Malam itu Kihyeon masih terjaga di ruang tamu rumahnya. Duduk bersandar pada kursi, pemuda itu tampak serius dengan apa yang saat ini ia pikirkan. Jang Hyun Jae secara resmi menjadi Ketua Distrik 9. Kihyeon tahu bagaimana jalan cerita selanjutnya. Ia tak lagi memilik kesempatan untuk memimpin Distrik, namun sebaliknya. Jang Hyung Won memiliki peluang yang besar untuk menggantikan kekuasaan Hyun Jae di masa sdepan.
Kihyeon tak mempermasalahkan jika suatu hari nanti Hyung Won akan menjadi Ketua Distrik. Yang membuat Kihyeon merasa terganggu adalah apa yang ia dengar kemarin dari dua bocah yang ia temui di Distrik 1.
'Akan lebih mudah jika Jang Hyung Won yang mengambil alih Distrik.'
Kihyeon tak bisa menghilangkan kalimat itu dari pikirannya. Semakin ia memikirkannya, semakin ia terjebak oleh keadaan. Kihyeon sempat berpikir bahwa kematian kedua orang tuanya berhubungan dengan hal itu. Namun jika apa yang ia pikirkan memang benar, bukankah itu berarti jika ayah Hyung Won terlibat dalam kematian kedua orang tuanya. Hal itu yang membuat Kihyeon semkain ragu, mengingat hubungan ayahnya dengan ayah Hyung Won yang sudah seperti keuarga sendiri. Sama halnya dengan hubungannya dengan Hyung Won.
Kihyeon terjebak dalam pemikirannya yang menyesatkan. Kihyeon tak ingin berpikiran buruk pada Hyung Won, namun apa yang ia dengar membuatnya begitu ragu.
Malam yang semakin larut. Pintu rumah terbuka dari luar. Perhatian Kihyeon teralihkan oleh kepulangan Chang Kyun.
Chang menegur sembar menutup pintu, "Kak Hwang belum tidur?"
"Aku belum mengantuk. Kau dari mana?"
"Aku dari rumah Kak Joo Heon." Chang Kyun mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Kihyeon. "Bagaimana dengan Seo Hye?" tanya Chang Kyun kemudian.
"Dia mungkin sudah tidur. Kau sudah makan?"
Chang Kyun mengangguk.
"Kalau begitu cepat mandi dan istirahat."
"Kak Hwang tidak ingin tidur?"
"Aku ingin keluar sebentar."
"Ke mana?" Chang bertanya degan lebih hati-hati.
"Mencari udara segar. Tidurlah, tidak perlu menungguku."
Kihyeon beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Menuruni halaman, Kihyeon menghampiri mobilnya. Dan saat itu Chang Kyun memperhatikannya dari jendela.
Chang Kyun merasa khawatir. Namun tak bisa mencegah kepergian Kihyeon. Dan jika hanya ingin mencari udara segar, untuk apa pemuda itu pergi menggunakan mobil. Chang Kyun yakin bahwa ada suatu tempat yang ingin dituju oleh Kihyeon malam itu.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Kihyeon mengemudi dengan tenang, tak terlihat terburu-buru. Dan setelah pergi tak begitu jauh, Kihyeon menepikan mobilnya di dekat rumah Hyung Won yang berada di seberang jalan. Suasana malam itu tampak lebih hening dari malam-malam sebelumnya. Hal itu cukup wajar karena mereka baru saja kehilangan seseorang yang paling disegani di Distrik 9.
Kihyeon mematikan mesin mobilnya dan berada di sana untuk beberapa waktu ke depan sembari sesekali memperhatikan rumah Hyung Won.
Kihyeon berpikir untuk menemui Hyung Won. Namun jika dia datang bertamu, bukan hanya Hyung Won yang akan ia temui, melainkan juga Min Hyeok. Dan tidak mungkin bagi Kihyeon untuk mengajak Hyung Won berbicara berdua saja jika ada Min Hyeok di sana. Karena Min Hyeok pasti dengan cepat mengetahui bahwa ada hal yang tengah ia tutup-tutupi darinya.
Dan mungkin sebuah keberuntungan bagi Kihyeon karena saat itu Hyung Won baru saja kembali sseorang diri tanpa ada Min Hyeok bersamanya.
