Saat matahari telah sepenuhnya tenggelam, Min Hyeok baru saja sampai diperkampungannya. Tak berpikir bahwa rekan-rekannya masih berada di Bukit Terlarang, Min Hyeok segera pergi ke rumah Kihyeon untuk mengambil kunci sebelum mencari keberadaan Hyung Won.
Sementara rekan-rekannya saat ini sudah berkumpul di kedai. Sesuai kesepakatan awal, mereka berkumpul di Bukit Terlarang sore tadi. Namun ketika Min Hyeok dan Kihyeon tak juga kembali meski matahari telah terbenam, mereka memutuskan untuk kembali ke pemukiman dan menunggu dengan resah kepulangan kedua rekannya.
Hyeon Woo menegur guna mengalihkan perasaan khawatir mereka, "Chang Kyun, kau sudah memeriksa Kihyeon di rumah?"
"Kak Hwang belum pulang, dia juga tidak membawa mobilnya."
Hoseok bergumam, "apa yang terjadi pada mereka? Tidak biasanya mereka seperti ini."
Joo Heon menyahut, "aku yakin ada sesuatu yang terjadi. Apa mereka sedang merahasiakan sesuatu dari kita?"
"Kenapa juga mereka harus pergi ke Distrik 1?" timpal Hoseok lagi.
Hyeon Woo turut menyahut, "ingin mencari pun tidak akan berguna jika kita tidak tahu di mana mereka."
Perhatian Hyung Won teralihkan oleh sebuah mobil yang berhenti di jalanan depan kedai melalui kaca bangunan itu. Dan Hyung Won mengenali bahwa mobil itu adalah mobil milik Kihyeon.
"Shin Chang Kyun," tegur Hyung Won, berhasil mengalihkan seluruh perhatian tertuju padanya.
Hyung Won kembali berucap, "kau mengatakan bahwa Kak Hwang tidak ada di rumah?"
Chang Kyun mengangguk.
"Dia datang," celetuk Hyung Won yang membuat seluruh pasang mata memandang ke luar.
Dari kegelapan Min Hyeok menampakkan diri. Berjalan memasuki kedai dengan langkah yang tampak terburu-buru.
"Kalian dari mana saja?" tegur Hoseok namun diabaikan oleh Min Hyeok.
"Hyung Won, cepat ikut aku," ucap Min Hyeok tergesa-gesa, membuat semua orang bingung.
Hyeon Woo kemudian berdiri dan mendekati Min Hyeok. "Ada apa? Di mana Kihyeon?"
Min Hyeok menyahut, "tidak ada waktu untuk menjelaskan. Hyung Won, ikutlah denganku sekarang."
Hyung Won beranjak dari tempat duduknya, dan tanpa bertanya pemuda itu mengikuti Min Hyeok.
"Aku akan menjelaskan pada kalian setelah kembali," ucap Min Hyeok sebelum pergi bersama Hyung Won.
"Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan?" gumam Joo Heon penuh selidik.
Hyeon Woo menyahut dengan sedikit khawatir, "Kihyeon tidak ikut pulang, berarti memang telah terjadi sesuatu yang buruk."
"Tapi kenapa Min Hyeok membawa Hyung Won pergi?" heran Hoseok.
"Sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh orang biasa," celetuk Chang Kyun yang berhasil menarik seluruh perhatian.
Dahi Joo Heon mengernyit, "apa maksudmu?"
"Sesuatu yang hanya bisa ditangani oleh putra dari Wakil Ketua Distrik. Kak Hwang tidak ada bersama Kak Han—"
Hoseok menyela, "itu artinya Kihyeon sedang berada di tempat lain."
"Sesuatu yang hanya bisa ditangani oleh putra petinggi Distrik 9?" gumam Hyeon Woo dengan penuh pertimbangan. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Lalu bagaimana dengan kita?" tanya Hoseok.
"Kita tidak tahu situasi apa yang sedang mereka hadapi. Mari percaya pada mereka dan tunggu di sini, hanya itu yang bisa kita lakukan."
Keputusan Hyeon Woo menjadi keputusan bersama. Sementara saat itu Min Hyeok dan Hyung Won bergegas menuju Distrik 8 menggunakan mobil milik Kihyeon.
Berdiam diri sejak meninggal kedai, Hyung Won pada akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan untuk memperjelas keberadaannya di sana.
"Ke mana kita akan pergi, Kakak?"
"Distrik 8," sahut Min Hyeok yang memang tak memiliki waktu untuk berbasa-basi.
"Kalau begitu di mana Kak Hwang?"
Min Hyeok membagi konsentrasinya untuk memberikan penjelasan sesingkat mungkin namun masih bisa dimengerti oleh Hyung Won.
"Dengarkan baik-baik ... kita akan menemui Ketua Distrik 8, dan kau harus mengatakannya bahwa besok pihak militer berencana mengambil alih Distrik 8."
Hyung Won lantas segera memandang Min Hyeok. "Dari mana Kak Han mendapatkan informasi itu?"
