Kihyeon memasuki Perpustakaan Negara dan langsung menemui si penjaga perpustakaan yang memang telah mengenalnya dari jauh-jauh hari.
"Eoh! Kau di sini? Lama tidak melihatmu." Si penjaga perpustakaan langsung berdiri dan menyambut kedatangan Kihyeon dengan sebuah jabatan tangan.
"Aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa itu?"
Kihyeon mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari dalam saku celananya, dia segera membuka lipatan kertas tersebut untuk di tunjukkan kepada si petugas perpustakaan.
"Kau tahu apa maksudnya ini?"
Si petugas perpustakaan yang melihat kertas tersebut sempat mengernyitkan dahi. "Aku tidak mengerti. Tapi jika kau ingin mencari tahu, aku tahu kau harus mencarinya di mana."
"Di mana?"
"Carilah buku tentang Sains. Kalau tidak salah, aku pernah melihat hal seperti ini di buku itu."
"Baiklah, terima kasih. Jika mereka datang, katakan padaku."
Kihyeon meninggalkan si petugas perpustakaan dan menjelajahi setiap barisan rak-rak buku, berbaur dengan orang-orang dari Distrik 1. Dan tanpa ia sadari bahwa kedatangannya di sana sempat mengejutkan salah seorang yang baru saja ia lewati.
Tampak begitu panik. Pemuda itu menaruh kembali buku di tangannya dengan asal. Pemuda itu segera berlari meninggalkan perpustakaan dan sempat membuat heran si petugas perpustakaan yang kemudian mengabaikannya.
Kihyeon mengambil salah satu buku di mana terdapat tulisan 'Menguasai Dunia Dengan Sains' dalam sampul buku tebal tersebut. Membukanya dengan acak dan cepat, netra Kihyeon bergerak dengan lincah menangkap setiap huruf yang tertulis di sana hingga netra tajamnya melebar ketika ia mendapati tulisan yang hampir mirip dengan kertas yang ia bawa.
"Geledah tempat ini!"
Batin Kihyeon tersentak ketika pendengarannya menangkap suara lantang yang begitu tegas memasuki perpustakaan. Dia mengumpat tanpa suara dan buru-buru memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya sembari berjalan menjauh dari tempatnya.
Bersembunyi di balik rak buku, Kihyeon mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dan netranya kembali melebar ketika ia melihat beberapa anggota militer datang ke tempatnya, dan itu berarti ke keberadaannya di sana sudah diketahui.
Inilah rahasia besar yang di sembunyikan oleh Kihyeon dari orang-orang di sekelilingnya. Sebuah kebenaran bahwa dia telah menjadi buronan dari para militer yang menetap di Distrik 1. Entah bagaimana bisa para militer itu mengetahui bahwa Kihyeon lah yang telah membunuh Kim Dae Shik satu tahun yang lalu. Yang jelas Distrik 1 bukanlah tempat yang bisa Kihyeon kunjungi seenaknya. Karena sepertinya para anggota militer Distrik 1 memang telah menaruh dendam padanya, begitupun sebaliknya. Pada akhirnya Kihyeon yang berencana untuk hidup dengan damai setelah balas dendamnya terpenuhi, harus melanjutkan apa yang telah ia sambung sebelumnya dan berusaha untuk mengakhirinya.
"Hwang Kihyeon dari Distrik 9. Tunjukkan dirimu atau biarkan kami yang menangkapmu," lantang seorang pria paruh baya.
Kihyeon mendengus dengan wajah yang mengernyit. Dia melangkah mundur, namun tanpa sengaja sikunya menjatuhkan satu buku dan berhasil menarik perhatian para anggota militer tersebut.
"Di sana rupanya, tikus kecil. Dapatkan dia hidup-hidup!"
Kihyeon segera berlari untuk menghindari kejaran para anggota militer tersebut. Namun sangat tidak menguntungkan karena tidak ada pintu belakang di perpustakaan itu.
Dalam sekejap, suasana perpustakaan menjadi sangat mencekam. Para pengunjung semuanya duduk di lantai dan merendahkan kepala mereka, membuat Kihyeon dapat bergerak tanpa kesulitan.
Tak memiliki jalan lain karena pria paruh baya yang sebelumnya memberi perintah pastilah berjaga di pintu. Kihyeon menendang jendela kaca yang cukup lebar dan berhasil mengejutkan semua orang ketika kaca itu hancur berkeping hanya dalam sekali tendang.
Tak mencoba untuk mengulur waktu. Kihyeon segera melompat ke luar. Jatuh berguling di halaman samping dan membuat kedua bocah yang masih berada di sana tercengang. Melupakan fakta bahwa tubuhnya terkena serpihan kaca, Kihyeon segera bangkit dan melarikan diri.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia keluar dari Distrik 1!"
"Baik, Pak."
Hyeon Jin menarik pergelangan tangan Jeongin dan membawa teman kecilnya itu menjauhi keributan.
"Kak Song, bagaimana dengan kakak itu?"
"Shhh! Jangan pernah menyebut namanya. Jika waktu memihak, kita pasti akan bertemu lagi."