Langkah Hyung Won sempat terhenti ketika ia mengenali mobil milik Kihyeon. Bertanya-tanya untuk apa Kihyeon berada di sana malam itu. Hyung Won lantas berjalan mendekat, berpikir bahwa Kihyeon tengah bertamu ke rumahnya untuk menemui Min Hyeok. Namun ketika ia menemukan Kihyeon berada di dalam mobil melalui jendela mobil yang terbuka, Hyung Won bertanya-tanya dalam hati tentang keberadan Kihyeon malam itu di sekitar rumahnya.
Hyung Won lantas mendekat dan memberikan teguran, "apa yang Kak Hwang lakukan di sini?"
Perlahan Kihyeon menoleh ke arah suara yang baru saja menegurnya. Tak tampak terkejut meski ia tak tahu kedatangan Hyung Won sebelumnya.
"Kau baru pulang?" Kihyeon balas menegur.
"Apa yang Kak Hwang lakukan di sini?"
"Aku sedang menunggumu."
Hyung Won menatap penuh tanya, tak biasanya Kihyeon mencarinya. "Ada perlu apa?"
"Masuklah."
Hyung Won mengitari bagian depan mobil dan masuk, menempati kursi penumpang di samping Kihyeon. Sementara Kihyeon menutup kaca jendela, sesuatu yang membuat Hyung Won merasa ada hal yang harus dibicarakan dengan serius.
Keduanya bertemu pandang dan Kihyeon memulai pembicaraan lebih dulu, "kau sudah makan?"
"Jika Kak Hwang sedang terburu-buru, Kak Hwang bisa mengatakannya sekarang," sahut Hyung Won, tak ingin mengulur waktu jika memang ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Kihyeon.
Kihyeon menjatuhkan pandangannya dan tersenyum tipis. Memang sangat mencurigakan tiba-tiba menginginkan pertemuan yang terkesan rahasia dengan pemuda itu.
Kihyeon kemudian menganngkat pandangannya, namun tak memandang Hyung Won. Dan ia lantas memulai pembicaraan yang lebih serius.
"Ayahmu telah menjadi Ketua Distrik, kau pasti tahu seperti apa alur cerita setelah ini."
Dengan mudah Hyung Won bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Kihyeon. Namun ia tidak benar-benar memahami dengan apa yang dimaksud oleh Kihyeon sebenarnya dengan berbicara seperti itu.
Hyung Won mengalihkan pandangannya dan menyahut, "aku tidak memikirkan hal semacam itu."
"Jangan dipikirkan," Kihyeon menyela, "akan lebih baik jika kau tidak pernah memikirkan hal itu."
Hyung Won memandang Kihyeon. Pemikirannya bahwa Kihyeon menuduh dirinya telah merebut posisi pemuda itu semakin kuat. Namun yang didengarkan oleh Hyung Won saat ini barulah awal dari tujuan Kihyeon yang sebenarnya.
Kihyeon kemudian berucap, "aku tidak ingin kau salah paham dengan aapa yang baru saja aku katakan." Kihyeon balik memandang Hyung Won, "aku hanya tidak ingin kau terlibat."
"Apa maksud Kak Hwang?"
"Aku mendengar sesuatu yang tidak begitu baik tentang pergantian Ketua Distrik 9 saat berada di Distrik 1."
"Apakah itu?"
"Aku tidak berpikir untuk mengatakannya padamu."
"Kalau begitu apa yang ingin Kak Hwang bicarakan padaku sebenarnya?"
"Aku ingin meminta bantuan."
Setelah pertimbangan singkatnya, Kihyeon pun mengucapkan apa yang menjadi kekhawatirannya sehingga menemui Hyung Won malam itu.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah menggantikan posisi ayahmu."
Dahi Hyung Won sedikit mengernyit. Pemuda itu bertanya-tanya dalam hati tentang tujuan Kihyeon sehingga mengatakan hal semacam itu.
Kihyeon kembali berucap sembari memandang rumah Hyung Won, "aku tahu mungkin ini tidak adil bagimu. Tapi ... kau harus melakukannya jika masih ingin menjaga Han Min Hyeok tetap berada di sisimu."
"Apakah yang Kak Hwang maksud adalah aku akan kehilangan Kak Han jika aku mengikuti jalan ayahku?"
Kihyeon memandang Hyung Won dan menjawab tanpa keraguan, "dia akan meninggalkanmu."
"Kenapa? Apa alasannya?"
Kihyeon sempat terdiam untuk beberapa detik sebelum menyahut, "jangan lakukan, kau akan menyesalinya seumur hidupmu jika mengambil jalan itu."
