Ultimatum Bunda sangat berasalan. Bulan kemarin Nara memang menghabiskan sekian belas juta untuk membeli lensa kamera dan tripod. Dua benda itu berguna bagi Nara menunjang bakat fotografi-nya yang semakin meningkat berkat ikut ekskul Broadway sekolah. Uang yang Nara habiskan cukup banyak hingga bisa dibelanjakan satu sepeda premium seperti kata bunda. Jadi wajar bulan ini Bunda tidak mau lagi memberinya uang lebih untuk PS 7 pro yang memang sebetulnya nggak begitu Nara butuhkan karena dia sudah punya Nintendo switch hanya sekedar untuk main game. Tapi ini soal kepuasan. Sejak SMP Nara adalah kolektor PS dari seri satu hingga seri ketujuh saat ini. Meski terdengar abstrak, memang benar dan Nara tidak menutupi fakta kalau dia membeli PS itu untuk kepuasannya semata.
Kemudian, untuk memenuhi kepuasan batinnya. Nara menurunkan ego-nya untuk meminta uang pada Papa sesuai anjuran Bunda. Berjalan dengan muka memaafkan ke arah Papa yang bersantai di balkon atas sambil baca koran dan minum wedang jahe. Rutinitas yang biasanya dijumpai di pagi hari. Tapi untuk Papa, karena pagi hari dia sibuk, kegiatan minum wedang jahe dan baca koran ia lakukan di malam hari. Papa nampak duduk tenang sambil sesekali membenarkan kacamata.
"Papa."
"Udah nggak ngambek lagi?"
"Rencananya begitu kalau Papa bayarin PS 7 pro aku."
"Skip. Lanjut aja ngambeknya."
"Papa, please…."
"Nara, please…."
"Papa."
"Nara."
Oke. Ini namanya lampu merah. Di lampu merah, Nara dihadapkan pada dua pilihan yakni tetap disini atau putar balik menemui sumber uang dadakannya yang lain.
Memilih opsi kedua, Nara balik badan. Langkahnya mendekati kamar di lantai dua dekat kamar Ney yakni kamar Naz. Tanpa perlu mengetuk pintu sebagai permisi, Nara langsung membuka pintu. Tanpa tahu di baliknya, kamar Naz gelap gulita. Segalanya terasa normal dan tidak ada yang aneh sampai tahu-tahu ada satu sumber cahaya selain dari lampu lorong di belakang Nara. Cahaya itu yang kemudian membawa Nara melihat sesosok tidak inginkan. Takut-takut itu betulan mbak Kunti yang Wajahnya seram karena wajah hijaunya, kantung mata hitamnya dan pakaiannya putih Ketika hendak berlari menjauh apesnya Nara tersandung kaki sendiri. Cowok itu jatuh terduduk dengan wajah super terkejut.
"Na?"
Klik. Klik. Klik.
"Eh, lo ngapain duduk disitu?"
"GUE KAGET."
"Astaga nggak usah teriak, dong. Ini kenapa lampunya tiba-tiba mati, sih?" Sekali lagi Naz menekan-nekan tombol lampu yang tetap konstan berbunyi klik-klik tanpa ada perubahan nyala lampu.
"Lo kenapa juga pakai wardrobe malam-malam gini?! Mana putih lagi!"
"Terserah gue dong mau pakai wardrobe malam-malam kek atau nggak."
Tahu kalau Naz membalik kata-katanya, Nara mendecih pelan. Cowok itu bangkit dengan susah payah. Masih terkejut dengan fakta kalau dia nggak jadi ketemu dedemit.
"Lo kenapa kesini?"
"Mau minjem duit—"
"Nggak ada. Sana lo."
"DASAR PELIT. Kemarin waktu gue nganterin Divi ke Bandara lo gue beliin sandwich BreadTalk ya!"
"Iya habis itu duitnya kan juga gue ganti!"
"Mana ada lo cuma ganti duit gue setengah doang!"
"Ya sama aja kan gue ganti duit lo! Lo sendiri kemarin kagak keberatan tuh. Lagian gue nggak minta dibeliin sandwich!"
"Ya harusnya lo menghargai usaha gue buat menyenangkan elo!"
"Menyenangkan apanya kalau di akhir gue tetep disuruh ganti duit lo?!!"
"Apasih ribut mulu. Suara kalian berdua kedengaran satu rumah."
Melihat sosok bijaksana Ney menghampiri mereka. Wajahnya terlihat lelah memandang dua adiknya. Memang dari kelima bersaudara hanya Nara yang sering memicu api pertengkaran. Dan sumbu pendek alias yang gampang terpancing dimenangkan oleh Naz. Ney pernah bilang pada Naz bahwa kejahilan dan kekonyolan tingkah Nara adalah lumrah untuk anak bungsu. Tapi nasehat itu hanya didengar sesaat tanpa dimaknai bahwa harusnya Naz lebih sabar menghadapi Nara.
"Lihat nih, kak. Adek lo mau pinjam duit. Nggak tahu lagi barang apa yang bakal dia beli. Dasar boros!"
"Gue beli karena gue butuh!"
"Gui Bili kirimi gui bitih."
"Jangan bikin gue marah ya kak!"
"Emang kalao lo marah lo mau ngapain? Adu jotos sama gue? Yakin lo? Gini-gini gue sabuk hitam taekwondo dan bisa ngebanting elo dengan mudah, ya!"
