiatan masing-masing dan serempak menatap Nara.
"Kenapa? Emang salah cowok beli lipstik?"
"Nggak, sih."
"Mami, Nara punya pacar." Ney menyenggol lengan Mami.
"Bagus, dong. Biar kerjaannya nggak gangguin Divi mulu."
"Sekarang aku udah nggak bisa gangguin Divi, Mi. Orangnya mau kuliah." Adu Nara. Nada suaranya merendah. Mami menangkap suaranya sebagai tanda kesepian. Abangnya pergi, Divi juga pergi untuk kuliah. Di rumah tanpa ada teman, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kedepannya, kalau Nara mungkin hanya berteman dengan seperangkat gaming nintendo dan Chio di rumah.
Mengerti itu, Mami tersenyum. "Yaudah, main sama Mami."
"Mami kan sibuk mulu di Nirwana."
"Na, beli lipstik buat siapa?" Tanya Naz menyela.
"Buat Divi."
Naz dan Ney mengangguk-angguk lagi serempak. Gadis yang paling masuk akal dibelikan lipstik oleh Nara hanyalah Divi seorang. Sebab selama ini Nara tidak pernah terlihat dekat dengan gadis selain keluarganya dan Divi.
"Jadi ke Kwitang nggak, nih. Keburu kemalaman."
"Makan malam dulu. Habis itu boleh pergi." Mami mengangkat mangkok besar berisi kari ayam keluar dapur. Menyadari Nara mengekorinya dan hendak duduk di kursi untuk makan, Mami menegur. "Mandi dulu sana. Kamu bau."
[/].