"Aku membutuhkan sebuah alasan. Berikan aku satu alasan."
"Aku sedang mengkhawatirkanmu."
Hyung Won terdiam. Apa yang diucapkan Kihyeon sama sekali tak membuatnya tenang.
Kihyeon kembali berucap, "aku khawatir bahwa aku akan melukaimu jika kau mengambil jalan itu ... suatu hari nanti."
Hyung Won memalingkan pandangannya dan bergumam, "apakah di mata Kak Hwang aku adalah seorang pesaing yang harus disingkirkan?"
Kihyeon tersenyum tipis dan menjawab, "kau adik Han Min Hyeok ..."
Hyung Won kembali memandang Kihyeon dengan tatapan bertanya.
"... kau adik Han Min Hyeok, itulah sebabnya aku mengatakan hal ini padamu. Dia adalah orang pertama yang akan marah saat kau terluka. Dia adalah orang pertama yang akan hancur ... jika kau menghilang."
Batin Hyung Won tersentak oleh ucapan Kihyeon. Bukankah ucapan Kihyeon barusan lebih terdengar seperti ancaman pembunuhan?
Hyung Won menyahut dengan nada yang sama, "siapa? Orang yang akan menyingkirkan aku jika aku memilih jalan itu?"
"Kau berpikir bahwa aku yang akan melakukannya?"
Hyung Won tak menjawab.
"Jika aku ingin melakukannya, aku tidak akan menunggu lebih lama lagi. Aku ... tidak pernah berambisi untuk menjadi Ketua Distrik 9. Tapi ... aku juga tidak bisa membiarkanmu melakukannya. Han Min Hyeok ... dia lah orang yang akan melakukannya."
Rahang Hyung Won mengeras. Hingga detik ini, dia belum bisa menemukan inti dari semua ucapan Kihyeon padanya.
"Kenapa Kak Hwang mengatakan semua ini padaku?"
"Agar kau berhati-hati pada setiap langkah yang akan kau putuskan. Jika kau mengalami kesulitan, katakanlah itu pada Min Hyeok. Dia ada di sampingmu bukan tanpa alasan ... dunia tempat kita bernapas sekarang tidak se-naif yang kau pikirkan. Semua lebih buruk dari apa yang terlihat.
"Seandainya ... jika seandainya aku memilih jalan yang berbeda dengan ayahku, apa yang akan terjadi?"
"Kau bisa menetukan masa depanmu sendiri ... pulanglah, dia sudah menunggumu."
Hyung Won sempat terdiam dan tetap memperhatikan Kihyeon. Namun setelahnya ia turun tanpa mengucapkan apapun. Namun pergerakannya terhenti tepat saat satu kakinya menapak tanah.
"Aku akan pergi ke Gwangju," celetuk Kihyeon tanpa memandang sang lawan bicara.
Hyung Won kembali memandang Kihyeon. "Kapan?"
"Malam ini. Pikirkanlah apa yang aku katakan hari ini. Jika kau ingin menemukan jawabannya dengan mudah ... katakan semua yang kau dengar dariku hari ini pada Min Hyeok."
Hyung Won kemudian turun dan pergi tanpa mengucapkan apapun. Namun Kihyeon masih tetap berada di sana hingga pemuda itu masuk ke dalam rumah.
"Selamat malam, Jang Hyung Won," gumam Kihyeon yang lantas meninggalkan tempt itu.
Tak langsusng meninggalkan Distrik 9. Kihyeon terlebih dulu pergi ke gubuk di kaki Bukit Terlarang untuk mengambil sesuatu sebelum menempuh perjalanan menuju Gwangju. Meninggalkan Chang Kyun yang masih menunggu kepulangannya malam itu.
DISTRIK 9 : FLOWER OF EVIL
Hyung Won memasuki kamarnya dan menemukan Min Hyeok yang masih membaca buku menghadap meja belajar.
"Kau sudah pulang?" tegur Min Hyeok tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca sedari tadi.
"Kenapa Kak Han belum tidur?" Hyung Won balik menegur dan duduk di tepi ranjang miliknya.
'Aku belum mengantuk." Min Hyeok kemudian memandang Hyung Won, "paman tidak ikut pulang bersamamu?"
"Ayah masih harus mengurus sesuatu di sana."
"Kalau begitu mandilah dan cepat tidur."