"Seorang perwira militer yang baru saja sampai di Distrik 1 mengatakan bahwa besok pagi mereka akan mengambil alih Distrik 4 dan Distrik 8. Kihyeon saat ini pergi ke Distrik 8 untuk memberikan peringatan."
"Kak Han percaya dengan apa yang mereka katakan?"
"Sekarang bukan saatnya untuk memutuskan percaya atau tidak. Kita bisa memutuskan besok setelah melihat apa yang terjadi."
Hyung Won menjatuhkan pandangannya ke samping, tak lagi merespon ucapan Min Hyeok. Dan perjalanan mereka menjadi sangat hening ketika mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Karung yang menutupi kepala itu terlepas. Menampakkan pemandangan tak bersahabat bagi kedua netra Kihyeon sebelum sebuah kepalan tangan menghantam wajahnya. Wajah pemuda itu berpaling disusul oleh rasa perih dan dingin yang tercipta di sudut bibirnya ketika pukulan sebelumnya berhasil menggores wajahnya dan membuat sudut bibirnya terluka akibat benturan keras pada giginya sendiri. Dengan cepat darah keluar dari sudut bibirnya dan mengarah ke dagu, menandakan bahwa luka tersebut cukup parah.
"Lihatlah siapa ini? Bukankah ini tangkapan yang bagus?" ujar salah satu perwira muda bernama Lee Hoe Taek yang kemudian mengambil ransel milik Kihyeon dan mengeluarkan semua isinya. Saat itu pandangannya langsung tertuju pada buku tebal yang sebelumnya di ambil dari perpustakaan Distrik 1 oleh Kihyeon.
Hoe Taek mengambil buku tersebut. "Apa ini? Apa kau baru saja mencuri?"
Sudut bibir Hoe Taek tersungging. Seakan belum puas dengan darah yang keluar dari sudut bibir Kihyeon, perwira muda itu kembali menghantam wajah Kihyeon ke arah sebaliknya. Bukan menggunakan tangannya, melainkan menggunakan buku di tangannya yang kemudian ia lempar ke sembarang arah.
Tubuh Kihyeon membungkuk ke samping, merasakan rahangnya yang terasa remuk. Bahkan lebam akibat pukulan sang ayah sebelumnya belum sembuh, dan sekarang perwira di hadapannya itu memukulnya seperti orang kesetanan. Padahal dia tidak merasa bahwa dia mengenal perwira-perwira muda di hadapannya itu. Tangan yang terikat ke belakang semakin membuatnya tak mampu memberi perlawanan.
Hoe Taek kemudian menarik bahu Kihyeon ke depan dan mengambil sebilah pisau yang berada di balik baju pemuda itu. Senyumnya kembali tersungging seiring dengan ia yang kembali menegakkan tubuhnya dan mendorong bahu Kihyeon dengan kasar. Menambah rasa sakit yang kini di derita oleh pemuda malang tersebut.
"Aku dengar anak-anak Distrik 9 selalu membawa sesuatu di balik baju mereka. Mengesankan!"
Hoe Taek kembali memukul wajah Kihyeon menggunakan tangan kirinya lalu mencengkram bagian belakang kepala Kihyeon dan menariknya ke belakang. Membuat pemuda itu mendongak dengan paksa sebelum ia yang menempelkan sebilah pisau di tangannya pada leher pemuda itu.
"Kau mencoba membunuh kami dengan menggunakan benda seperti ini? Bagaimana jika kau merasakannya terlebih dulu, Bocah!"
Tak merasa takut sedikit pun, Kihyeon justru meludahi wajah Hoe Taek dengan tatapan yang dipenuhi oleh kebencian dan membuat Hoe Taek tersenyum tak percaya.
"Kau cari mati rupanya. Aku dengar orang-orang Distrik 1 sedang mencarimu ... aku sedikit penasaran, apa yang kau perbuat di sana sehingga kau menjadi sangat terkenal?"
Kihyeon memberontak, membuat beberapa perwira di sampingnya segera menahan bahunya. Namun ia berhasil menendang perut Hoe Taek dan membuat perwira itu terlempar ke belakang dengan imbas lehernya yang mendapatkan luka goresan yang cukup panjang.
Berhenti memberontak. Napas Kihyeon terdengar memberat. Menahan rasa sakit di area lehernya yang mulai mengeluarkan darah dalam jumlah yang banyak dan juga sebagai luapan dari kemarahannya. Namun tindakannya barusan telah berhasil membuat Hoe Taek murka.
"b******n kecil!"
Hoe Taek bangkit sembari meraih pisau yang sempat terlempar dari tangannya dan kembali menghampiri Kihyeon.
"Aku tidak perlu berbaik hati lagi padamu. Kau, ayahmu dan kakekmu adalah parasit. Kau dengar itu? Kalian semua hanyalah kotoran yang mengotori sepatu kami."
"Dan kalian adalah b***k Pemerintahan!" balas Kihyeon.
"Bunuh saja dia, akan lebih mudah untuk menguasai Distrik 9 jika tidak ada lagi keturunan dari Hwang Young Jin," salah satu perwira memberi usul dan hal itu mengundang seringai terlihat di wajah Hoe Taek.