"Hush, udah." Ney merasa seperti Dewi Kebajikan yang menebar kebahagiaan melalui kebaikan-kebaikan duniawi. "Naz, mending lo maskeran lagi karena masker lo mulai rontok."
"Gara-gara elo, sih!" Semena-mena, Naz menendang tulang kering Nara. Secepat Shinkansen, Naz menutup pintu kamarnya agar aksi balas dendam Nara tidak terjadi.
"Nara. Kali ini kamu mau beli barang apalagi?"
"PS 7 Pro, kak."
"Berapa tuh?"
"Nggak jadi, kak. Aku ingat aku punya hutang sama kakak lima ratus ribu belum aku bayar sampai sekarang." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Nara ngibrit sekencang-kencangnya meninggalkan Ney yang melongo.
Haus usai berdebat dengan Papa dan Naz ditambah kegiatan berlari yang sebetulnya tidak diperlukan, Nara memasuki dapur mengambil air es. Tenggorokannya lega karena dahaga hilang hingga dia sendawa dua kali. Mendengar suara sendawanya yang nggak tahu kenapa kedengaran aneh dan cukup satisfying, Nara tersenyum sendiri sebelum kemudian lanjut minum.
Tingkah Nara tidak lepas dari pantauan Mami yang masih ada di bar dapur. Perempuan yang pernah menyusui Nara sewaktu bocah itu bayi menggelengkan kepala heran kala melihatnya.
Menyadari eksistensi Mami, Nara ikut bergabung duduk di kursi bar dapur di sebelahnya. Ikut-ikutan memeriksa faktur-faktur penjualan.
"Kamu ngapain teriak-teriak tadi."
"Heheh, Mami dengar, ya. Salah sendiri Kak Naz nyebelin banget. Aku jadi emosi. Ohya, Mam."
"Kenapa."
"Nara minta duit dongggg."
"Buat apa?"
"Buat beli PS 7 pro yang baru rilis. Aku udah nge-tag satu. Batas pembayarannya 24 jam alias besok udah terakhir. Mami kan sayang Nara nggak kayak Bunda, Papa, dan Kak Naz yang nggak mau pinjamin aku uang. Aku sadar kok aku udah ngabisin bayak duit. Aku boros. Janji ini yang terakhir karena ini PS impian aku banget, Mam." Nara mulai mendusel ke lengan Mami. Gaya merayunya anak-anak sekali, Mami jadi tidak kuasa menahan tawa. "Pweeaasseee, Mamiiii."
"Nggak ada ya!"
"Papa tuh nggak diajak jadi diam aja." Nara sewot melihat Papa mendekat dari tangga.
"Nggak ada. Sana kamu jauh-jauh dari isteri Papa."
"Mami." Nara memasang raut muka paling melas yang dia bisa.
"Na, kamu beli PS buat apa? Kamu kan udah punya Nintendo switch? Koleksi PS kamu udah banyak tinggal pilih mana yang mau dipake main." Tanya Mami dengan kalem.
"Mam, PS 7 pro ini cuma 2500 unit di satu dunia. Aku pengen jadi bagian 2500 pelanggan yang beli. Please Mami. Cuma nambahin 7,7 juta aja, kok. Sisanya yang 4 ratus ribu aku ada."
"Gini deh." Atma menyela obrolan anak dan istrinya. "Kamu boleh beli PS 7 itu dengan satu syarat yang harus kamu penuhi."
"Oke, Pa." Jawab Nara. Kelewat cepat dan kelewat semangat. "Apapun syaratnya aku penuhi."
"Serius?"
"Serius!"
"Syaratnya gampang. Kamu ikut Papa ke acara sosialnya teman-teman Papa. Kebetulan Minggu ini dan Minggu depan ada dua acara. Kamu temenin Papa kesana. Papa mau bayarin PS 7 pro kamu."
Nara menggeleng cepat. "Nggak jadi, Pa."
Mami bisa melihat keengganan Nara. Nara memang tidak pernah suka diajak ke acara-acara sosial bisnis Papanya. "Kata kamu tadi harus dibayar kurang dari 24 jam? Mana semangatnya mau jadi bagian 2500 orang yang beli PS itu?"
"Nggak, Mami. Makasih banyak." Nara turun dari kursi bar.
"Na, Ini Papa serius loh." Di tempat duduknya, Atma mengacungkan kartu debit hitam miliknya.
Nara menoleh. Wajahnya yang semula tidak tertarik, kini berubah jadi penuh kesahajaan. Cowok itu melambaikan tangan dua kali tanda dia menolak.
"Disimpan aja, Pa. Aku mending nggak usah dapet PS 7 daripada harus nemenin Papa ketemu para sosial elit. Alergi aku ketemu orang yang kerjaannya pamer duit. Nggak apa-apa deh aku nggak puas karena nggak bisa beli PS itu."
"Kamu bicara begitu… dengan serius?"
"Ih, Papa aku kan lagi mencoba untuk jual mahal!" Nara nyengir lebar. Tangannya saling menumpuk terbuka untuk mendapatkan kartu debit sang Papa. "Tuhan memberkati Papa. Semoga Papa dijauhkan dari hal-hal buruk. Terima kasih, Pa!"