Kegiatan selanjutnya setelah mandi adalah tidur. Merasa kamarnya terlalu sepi, Nara berinisiatif melakukan hal revolusioner seperti pindah tidur di kamarnya Ney. Setidaknya Nara tidak merasa sepi dan berharap mood-nya bisa membaik.
Berbekal guling dan bantal, berikut Ryan—Ryan adalah nama boneka kelinci yang sudah ada sejak Nara balita dan menemaninya tidur sejak saat itu hingga kini. Nara berangkat menuju tempat suci alias kamar Ney. Kamar kak Ney dan Naz bersebelahan berada di bagian depan lantai dua. Nara perlu melewati tangga untuk sampai ke sana dan itu berarti ada kemungkinan Nara berjumpa dengan orang di undakan tangga. Seperti mendadak berpapasan dengan Papa, misalnya.
"Makan malam dulu kamu."
"Udah males."
"Mau kemana kamu."
"Papa kepo banget."
Nara berlalu dengan barang bawaannya. Sedikit susah ketika berjalan karena tumpukan s*****a tidurnya menghalangi pandangan. Sempat menabrak tembok, terantuk pinggiran meja dan nyaris kesandung kaki sendiri saking dia tidak awas dengan jalan di depannya. Sampai di kamar Ney, drama baru terjadi. Drama terjadi sebab Ney tidak kunjung membuka pintu setelah Nara menggedor-gedor pintu dengan cukup brutal.
Tingkah Nara jelas tidak mencerminkan tanggung jawab menjaga kenyamanan satu rumah dan kenyamanan umum. Suara teriakannya memanggil Ney dan gedorannya berpotensi didengar tetangga. Meski secara harfiah mereka tidak akan mendengar karena terhalang jarak dan luas. Tapi tetap saja, Nara cukup mengganggu bila tidak segera dihentikan.
Kemudian sebagai kakak yang berbudi luhur dan ingin adik ya memiliki budi luhur yang baik pula, Naz tergerak menegur.
"Kak Ney mungkin lagi skype meeting atau lagi ke kamar mandi makanya telat buka pintu. Lo kenapa deh nggak sabaran banget? Terus, hari ini juga lo banyak tingkah banget. Lo kenapa sih?"
"Terserah gue lah mau sabar atau nggak." Bukanya merenungkan kelakuan brutalnya, Nara balas balik dengan sewot. "Terus terserah gue lah mau banyak tingkah atau diam aja. Terserah gue."
Naz rasanya pengen mendorong Nara ke tangga terdekat.
"Minggu kemarin sebelum Gala berangkat lo bolos. Dua kali malah. Terus hari ini juga. Itu hitungannya belum lo bolos bulan-bulan kemarin. Untung Papa nggak tahu. Tahunya hari ini. Ini tuh namanya karma, Na. Tuhan pengen lo lebih serius sekolah. Lo di sekolahin mahal-mahal bukan buat jadi begundal."
"Bolos doang nggak bikin gue jadi begundal."
"Lo nggak pernah serius, sih. Makanya remedial sosio mulu."
"Jangan bawa-bawa nilai sekolah!"
"Lo sih nggak pernah serius!"
"Jangan terlalu serius, kak. Kalau terlalu serius terus dikecewain, kan sakit!"
Naz ingin mendebat Nara lebih jauh tapi terhalang oleh kehadiran Ney. Perempuan sembilan tahun dia atas Nara itu melepas earphone-nya setelah membuka lebar pintu kamarnya.
"Muka lo kok merah kenapa deh, Naz?"
"Bodo ah, daripada nasehatin adek lo, mending gue maskeran."
Sepeninggal Naz, Nara kembali ke tujuan awalnya yakni numpang tidur. Cowok itu tidak berkata apa-apa, sekedar nyengir kelewat lebar. Presensinya juga keberadaan bantal guling dan Ryan dipelukan sudah cukup membuat Ney paham. Begitu dipersilahkan, Nara segera rebah ke kasur.
"Kenapa ya kasur orang lain lebih empuk ketimbang kasur sendiri." Sambil mengusap-usap kasur Ney.
Melihat kelakuan Nara yang mirip anak SD ketimbang anak seusianya, Ney teringat memori masa kecilnya yang menyenangkan dengan saudara-saudaranya. Dulu kamar Ney sering didatangi para pengungsi alias adik-adiknya yang tidak bisa tidur. Seringnya Nara yang di malam-malam dia tidak bisa tidur, pergi diam-diam ke kamarnya dan tidur di sebelahnya hingga pagi menjelang. Kadang juga Gala ketika dia dengan Nara bertengkar. Adik-adiknya yang dulu lebih kecil dan pendek darinya. Kini malah lebih besar dan tinggi.
"Kak, lo kok masih kerja aja sih?"
"Sekarang lagi musim ujian buat anak kampus. Sebagai dosen yang berdedikasi gue meluangkan waktu buat periksa jawaban-jawaban mereka dan transkrip nilai untuk kelancaran orang banyak."
"Kedengarannya ribet."
"Lo nanti juga bakal jadi mahasiswa. Ribetnya bakal lo jalani nanti."
"Iya, karena masih nanti. Jadi dipikirin nanti aja."
Mendengarnya Ney terkekeh. "Lo udah ada gambaran mau kuliah dimana?"
