O5 |
"Harusnya papa diam aja meski udah liat aku!"
"Nggak bisa. Masa ada bapak yang nggak kenal sama anaknya sendiri."
"Cuma pura-pura papa."
"Nggak mau. Pura-pura sama aja bohong."
"Tau deh papa yang paling bener."
Begitu mobil berhenti sempurna, Nara bergegas turun setelah menutup pintu lumayan kencang. Sampa di rumah Nara sengaja langsung ke dapur cuci tangan kemudian makan malam mendahului yang lain.
Melihat sang anak sudah pulang, Mami tergerak menegur sambil menuangkan semur ayam ke piring makan Nara.
"Katanya tadi pulang jam setengah empat kayak biasanya. Kok sampai malam gini. Sepeda kamu mana kok pulangnya bareng Papa?"
"Nara bolos hari ini, Mi." Sahut Papa ikut duduk di meja makan. "Papa ketemu dia di restoran bakmi siang tadi. Terus Papa bawa ke kantor biar sekalian nggak bisa kemana-mana."
"Emang iya, Na?"
"Aku bolos karena bosan, Mi. Tapi gagal karena Papa." Jawab Nara sewot. "Papa emang nggak tahu masa remaja kayak gimana. Oh, mungkin waktu lahir Papa langsung tua. Pantes deh kalau nggak tahu."
"Papa cuma nggak mau kamu main sama anak-anak nggak jelas."
"Aku bolos sama Yoshi. Yoshi bukan anak-anak nggak jelas. Dia cucunya Ratampala. Papa tahu sendiri. Emang dasarnya papa aja yang nggak suka aku seneng."
"Ada banyak hal yang bisa bikn kamu seneng selain bolos sekolah."
"Nggak mau. Aku maunya bolos sekolah."
"Perjanjian kita waktu kamu masuk sekolah. Kamu masih ingat?"
"Udah nggak. Aku lupa."
"Oke, Papa ingetin. Perjanjian kita waktu itu ada banyak poin. Tapi yang matching sama obrolan kita yaitu perjanjian bolos. Kamu udah janji buat nggak bolos sekolah apapun keadaannya. Kamu boleh nggak ikut pelajaran di kelas. Asalkan jangan sampai bolos."
"Nggak tau. Aku lupa."
Atma rasanya ingin menggaruk sesuatu untuk melepas rasa gemas.
"Papa nggak suka kamu bolos apapun alasannya. Papa udah kasih kamu keringanan dengan boleh keluar kelas kalau bosen. Di luar itu, berarti kamu udah melanggar perjanjian kita."
Nara mendorong piringnya menjauh. Lalu memundurkan kursi agar lebih mudah berdiri. Nara enggan melanjutkan makan.
"Papa nggak asik." Ujarnya penuh kedongkolan. Entah bagaimana Tuhan selalu membuat Papa tahu saat-saat dia membolos. Kan nggak asik banget.
Mami yang balik dari dapur di buat terperangah saat Nara pergi berlalu meninggalkan piringnya yang masih setengah penuh begitu saja.
"Papa sih, anak remaja lagi tinggi rasa penasarannya." Ujarnya setelah sempat mendengar semua keluh kesah Nara dari dapur tadi.
"Aku nggak mau dia kebablasan kayak Utha. Nara harus kayak Gala."
"Gala pun kalau disuruh milih, dia pengen kayak Utha, Pa."
"Tatoan, tindik, rambut gondrong, tawuran, balapan liar gitu?" Kini Atma yang sewot.
"Bukan itu. Yang Gala pengen adalah ngerasain kebebasan yang pernah dirasain Utha. Utha bebas berekspresi. Kamu sendiri yang bebasin dia mau tindik, tato, dan rambut gondrong. Sedangkan Gala, kamu udah mewanti-wanti dia. Rasa penasarannya berhenti sampai disana."
"Papa bebasin Utha bukan berarti Papa suka dia ngelakuin itu."
"Iya Mami tahu. Gala sama Nara belajar banyak dari kenakalan Utha dulu. Mereka paham batasan lebih dari kepahaman Utha karena mereka ngerasain jera yang sama yang dirasain Utha waktu kamu ngehukum Utha dulu. Gala memang anaknya suka belajar dan bisa anteng di kelas atau anteng baca buku berjam-jam. Nara beda. Dia lebih suka main kesana-kemari dan dari sana dia belajar." Mami berkata sambil mengambil piring. Kemudian menuang nasi dan lauk ke piring suaminya. "Kasih kepercayaan ke Nara, Pa. Dia jelas bakal nyebelin kalau kamu banyak ngekang. Contohnya papa sendiri deh, waktu main golf sama temen-temen sampai lupa waktu. Telepon Mami nggak diangkat tuh. Sama. Nara juga ngerasa nggak bebas dan memilih ngeyel karena papa udah ganggu kegiatan yang bikin dia senang. Mami percaya, Nara bisa bedain mana yang benar atau salah dan nggak akan melakukan kesalahan yang pernah dilakukan Utha. Kalau Papa khawatir soal itu. Lagian apa sih kenakalan Nara paling banter? Paling-paling tingkahnya yang kelewat konyol, atau bolos."
"Aku bikin peraturan buat mereka biar mereka tertib. Tujuanku bagus mendidik mereka disiplin." Kata Atma.
Naz yang sejak tadi berada di meja makan dekat kedua orangtuanya mengangguk-angguk setuju.
"Papa terlalu kaku, Mi. Padahal udah punya dua isteri dan lima anak. Di upgrade dong mindset-nya, Pa! Jangan terlalu kuno atau kaku. Masa lupa jaman remaja dulu Papa kayak gimana. Kayak nggak pernah buat kesalahan aja."
"Hush, Kak."
"Hehehe. Maaf, Pa. Aku becanda."
*
Di kamar, Nara terlentang. Sambil memperhatikan langit-langit kamarnya berpendar hijau dan biru dari stiker glow in the dark ketika lampunya dimatikan seperti sekarang, pendar cahanya terlihat lebih jelas. Setiap lima menit sekali pemuda itu menggaruk tubuhnya. Awalnya pipi, kemudian kening, lengan, hingga kaki. Nara tahu tubuhnya mulai gatal pertanda dia harus mandi. Satu hal yang mencegah Nara untuk melakukan itu karena dia malas.
Nara menoleh ke kanan. Ada satu lagi ranjang yang serupa miliknya. Berikut kasur dan sprei yang masih licin. Tempat tidur Gala abangnya.
Dulu sewaktu rumah ini masih tahap pembangunan, Papa berinisiatif membuatkan kamar khusus untuk mereka berdua. Hala ini bukan tanpa alasan. Gala mengidap somnabulisme alias sleepwalking. Yang kadang kambuh ketika Gala kebanyakan pikiran. Karena itu, Gala memerluka seseorang di sebelahnya kala tidur. Gala punya adik, maka adiknya lah yang ditunjuk menjaga Gala. Nara juga tipe orang yang gampang terbangun. Keduanya cocok satu sama lain apalagi tidirur dalam satu tempat yang sama.
Karena keduanya laki-laki yang doyan merangkai Gundam atau Lego, maka diperlukan kamar yang luas. Karena itu Papa memerlukan hingga separuh bagian rumah lantai dua sebagai kamar bagi Gala dan Nara. Di dalamnya ada dua kasur dan perabotan lain yang lumrah berada di kamar. Satu yang mencolok adalah kompleks gereja mungil dari susunan balok Lego di tengah-tengah yang juga bertugas sebagai pembatas teritorial wilayah antara Nara dan Gala. Batas ini diperlukan ketika Gala dan Nara punya banyak benda yang serupa bentuk, warna, ukuran. Gara tidak terjadi pertukaran yang tidak diinginkan maka dicetuskan pembagian teritori ini.
Gereja Lego yang disusun dua bersaudara pemilik kamar selama liburan semester lalu. Masih jelas Nara ingat bagaimana dia terpeleset karena potongan Lego yang melompat jauh. Nara jatuh menghantam pintu sebelum terhuyung dan berakhir jatuh di atas punggung Gala yang kala itu berada di belakangnya. Alih-alih Gala yang tubuhnya serasa ditimpa gajah obesitas, justru Nara yang berteriak hingga Papa datang tergopoh karena khawatir apa yang terjadi.
Usai berdiam nggak ngapa-ngapain—selain garuk-garuk dan melamun—dalam waktu yang cukup lama. Nara akhirnya bangun karena merasa saat ini saat yang tepat untuk mandi. Sebelum masuk kamar mandi, Nara harus melepas gelang dan jam tangan di dua pergelangan tangannya bila tidak mau aksesori yang dia pakai basah oleh air. Nara menaruh semuanya di nakas samping tempat tidurnya.
Hal itu malah membuatnya tidak sengaja melihat satu bingkai foto yang sejak SD tidak pernah dipindah dari sana kecuali ketika dibersihkan.
Bingkai yang memuat kolase foto antara dirinya, Abang, dan Divi.
Mood Nara hari ini buruk. Sekarang tambah buruk.
Kenapa ditinggal lebih menyesakkan ketimbang meninggalkan?
Hiks.