Beda dari yang kemarin, pagi ini senyum Nara secerah matahari. Mood-nya lebih baik dari kemarin. Semua orang di rumah Nara sapa. Nara bahkan sempat membuatkan kopi untuk papa sebagai tanda terima kasih karena kejadian semalam. Sempat memuji Naz manis sampai Naz merasa kepala Nara habis terbentur sesuatu sampai memujinya begitu. Sempat merayu Ney agar mau memberinya tebengan ke sekolah karena bolos kemarin Nara meninggalkan Joko. Kemudian tidak lupa mencium pipi Mami sebagai tanda pamit. Benar-benar, Nara merasa harinya indah setelah berhasil membayar PS 7 pro limited edition.
Di kelas, Nara menebar sapa pada setiap orang yang dia temui. Terbiasa dengan tingkah Nara yang seolah sehari suram dan sehari kemudian ceria, penghuni kelas tidak memandang Nara aneh lagi. Meski begitu mereka sempat heran ketika melihat Nara datang tanpa ransel.
Tempat duduk Nara berada di barisan ketiga nomor dua dari belakang. Di kelas IPS 2 ini, meja dan kuris disusun sendirian. Di kelas ini ada 20 orang dengan aturan duduk 4 deret 5 baris. Karena termasuk bangku area belakang yang dekat dengan sekumpulan gamers pro kelas, tidak mungkin tidak Nara ikutan main game.
Karena kesepakatan antara murid laki-laki di kelas, mereka membeli karpet sebagai alas ketika main game. Karpet yang akan digelar ketika digunakan dan bila selesai akan digulung kembali. Ini juga sudah mendapatkan persetujuan wali kelas. Ya buat apa tidak disetujui ketika karpet itu dibeli bukan menggunakan uang sekolah tapi uang pribadi para murid.
Nara lesehan di dekat colokan. Semalam dia lupa mencharger ponselnya setelah ditelpon Bunda. Jadi sembari menunggu ponselnya mengisi daya, Nara main game. Lagipula waktu sampai bel masuk masih lama.
Apa game yang Nara mainkan? Tidak banyak. The legend of Zelda breath of the wild, dan Animal Crossing. Hanya game-game yang ada di Nintendo Switch-nya. Nara hanya memainkan game yang dia suka.
Lalu kenapa dia tetap membeli PS 7? Kan, sudah Nara bilang itu untuk kepuasan batinnya.
Larut dalam game, Nara tidak sadar Ajun yang semula ada di sebelahnya kini digantikan oleh Afa. Sebetulnya nama Afa itu cukup keren. Khawarizmi Faaz Attafta. Cowok yang paling berkharisma di kelas. Paling royal juga karena suka traktir. Afa sering bagi-bagi makanan. Mungkin karena papa Afa ini punya bisnis retail yang punya toko nyaris di seluruh titik strategis di negara ini. Yang warna kebangsaan tokonya adalah warna merah dengan logo lebah. Pasti tahu lah, ya.
Memang, di kelas ini dan di kelas-kelas lain di sekolah ini, dihuni oleh mereka anak-anak pebisnis kelas menengah hingga atas atau paling tidak, anaknya pejabat.
"Lo udah bayar kemaren?" Tanya Afa. Setelah saling mengaktifkan fitur battle dengan Nintendo milik masing-masing.
"Udah dong. Langsung lunas." Jawab Nara jumawa.
"Kemarin bokap gue mergoki." Afa bercerita. Masih seputar PS 7. "Doi ngancem bakal nyita motor sama debit kalau gue sampe bayar lunas."
"Lah terus?" Nara udah mau seneng di kelas ini cuma dia yang jadi bagian 2500 pembeli PS 7. Ngerasa paling istimewa gitu.
"Tetep gue bayar, lah." Nara nggak jadi seneng. "Dengan catatan gue mau aja ikut magang di kantor bokap."
"Yailah, kasus lo sama kayak gue, Af! Bokap nyuruh gue nemenin dia ke acara-you-know lah."
"Eh, tapi serius. Gue sempat kaget waktu liat daftar tamu—ini gue nggak iseng liatin daftar tamu tapi bokap gue nyuruh gue kerja sebagai hukuman karena gue ngotot beli PS 7, alhasil gue disuruh-suruh dan salah satunya nge-crosscheck daftar tamu. Ada nama bokap lo sama nama lo."
"Gue ngerayu bokap kemarin buat bayarin. Terus sesuai kesepakatan gue harus nemenin dia. Gue oke aja. Dalam hati gue udah menyusun 1001 rencana buat kabur. Malesin banget ikut acara begituan."
Acara sosial elit yang dimaksud adalah acara yang dilakukan para pebisnis untuk mempererat hubungan. Bisanya untuk merayakan ulang tahun para pimpinan atau keluarga perusahaan dan ulang tahun perusahaan. Acara tidak lebih dari ngobrol, makan enak, dan bersenang-senang. Yang tentu saja bukan zona bagi remaja macam Afa.
Mungkin juga bukan zona untuk Nara yang sudah menolak sedari awal.
"Tapi emang lo nggak pernah muncul sebagai Kartorarso sih, Na. Seringnya ya Abang lo yang pertama, sama Bang Gala." Setahu Afa selama jadi bagian dari elit sosial yang sering ikut acara ramah-tamah antara mereka, bahkan Papanya juga menyelenggarakan acara yang sama minggu depan. Acara yang meski kelihatannya buang-buang uang (bukan masalah buang-buang uang karena bagi mereka para elit sosial uang mudah dicari). Acara seperti itu memiliki banyak rahasia dan selalu menyebarkan dan menimbulkan rumor-rumor. Salah satunya tentang rumor kerenggangan hubungan Setya Kartorarso, kakek Nara, dan sang anak pertama yakni Atmaditya. Rumor yang bermunculan terlalu mendengung hingga Afa yang notabenenya anak dari salah satu elit sosial mendengar banyak rumor tentang keluarga besar Nara termasuk tentang perusahaan keluarganya.
"Gue Atmaditya bukan Kartorarso."
"Kakek lo kan Kartorarso. Lo kenapa sebegitu nggak sukanya sih dikaitkan sama Kartorarso?"
Nara mengendurkan bahu. "Intinya gue seneng banget bokap pakai nama depannya buat nama belakang semua anak-anaknya, bukan Kartorarso lagi. Karena itu berarti gue bisa berdiri sendiri dengan nama gue sendiri. Kenapa deh muka lo takjub gitu?"
"Gue tuh tahu lo terlalu moody untuk cowok. Karena emang kadang lo bisa seserius itu dan kadang bisa sekonyol itu. Tapi nggak heran, mungkin lo gitu ada tujuannya."
"Sebentar, Af."
"Apa?"
"Lo.. barusan ngertiin gue banget…."
"HEH ENYAH LO."
"Hehehehe gue juga masih doyan lubang ketimbang batang kali!"
Obrolan Afa dan Nara di depan kelas terhenti ketika ketua kelas mereka mengatakan ada tugas sembari menunggu guru datang.
"Gue mau ngumumin yang remedial UH sosio minggu kemarin. Yang remed tolong nanti jawab soal di kertas yang gue bagiin."
"Ran! Nggak usah diumumin kalau yang remed orangnya itu-itu aja!" Nara langsung tersenyum lebar dengan sarkas ke arah Ajun yang barusan menyinggung dirinya.
"Kalau kalian ngira Nara remed. Kalian salah."
Satu kelas kompak berseru kagum.
"Wiiiiiiiiiihhhhh."
"Ini sejarah nggak sih UH Sosio Si Nara kagak remed dua kali berturut-turut!"
Sedangkan Nara tersenyum jumawa pada teman-temannya. Tidak sia-sia dia menghafal bahan ujian sampe matanya perih beberapa hari lalu.
Teem alias Tania Meiditama, gadis yang duduk di belakang Nara secara spontan menendang kursi di depannya hingga Nara terlonjak kaget.
"Lo udah mulai menata masa depan, Na?"
"Anjirun bahasa lo."
"Ya itu, tumbenan lo nggak remedial Sosio lagi."
"Lo harusnya seneng ya gue nggak remed. Lagian, udah seharusnya gue mulai menyukai sesuatu, toh sesuatu itu berguna buat diri gue sendiri."
"Yakali. PR aja gue yang ngerjain."
"Heh Ochoh, diam. Tolong jaga rahasia rumah tangga kita, dong!"
"Makanya jangan lupa bayar."
Meski teman-temannya anak dari orang berduit, minta traktiran, ditraktir tetap jadi kesenangan buat merek. Termasuk Nara.