"Di kampus lo aja gimana kak? Siapa tahu lo mau bantuin gue masuk ke kampus lo pakai jalur simsalabim."
"Jalur simsalabim udah expired. Sekarang adanya jalur SBM sama Ujian tulis."
"Yaah nggak seru. Pasti kudu belajar."
"Belajar serius, Na. Udah kelas sebelas. Meski masih semester awal, bagus banget kalau lo mempersiapkan diri dari sekarang. Syukur-syukur bisa masuk SNM."
Dari arah kasur, Nara melambaikan tangannya.
"Dadah kak Ney, gue mau tidur."
Ney spontan melempar Nara dengan tip-x yang kebetulan ada di sebelahnya. Jelas sekali anak itu menghindari obrolan.
Bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman. Nara akhirnya puas dengan posisi tengkurap. Ketenangan yang Nara rasakan beberapa saat buyar begitu saja ketika paha-nya bergetar. Disusul ringtone khas ada telepon masuk. Nara mengangkat panggilan dengan gerak malas kemudian.
"Na, jangan bilang lo lupa!"
"Apaan?"
"Tuh kan. Kalau lo lupa itu bagus banget!"
"Apa sih, Af, apaa. Lo kalo ngomong jangan setengah-setengah dong."
"Lo bentulan lupa ternyata. PS 7 Blue Ocean Pro mulai pre-order malam ini, bangke!"
"HAH."
"Hahahahaha lo pasti lupa kan? Syukur deh lawan war gue berkurang! Gue udah masuk website dan sekarang lagi nunggu kode referral buat check out—"
Sepihak Nara memutuskan panggilan Afa. Cowok itu melompat turun. Mengagetkan Ney yang tengah khusyuk berkutat dengan nilai. Ney kira ada ninja Hatori versi lokal di kamarnya. Ternyata adiknya yang nampaknya dikejar sesuatu.
Nara berlari menuju kamarnya sendiri. Dengan tergesa mengaktifkan komputer. Jari-jari Nara bergerak tidak sabaran menunggu loading masuk. Ketika sudah berada di website belanja resmi PS 7 yang disebut Afa, Nara mendesah lega ketika waktu penawaran tinggal masih 34 jam lagi. Masih ada waktu untuknya. Usai memasukkan PS 7 Blue Ocean Pro ke dalam keranjang belanja, kini saatnya Nara mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membayar benda itu.
Memastikan website menyetujui pesanannya. Cowok itu beralih ke kasur. Kepentingan Nara bukan kembali rebah ke kasur. Nara butuh isi kaleng-kaleng di bawah kasurnya untuk membayar barang yang dia pesan. Ada banyak ratusan ribu. Nara beralih ke dompetnya yang tidak mendukung, hanya ada selembar merah disana sisa uang sakunya dua hari kedepan setelah dibelikan bakmi dan bayar warnet tadi. Tidak menyerah, Nara merogoh kantong-kantong jaketnya yang digantung. Lumayan ada dua lembar goban. Kembali mencari, Nara kini membuka guci di dekat kompleks gereja Lego dan kepalang senang sendiri ketika menemukan selembar biru dan dua lembar ungu. Semangat Nara membara mengais sisa-sisa uang. Cowok itu tanpa sadar sudah mengitari seluruh bagian kamar untuk mencari rupiah.
"Aku ingin begini. Aku ingin begitu.
Ingin ini itu banyak sekali. Semua semua semua. Dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib—"
Tut. "Halo?"
"Halo. Benar dengan Narayan Atmaditya?"
"Iya saya sendiri. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya ingin bertanya kabar terbaru anak laki-laki saya. Kira-kira kabarnya bagaimana, ya?"
"Saya kira kurang baik, Nyonya."
"Kira-kira kurang baik karena apa?"
"Anak lelaki anda butuh lebih dari pertanyaan apa kabar. Anak anda butuh uang dengan sangat mendesak."
"Na, kamu mau beli apalagi?"
"Ampun, Bunda." Meski Bunda nggak bisa lihat, Nara tetap nyengir ganteng. "Kali ini bukan lagi lensa kamera, kaos, tripod, Gundam atau Lego."
"Kamu bulan lalu udah ngabisin duit tiga kali UMR Jakarta buat beli 'barang', sayang."
"Kali ini barangnya penting banget, Bunda!" Serobot Nara. "Ini barang kalau aku jual lima tahun lagi masih laku tinggi Bunda."
"Apa sih barangnya?"
"PS 7 pro limited edition. Yang warnanya Ocean Blue."
"Terus bagian pentingnya dimana?"
"Kalau aku punya PS 7 pro, itu bakalan bikin koleksi PS ku lengkap."
"Hanya itu?"
"Terus, aku bisa rental PS ke temen-temen. Lumayan Bunda, sejam dapet ceban."
"Emang uang saku kamu kurang sampai mau buka rental PS?"
"Enggak, sih. Tapi ini tuh menyangkut kepuasaan Bunda!"
"Nggak ada. Apapun alasannya Bunda nggak kasih uang. Cukup Nintendo aja kemarin yang sampai seharga sepeda itu."
"Bunda cantik ramah penyayang sayang anak—"
"Untuk kali ini Bunda nggak mau sayang anak dulu."
"Bunda!"
"Kalau mau, minta ke papa."
"Bun—"
Tuuuuttttt.
Nara sekarang: aaarrrrrgggghhh.