Min Hyeok kembali pada bacaannya, namun hingga beberapa detik berlalu, Hyung Won masih belum beranjak dari tempatnya dan tetap memperhatikan Min Hyeok. Pemuda itu terlihat ragu untuk memulai pembicaraan yang lebih serius dengan Min Hyeok.
Min Hyeok yang awalnya tak terlalu menganggap keberadaan Hyung Won sebagai hal yang serius lantas mulai terusik ketika menyadari sepasang mata tengah mengawasinya. Min Hyeok lantas kembali memandang Hyung Won.
"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Hyung Won berucap degan ragu, "ada sedikit hal ingin aku tanyakan pada Kak Han."
Mendengar hal itu, Min Hyeok menutup buku di tangannya dan menaruhnya ke atas meja. Pemuda itu kemudian sedikit berputar untuk bisa menghadap Hyung Won.
"Tentang apa? Katakan saja," tegur Min Hyeok kemudian.
Hyung Won lantas berucap dengan penuh pertimbangan, "kepemimpinan distrik selalu turun temurun. Sekarang ayahku yang memimpin Distrik 9, kalau begitu ... apa yang akan terjadi pada Kak Hwang?"
"Kau khawatir bahwa dia akan membencimu?" ucap Min Hyeok tanpa basa-basi.
"Akankah dia melakukan hal itu?" Hyung Won mengembalikan pertanyaan.
"Semua orang pasti berpikir seperti itu. Terlebih lagi Paman Sejin berniat mundur dari jabatannya dalam waktu dekat."
Hyung Won sedikit terkejut, baru mendengar kabar itu hari ini. "Kenapa Paman Sejin melakukan hal itu?"
Min Hyeok menggeleng. "Dia merencanakan pernikahan Kihyeon akan diselenggarakan satu minggu lagi, dan setelahnya Paman Sejin akan mengumumkan Kihyeon sebagai Ketua Distrik yang baru. Memang terasa janggal, namun baik Kihyeon maupun Seo Hye tidak tahu apa alasannya."
"Mereka akan menikah?"
Min Hyeok mengangguk. "Kihyeon bertengkar dengan Paman Sejin di hari sebelum kita melakukan patroli. Kihyeon menolak untuk menikah maupun mengambil alih distrik ... siapa yang tahu jika akhirnya akan menjadi seperti ini. Kihyeon pasti sangat menyesal sekarang karena ayahnya pergi di saat hubungan mereka memburuk ... tapi kau tidak perlu khawatir, Kihyeon tidak akan menaruh kebencian terhadapmu."
"Kenapa Kak Han begitu yakin?"
Min Hyeok tersenyum. "Karena aku mendengar hal itu dari Kihyeon sendiri. Dia sedang mengkhawatirkanmu ... dia takut kau akan merasa sakit hati ketika orang-orang mulai membicarakan bahwa kau akan mengambil posisi yang seharusnya ditempati oleh Kihyeon."
"Haruskah aku menggantikan tempat ayah suatu hari nanti?"
"Kau berhak memutuskan. Menerima atau tidak, kami tidak akan ikut campur dengan keputusan yang akan kau ambil."
"Kak Han tidak akan membenciku?"
Min Hyeok kembali tersenyum. "Untuk apa aku membencimu? Jika tidak ada kau, mungkin aku sudah mati karena kesepian."
Senyum di wajah Min Hyeok melebar, dan saat itulah Hyung Won menyadari bahwa ucapan Kihyeon tentang Min Hyeok adalah sebuah kebenaran. Hari ini dia masih memiliki Han Min Hyeok berada di pihaknya, namun kelak, ketika ia memutuskan untuk mengikuti jalan yang sang ayah. Akankah Han Min Hyeok benar-benar akan menghilangkannya seperti ucapan Kihyeon.
Hyung Won merasa khawatir saat ia harus terlibat dalam skenario terburuk dalam kehidupan Hwang Kihyeon. Namun hingga malam berakhir pun, ia tak menyinggung tentang Kihyeon yang menemuinya malam itu.
Malam itu, Kihyeon berhasil mengacaukan batin Hyung Won. Membuat pemuda itu mengambil keputusan lebih awal sebelum mereka benar-benar terjebak dalam skenario kehidupan yang menyedihkan.
Tapi, bisakah Jang Hyung Won mengambil keputusan yang bijaksana ketika perasaannya mulai ikut melibatkan diri?
DISTRIK 9 : FLOWER OF EVIL