"Benar juga apa yang kau katakan. Parasit seperti mereka, memang sudah seharusnya dilenyapkan."
Hoe Taek berjalan mendekat, namun saat itu Kihyeon bangkit lebih dulu setelah berhasil melepaskan ikatan di tangannya. Mengambil kesempatan, Kihyeon menggunakan tali yang masih berada di tangannya untuk mencekik Hoe Taek dan membawanya ke sudut ruangan agar bisa berlindung dari para perwira lainnya yang tampak panik.
"Kau sudah gila, Hwang Kihyeon!" bentak Hoe Taek, namun setelahnya Kihyeon justru menguatkan tali yang mencekik lehernya.
Kihyeon tersenyum licik, "kau pikir aku tidak bisa membunuhmu hanya karena aku berada di rumahmu? Jangan konyol ... beraninya kau memanggil namaku."
Kihyeon menumbangkan Hoe Taek dan memulai perkelahian dengan perwira lainnya. Hingga pada akhirnya Kihyeon mendapatkan kembali pisau miliknya dan kembali menggunakan Hoe Taek sebagai sandera. Menaruh belati itu di depan leher Hoe Taek.
"Kemarilah dan kalian akan menjadi penyebab dari kematian teman kalian sendiri," tantang Kihyeon.
Salah seorang perwira mengambil semua senapan dan langsung menodongkannya ke arah Kihyeon tanpa ragu.
"Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?" tegur perwira itu.
"Kau bisa melakukannya, aku tahu itu. Kalian bisa mengkhianati siapapun untuk tetap hidup." Kihyeon tersenyum meremehkan, mengabaikan sebagian pakaiannya telah berubah warna menjadi merah karena darah yang keluar melalui luka di lehernya yang belum menutup.
Pergerakan semua orang terhenti bersamaan dengan perhatian mereka yang tertuju pada pintu yang terbuka. Kihyeon mengenali perwira muda yang saat itu menginterupsi mereka, dan perwira itu adalah Mark Tuan. Perwira muda yang mendapatkan sambutan tak menyenangkan darinya di malam sebelumnya.
Mark berjalan masuk, dan bisa dilihat sikap tak bersahabat yang di tunjukkan oleh para anggota militer Korea Selatan itu pada orang asing.
"Lepaskan dia, Hwang Kihyeon."
"Agar kalian bisa membunuhku?" balas Kihyeon.
"Jika kau mati di sini, itu hanya akan mempersulit keberadaan kami. Lepaskan dia." Mark Tuan membujuk dengan cara yang halus.
Meski ragu, pada akhirnya Kihyeon melepaskan Hoe Taek. Mendorong perwira itu cukup keras.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Mark kembali menegur dengan menggunakan bahasa Korea yang sangat fasih.
"Bukan urusanmu, Orang Asing!" ucap Hoe Taek dengan pembawaan yang tenang namun terdengar begitu sinis.
"Kau harus berhenti, Lee Hoe Taek."
"Cih! Kau pikir kau siapa? Menyingkir lah dari hadapan kami, Orang Asing!"
"Hanya mengingatkan, jabatanku berada di atasmu. Jika kau melupakan hal itu."
Hoe Taek memalingkan wajahnya dengan senyum yang tersungging tak percaya. "Cih! Menggelikan."
Tak berniat memberi perlawanan pada senior mereka, Hoe Taek lantas pergi meninggalkan ruangan itu diikuti oleh rekan-rekannya yang juga sempat memandang tak suka pada Mark.
Setelah hanya tinggal mereka berdua. Mark mendekati Kihyeon tanpa berusaha untuk peduli dengan tatapan tak bersahabat milik pemuda yang kini tengah berjuang untuk menahan rasa sakit yang sudah pasti telah mengambil alih tubuhnya.
Sekilas Mark melihat area leher Kihyun, di mana di balik darah yang masih basah tersebut terdapat luka yang terbuka.
"Pergilah, aku akan mengantarmu sampai ke perbatasan," tawar Mark.
"Tidak perlu! Jangan berusaha bersikap baik padaku."
"Orang-orang Distrik 1 sedang mencarimu. Anggap ini sebagai hutang yang harus kau bayar di masa depan, kelak."
Tanpa meminta izin terlebih dulu, Mark menarik lengan Kihyeon yang tampak mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan. Namun saat itu Kihyeon segera menepis tangan si perwira muda meski raut wajahnya tak memungkiri bahwa dia benar-benar kesakitan saat ini.
Tak mempedulikan sikap kasar Kihyeon. Mark berjalan mendahului pemuda itu dan menunggu di luar pintu ketika pemuda Distrik 9 itu memunguti barang-barang yang tersebar di lantai. Namun buku yang terlempar jauh dari tempatnya tak mampu di jangkau oleh penglihatannya sehingga ia pergi begitu saja. Meninggalkan buku yang susah payah ia dapatkan dan berjalan mengikuti langkah si perwira asing yang kini membimbing jalannya agar bisa keluar dengan selamat dari Distrik 2, tempat kini ia berada.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL