"Iya, pak."
"Jangan iya-iya aja. Kamu juga sempat bolos dan tidur di gedung basket dua Minggu kemarin. Bolos waktu olahraga dan tidur di UKS. Belum bolos-bolos di bulan sebelum ini. Lain kali kalau kamu bolos lagi, sampe kabur dari sekolah, saya nggak segan ngasih surat peringatan."
"Iya, Pak."
"Saya serius. Kalau kamu bikin ulah lagi. Saya bakal hukum berat kamu."
"Maaf, pak. Iya pak."
Nara menunduk sekali lagi pada wali kelasnya. Ruang guru lengang di jam istirahat. Nara sempat bersitatap dengan Pak Sutopo yang menatapnya syarat kegemasan. Mungkin masih kesal Nara karena kemarin. Atau bisa jadi geregetan dengan Nara karena cowok itu satu-satunya murid di kelasnya yang rajin bolos. Tapi sebetulnya, Nara cuma mau mengeksplorasi sekolah, kok. Bukan mau bolos.
Berjalan sendirian di lorong hendak menuju kelas, Nara berhenti di persimpangan koridor ketika dia melihat Shouta, teman sekelasnya yang Jepang tulen, berjalan dari arah berlawanan. Nara bukan tertarik pada Shouta, dia tertarik pada benda yang dia bawa.
"Slime?? Lo dapet dari mana?"
"Depan. Ada kakek-kakek jualan mainan, gue borong aja slimenya."
"Minta satu, dong."
"Buat apa?"
Di kelas, dikenal kasta yang membedakan mereka berdasarkan tahun lahir. Ini dimaksudkan untuk membedakan anak-anak akselerasi yang seangkatan dengan mereka yang regular. Mereka anak akselerasi biasanya masih berpikiran anak SMP meski otaknya secemerlang anak kuliahan. Maka perlu permakluman yang sedikit berbeda. Di kelas ada empat anak akselerasi, salah satunya Shouta. Yang lain ada Ochoh, Lua, dan Eil.
Jadi Nara nggak kaget Shouta beli (maksudnya borong) slime dan sedikit bertanya ketika ada yang minta slimenya.
"Ya buat main."
"Yaudah. Ambil aja, pokoknya jangan ambil warna biru."
Nara dapat satu wadah sedang warna merah. Ketika membukanya, bau sabun menguar. Dan tiba-tiba Nara ingat Chio. Sudah lama dia tidak menemui Chio.
"Ta, gue boleh minta satu lagi?"
"Boleh. Pokoknya jangan ambil warna biru."
Setelah dapat slime yang dia mau. Nara lanjut jalan ke kelas bareng Shouta. Segalanya terasa biasa aja sampai ketika Nara masuk kelas, suara menggelegar Ochoh mengusiknya. Ternyata masih dengan perkara yang sama, Ochoh menagih bayaran atas PR Nara yang dia kerjakan.
Sebagai gentleman yang berdedikasi, Nara tidak akan mengingkari janji. Dia mengajak Ochoh ke koperasi siswa beli minum.
"Eh, lilin siapa nih."
Ochoh mengambil lilin itu dan melihat guratan di sekitar wadah lilin. Ada tulisan nama sekolah mereka disana. Pasti lilin untuk praktek kimia. Gadis itu membawa serta lilin dengannya sampai ke kopsis. Begitu membuka kulkas untuk memilih minum, Nara menawarkan untuk membawakan lilin itu.
Melihat slime dan lilin di genggamannya, mendadak Nara mendapatkan ide cemerlang.
"Choh."
"Apa."
"Slime kalau dipanasin bakal jadi apa, ya?"
"Mengkerut pasti karena kadar airnya berkurang."
"Masa? Lo pernah coba?"
"Kurang kerjaan banget. Tapi gue jadi penasaran, slime kalau dipanasin bakal kayak apa baunya sama wujud setelah dipanaskan."
"Penasaran kan, lo? Gue juga."
***
Pak Sutopo tidak habis pikir bagaimana cara kerja otak Nara. Baru juga sejam lalu beliau memanggil Nara ke ruangannya, mengingatkan remaja tanggung itu tentang kesalahan yang seharusnya diperbaiki. Namun kini keduanya kembali berhadapan.
Slime yang Nara minta dari Shouta benar-benar Nara panaskan. Berbekal kaleng kopi yang dia beli bersama Ochoh, lilin yang jatuh entah milik siapa, dan tentu saja slime. Nara benar-benar takjub dengan bagaimana slime mencair ketika suhu tinggi menyapanya. Tapi tidak lama, slime itu mengkerut.
Sebetulnya itu bisa terjadi secara biasa-biasa saja apabila Ajun tidak iseng meneteskan air ke slime yang mengkerut. Setetes demi setetes hingga akhirnya jadi banyak. Karena bersinggungan dengan zat lain (meski air tidak berbau), slime itu malah mengeluarkan bau tidak sedap. Praktis, satu kelas dibuat heboh ketika bau tidak sedap mulai mengganggu.
"Itu karena ada boraksnya kali! Karena slime biasanya biar awet dikasih boraks!"
"Zat pewarnanya juga tuh bikin tambah busuk baunya!"
Meski anak IPS. Tidak ada yang namanya tidak mengerti IPA dasar. Apalagi sesepele mengidentifikasi bau menyengat yang keluar.
Karena khawatir membahayakan pernafasan warga satu kelas, Nara yang merasa bertanggung jawab membuang slime itu ke jendela luar. Cairan baunya tuh ke taman. Cowok itu juga mencoba menguburnya dengan tanah agar bau tidak bergerak kemana-mana.
Namun naas, bau slime tidak bisa hilang begitu saja. Beberapa AC di kelas tidak bisa menyamarkan baunya secepat itu. Hingga jam bel masuk selanjutnya, tidak ada yang mau masuk kelas sebelum bau slime hilang atau setidaknya berkurang. Tak terkecuali guru yang mengajar nampak kesal kelasnya terganggu dengan sesuatu yang sangat tidak terduga. Baunya memang semenyengat itu.
Jadi secara ringkas, wajar Nara kembali menghadap wali kelasnya beberapa saat usai kejadian.
"Panggil Papamu aja ya, Na?"
"Jangan, pak. Nanti saya tewas dibetot papa saya." Nara meringis tidak enak pada Pak Sutopo. Beliau masih bujangan. Masih single. Tapi agaknya bakal menua dini karena kelakuannya. "Hukum saya apa aja, Pak. Bersihin lapangan indoor atau ngepel kolam renang. Saya mau."
***
SMA Borneo, nama sekolah Nara, berdiri dalam naungan sebuah yayasan milik salah satu perusahaan multinasional negara ini. Dikatakan perusahaan multinasional berarti memiliki banyak anak usaha dan tentunya, si pemilik usaha bisa dengan gampang jalan-jalan di Bali lalu tidurnya di Aceh. Alias bisa semudah itu menghabiskan uang tanpa takut uangnya habis. Apalagi untuk membangun sekolah dengan berbagai fasilitas. Salah satunya lapangan olahraga indoor dan outdoor. Juga kolam renang yang sekarang tengah Nara bersihkan.
Nara dihukum sendirian. Ajun dihukum berbeda dengannya. Nara nggak protes. Karena sadar dia sudah membuat kegaduhan.
Area kolam yang di pel lumayan luas. Nara sampai ngos-ngosan sendiri mengepel. Makanya dia butuh istirahat sejenak.
Sambil istirahat, Nara iseng memfoto alat pel digenggamannya. Mengirim gambar tersebut ke grup chat berisi Abang dan Divi. Nara sempat membaca sejenak pesan terakhir sekitar seminggu dari Divi yang mengatakan dia sudah sampai di Semarang.
Nara kemudian penasaran kira-kira anggota grup lain lagi pada ngapain.
Grup 'Three Musketeers' (3)
Nara: send a picture
Nara: berdebu banget ini grup
Gala: lo kena hukuman lagi?
Gala: kali ini ulah apalagi
Nara: haloow abangkuuh(๑♡⌓♡๑)
Nara: sekarang disana kira2 jam 6 pagi
Nara: lo tidur apa begadang
Nara: biasanya kalo stress lo begadang
Divi: lo ngepel kolam sekolah Na.
Nara: yui
Nara: lo ngerasa Dejavu ya karena gue pernah kepleset di kolam sampai lengan gue memar
Divi: kagak. Nanya doang.
Nara: (◕^◕)
Gala: gue kebangun karena firasat gue nggak enak
Gala: ternyata bener tugas gue di balikin dan suruh revisi
Nara: bukan khawatir karena gue berulah lagi
Gala: nggak
Divi: lo ngapain lagi
Nara: yaampun Divi penasaran sama aku >
Nara: gue main slime di kelas
Gala: bukan sekedar main kalau sampai dihukum
Gala: pasti slimenya nempel ke kursi guru terus gurunya nggak sengaja duduk di kursi itu sampai slime nempel di bajunya
Nara: yak, dikit lagi
Divi: lo emang nggak bisa diam, ya
Nara: kalau gue diam yang ada ngeri >
Gala: lo terlalu dimanja Mami makanya bentukannya gini
Nara: MAMI I LOP U >
Gala: Dip, left yuk
Gala left the group
Divi left the group
Nara: :))))))))) >