Langkah yang sempat terhenti itu kemudian berlanjut. Hyeon Jin kembali menyeret tangan Jeongin yang sesekali menoleh ke belakang. Menatap khawatir ke tempat di mana Kihyeon menghilang dari pandangannya sebelumnya.
Di sisi lain, Kihyeon terus berlari menyusuri gang sempit di antara rumah-rumah penduduk. Dan satu tembakan peringatan yang meluncur ke udara justru semakin mempermudah pergerakannya, karena saat itu pula para penduduk segera masuk ke dalam rumah masing-masing.
Sungguh menjadi hari yang melelahkan sekaligus mencekam bagi malaikat kecil penjaga Distrik 9. Jika saja para rekannya tahu apa yang saat ini terjadi padanya, mungkin selamanya ia tidak akan pernah di izinkan untuk meninggalkan Distrik 9. Namun sayangnya orang ini jauh lebih pandai menutupi segala sesuatu yang ia rahasiakan dari orang-orang di sekitarnya.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Matahari yang telah bergeser jauh dari atas kepala. Mengantarkan langit sore menjadi pemandangan singkat yang membawa deburan ombak di pesisir semakin kuat dan mengambil sedikit posisi di dalam pendengaran milik kehidupan yang bernaung di sekitarnya.
Min Hyeok menunggu dengan sedikit cemas di pintu keluar Distrik 1 ketika Kihyeon tak kunjung datang meski sudah satu jam lamanya ia menunggu di sana. Hingga ketika ia memiliki niatan untuk mencari rekannya tesebut, saat itu Kihyeon terlihat datang dari kejauhan.
Memerlukan waktu beberapa menit hingga keduanya mampu berhadapan. Namun semakin dekat jarak antara keduanya, semakin jelas pula pandangan Min Hyeok menemukan hal yang janggal pada rekannya tersebut.
"Kau dari mana saja?" pertanyaan menyelidik dengan tatapan yang sama pula, Min Hyeok tujukan pada Kihyeon yang baru mencapai tempatnya dalam keadaan yang sedikit berantakan.
"Dari suatu tempat, ayo." Terdengar begitu acuh. Kihyeon melewati Min Hyeok begitu saja.
Min Hyeok sejenak terdiam. Memperhatikan rekannya sembari mencari celah untuk kembali bertanya hingga ia menemukan apa yang berbeda dari rekannya tersebut. Terdapat luka lecet di bagian lengan Kihyeon yang saat itu hanya mengenakan kaos pendek, dan bukan hanya pada lengan. Namun juga beberapa luka kecil di wajah yang bertambah dari saat mereka datang.
"Kau terluka?"
Kihyeon sekilas memandang, tak menunjukkan niatnya untuk menjawab.
"Hanya luka kecil," gumamnya kemudian.
"Siapa?"
"Berandal kecil Distrik 1."
"Kau tidak sedang mencari alasan, bukan?"
Menyadari nada bicara Min Hyeok yang lebih menuntut, Kihyeon benar-benar memandang rekannya tersebut.
"Apa maksudmu?"
"Siang tadi, aku mendengar keributan di Distrik 1. Itu bukan dirimu, kan?"
Kihyeon tak langsung menjawab. Tak memungkiri bahwa meski dia merupakan seorang penipu yang ulung, tidak akan mudah baginya untuk lepas dari tatapan menyelidik milik Han Min Hyeok.
"Lupakan, sebaiknya kita segera kembali." Kihyeon lantas mempercepat langkahnya.
"Hwang Kihyeon, jangan bercanda."
Tak mendapatkan respon, Min Hyeok pun menyusul Kihyeon dan tanpa keduanya sadari bahwa ada salah seorang anggota militer yang sedari tadi mengawasi mereka dari kejauhan.
Sore itu, keduanya meninggalkan Distrik 1 dengan sedikit pertikaian yang sempat terjadi ketika Kihyeon menolak untuk mengatakan kejujuran pada Min Hyeok. Namun seberapa sering mereka beradu mulut, keduanya akan mencapai hasil akhir dengan damai meski tidak ada jawaban yang memihak sekalipun.
Mereka berjalan menyusuri jalanan kosong yang di apit oleh lahan kosong yang tampak tak terurus. Udara sore yang mulai membeku menyapa mereka, sejenak memainkan anak rambut mereka sebelum berlalu tanpa membawa kabar menyesatkan.
Mengakhiri perdebatan sebelumnya. Min Hyeok menyerahkan surat kabar kepada Kihyeon.
"Apa berita utamanya."
"Park Chung Hee."
Kihyeon mengambil surat kabar tersebut dan membacanya. "Dia orang yang sulit." gumamnya setelah membaca sedikit artikel yang membahas tentang percobaan pembunuhan Park yang gagal dan justru menewaskan istrinya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apanya?"
"Park."
"Kita tidak bisa memastikannya jika kita tetap bertahan di Distrik 9."
"Maksudmu ... kau berniat pergi ke Seoul?" selidik Min Hyeon.
Wajah Kihyeon mengernyit. "Aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Sekalipun aku pergi, belum tentu aku bisa menemui Park. Memangnya siapa aku?"
"Kenapa kau tidak bisa pergi?"
"Aku memiliki firasat buruk."
"Mengenai mereka yang mengumpulkan seluruh data distrik?"
"Tidak sepenuhnya."
"Lalu?"
Terlihat lebih frustasi, pandangan yang sempat teralihkan itu kembali pada Min Hyeok. "Ayahku menyuruhku menikah dengan Seo Hye, seminggu lagi."
"Kenapa mendadak sekali?" Min Hyeok sedikit terkejut.
Kihyeon tiba-tiba berucap dengan nada bicara seperti tengah mengeluh, "itulah yang ingin aku tahu ..."
"Jadi ini yang membuat wajahmu murung sejak pagi?"
Tak menjawab, namun juga tak menyangkal. Bahkan Kihyeon kehilangan waktu tidurnya, terjaga sepanjang malam hanya untuk memikirkan pertengkaran dengan ayahnya sebelumnya.
"Kenapa? Bukankah itu bagus? Kau tidak perlu lagi bersikap posesif padanya."
"Kau menyindirku?"
"Aku hanya memberitahu ... kenapa? Kau tidak ingin menikahinya?"
"Bukan begitu ..."
"Lalu?"
"Ayahku menyuruhku mengambil alih Distrik 9 setelah pernikahan."
"Apa?"
Reaksi yang juga pernah ditunjukkan oleh Chang Kyun, namun saat itu pula Kihyeon teringat akan perkataan Jeongin. Bocah dua belas tahun yang sebelumnya mengatakan sesuatu yang tak masuk akal tentang Hyung Won.
"Ada apa? Kenapa terkesan terburu-buru? Mungkinkah sudah terjadi sesuatu?"
Pertanyaan Min Hyeok berhasil membuyarkan lamunan Kihyeon. Rentetan pertanyaan yang tak diberikan waktu untuk menerima sebuah jawaban ketika perhatian keduanya teralihkan oleh suara deru kendaraan yang datang mendekat. Dari kejauhan beberapa mobil militer datang mendekat. Kihyeon dan Min Hyeok pun menyingkir dari jalan, memberi ruang kepada rombongan para perwira muda dari Provinsi Gyeonggi tersebut.
Namun baru satu meter melewati tempat keduanya. Mobil paling depan berhenti, membuat mobil di belakangnya turut berhenti. Pandangan Kihyeon dan Min Hyeok tersita oleh perwira muda bernama Choi Young Jae yang saat itu datang mendekati mereka.
"Dari distrik mana kalian?" sebuah pertanyaan yang tidak begitu menuntut yang justru berbalaskan jawaban yang tidak bersahabat dari Kihyeon.
"Bukan urusanmu."
"Katakan pada teman-temanmu bahwa besok pagi, militer akan mengambil alih Distrik 4 dan Distrik 8."
Setelah memberikan berita mengejutkan itu, Young Jae lantas kembali ke dalam mobil dan langsung di sambut oleh pertanyaan menyudutkan dari Jae Beom.
"Apa yang kau katakan pada mereka?"
"Salam perkenalan."
Tak terlalu menjadikan hal itu sebagai masalah, Jae Beom lantas kembali menjalankan mobilnya. "Jangan melakukan hal yang gegabah."
Pandangan Kihyeon serta Min Hyeok masih mengikuti pergerakan dua mobil yang berjalan menjauh dan mengarah ke Distrik 1.
"Apa orang itu bisa percaya?"
Kihyeon lantas memandang Min Hyeok. "Pergilah ke Distrik 8 dan bawa Hyung Won bersamamu. Mereka baru akan percaya jika kau membawa Hyung Won bersamamu."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan pergi ke Distrik 4."
"Kau yakin?"
"Jangan cemaskan aku. Kita bertemu di pintu masuk Distrik 9. Pergilah ke Distrik 8 menggunakan mobilku."
"Jaga dirimu baik-baik dan cepat kembali."
Kihyeon memberikan sebuah anggukan dan keduanya pun berpisah. Min Hyeok yang kembali ke Distrik 9 untuk menjemput Hyung Won yang kemungkinan telah kembali ke Distrik 9, sedangkan Kihyeon bergegas menuju Distrik 4 yang tak kalah jauh dari tempat yang akan dituju oleh Minhyeok.
Menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Kihyeon mencari jalan pintas agar bisa sampai lebih cepat di Distrik 4. Namun meski begitu, langkah kakinya masih kalah cepat dari langit yang kini telah menggelap dan menutup jarak pandangnya.
Napas berat yang beradu dengan langkah kakinya yang mulai memberat. Dia memutuskan untuk berhenti, sejenak mengisi pasokan oksigen dalam paru-parunya hingga netra tajamnya memicing ketika menyadari ada pergerakan di sekitarnya.
Tubuh yang sempat membungkuk itu lantas kembali tegap. Dia berbalik, namun pergerakannya tiba-tiba terhenti ketika ujung senapan menempel pada kepalanya.
"Siapakah ini? Hwang Kihyeon, kah? Putra Hwang Sejin dari Distrik 9?"
"Sial!"
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL