Dini hari itu Kihyeon sampai di Gwangju. Keadaan sudah sangat sepi ketika ia menepikan mobilnya di depan salah satu rumah. Kihyeon turun dari mobil dan segera berjalan menuju salah satu rumah di sana. Kihyeon kemudian mengetuk pintu, berusaha menarik perhatian dari sang pemilik rumah. Dan setelah menunggu beberapa menit, pintu di hadapan Kihyeon terbuka.
"Oh! Hwang Kihyeon?"
Seorang pria paruh baya yang mengenakan kaca mata terlihat bingung setelah melihat salah satu murid didiknya bertamu di waktu yang tidak tepat.
"Apa yang membawamu datang kemari?"
"Profesor Kim, bisa tolong luangkan waktu Profesor sebentar?"
"Tentu, masuklah."
Meski terlihat bingung, Profesor Kim tetap membawa Kihyeon masuk ke rumahnya. Namun alih-alih berbicara di ruang tamu, Profesor Kim membawa Kihyeon ke ruang kerjanya karena tidak ingin jika anak dan istrinya terbangun karena kedatangan Kihyeon.
"Duduklah," Profesor Kim mempersilahkan di saat ia sendiri duduk di balik meja kerjanya.
Sementara Kihyeon duduk berhadapan dengan sang Profesor.
"Kau terluka?" Profesor Kim baru menyadari perban di leher Kihyeon dan juga luka-luka kecil di wajah pemuda itu yang telah memudar.
"Hanya luka kecil, aku baik-baik saja."
"Kalau begitu, apa yang ingin kau tanyakan? Apakah memang benar-benar mendesak sehingga kau harus datang dini hari seperti ini?"
"Aku tidak tahu apakah ini bisa dikatakan sebagai hal yang mendesak atau tidak. Tapi aku membutuhkan jawaban dari Profesor Kim secepatnya."
Kihyeon menyerahkan berkas yang sebelumnya ia bawa kepada Profesor Kim. Dan Profesor Kim langsung memeriksanya begitu menerima berkas tersebut.
Dahi Professor Kim mengernyit ketika ia melihat isi dari berkas tersebut. Pria itu bergumam, "apa ini?"
"Aku menemukan beberapa komponen dari obat-obatan yang digunakan dalam kedokteran, namun dalam penggunaan dosis yang tidak wajar."
Wajah Profesor Kim tampak serius ketika ia memeriksa setiap halaman. "Dari mana kau mendapatkan ini?"
Itu bukanlah hal yang harus Profesor ketahui."
"Laboratorium Penelitian Distrik 7," Profesor Kim menyela dan langsung memandang Kihyeon, "kau mengambil ini secara diam-diam?"
Kihyeon sempat terdiam selama beberapa detik. "Profesor tahu apa yang tertulis di sana?"
"Jika aku tidak salah, dari laporan yang tertulis di sini ... mereka sedang melakukan pengujian obat-obatan. Mengurangi dan menambahkan dosis dalam setiap pemeriksaan mingguan."
"Maksud Profesor semacam membuat jenis obat baru?"
"Mungkin saja. Tapi bagaimana jika kita berpikir lebih sesederhana lagi?"
"Maksud Profesor mereka sedang menangani sebuah wabah dari suatu daerah?"
Sebelah alis Profesor Kim terangkat. Murid didiknya yang satu itu memang selalu penuh dengan kejutan. Tak heran jika Kihyeon menjadi murid yang paling ia sukai dari Fakultas Kedokteran.
"Kau sudah berpikir sampai sejauh itu?"
"Aku sudah mencari tahu, tapi tidak ada satupun daerah yang terkena wabah."
Profesor Kim bertanya dengan lebih hati--hati. "Apakah kau pergi ke Laboratorium Penelitian Distrik 7 untuk mengambil ini?"
Kihyeon mengangguk.
"Apa saja yang kau lihat di sana?"
Kihyeon menjatuhkan pandangannya dan terlihat cukup ragu.
Menyadari hal itu, Professor Kim lantas menegur, "tidak apa-apa, kau bisa mengatakannya padaku. Jika itu memang rahasia, aku tidak akan membicarakannya dengan orang lain."
Kihyeon kembali memandang Profesor Kim dan berucap, "ada banyak pasien di tempat itu. Namun anehnya ... mereka semua menggunakan angka sebagai identitas mereka."
"Kau mengenal seseorang di sana?"
Kihyeon menggeleng. "Jadi, menurut Profesor apa yang sebenarnya mereka lakukan pada orang-orang itu?"
Profesor Kim berucap dengan penuh pertimbangan, "begini saja ... aku harus mengkonfirmasikan hal ini dengan salah satu senior. Jika kau tidak keberatan, aku akan menyimpan berkas ini. Kau tidak perlu khawatir, aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang perlu untuk ditanyakan."
"Jika itu memang harus, Profesor Kim bisa membawanya. Dan aku minta maaf karena sudah mengganggu Profesor Kim di waktu seperti ini."
"Tidak masalah, kau bisa datang kapanpun."
"Kalau begitu aku harus pergi sekarang."
"Kau akan kembali ke Distrik 9?"
Kihyeon mengangguk.
"Tidak, bukankah ini sudah terlalu larut untuk kembali? Jika kau tidak keberatan, kau bisa menginap di sini malam ini."
"Terima kasih atas perhatian Profesor Kim, tapi aku harus kembali ke distrik sekarang," Kihyeon menolak kebaikan Profesor Kim.
"Baiklah jika begitu, berhati-hatilah di jalan."
Kihyeon beranjak berdiri. "Terima kasih atas bantuan yang Profesor berikan, aku pergi dulu."
Kihyeon sejenak menundukkan kepalanya sebelum meninggalkan Profesor Kim. Kihyeon bergegas kembali ke mobilnya dan pergi dari sana. Namun ketika mobilnya meninggalkan pemukiman itu, saat itu Profesor Kim berdiri di dekat jendela ruang kerja pria itu dan memperhatikan kepergiannya.
Setalah mobil Kihyeon tak lagi terlihat, Profesor Kim kembali menghampiri meja kerjanya dan meraih telepon rumah. Menghubungi seseorang.
Setelah menunggu beberapa saat, telepon pun tersambung. Professor Kim segera menyahut, "dia benar-benar memilikinya."
Professor Kim sejenak terdiam guna mendengar respon dari seberang telepon.
Pria itu kemudian kembali berucap, "anak itu, Hwang Kihyeon ... dia baru saja meninggalkan rumahku dan dalam perjalanan kembali ke Distrik 9 ... aku memiliki satu permintaan."
Professor Kim kembali diam, namun kali ini lebih singkat dibandingkan dengan sebelumnya.
"Dia adalah bisa menjadi aset yang berharga. Jika kau mampu, jadikan dia sebagai sekutu."
Suara seorang pria di seberang telepon menyahut, "itu adalah permintaan yang sangat konyol. Mulai dari sini, kami yang akan menangani Hwang Kihyeon."
Sambungan terputus secara sepihak. Perasaan khawatir tiba-tiba muncul di sudut hati Profesor Kim. Pada kenyataannya kebaikannya terhadap Kihyeon hanya akan menjerumuskan pemuda itu. Profesor Kim ingin meminta maaf pada Kihyeon, namun ia sadar bahwa ia sudah terlambat. Dan saat ini Kihyeon tengah menghampiri nasib buruk yang baru saja dihubungkan oleh si Profesor dengan dirinya.
"Kau akan baik-baik saja jika kau memtuskan untuk tidak melakukan apapun. Hwang Kihyeon ... sangat disayangkan," gumam Profesor Kim yang sarat akan penyesalan.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Menjelang subuh mobil Kihyeon terlihat mengarah ke Distrik 9. Ia kembali di saat semua orang masih terlelap sehingga tidak akan ada yang menyadari seberapa lama ia pergi kecuali Chang Kyun yang tinggal bersamanya.
Dan ketika garis cahaya di ujung timur mengantarkan sang surya untuk kembali berkuasa, saat itu sosok Kihyeon telah menghilang bersamaan dengan kegelapan yang lenyap dari langit.
Pagi itu Min Hyeok meninggalkan distrik menggunakan angkutan kota. Bermaksud pergi ke Gwangju untuk menemui rekan satu fakultasnya.
Meninggalkan distrik bersama orang yang tak ia kenal dengan cukup baik. Min Hyeok mengisi waktunya dengan membaca buku. Namun tak begitu jauh setelah meninggalkan Distrik 9, bus tiba-tiba berhenti dan mengundang sedikit keributan.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?"
"Siapa yang berhenti di tengah jalan seperti itu?" gerutu sang supir yang lantas turun untuk memeriksa mobil yang memblokir jalan.
Si supir bus memeriksa mobil tersebut dan sedikit bingung ketika tak menemukan siapapun di sana.
"Paman ... suruh dia menyingkir!" pekik salah satu penumpang.
Si supir membalas tak kalah lantang, "orangnya tidak ada."
Si supir lantas menggerutu, "siapa yang meninggalkan mobil di tengah jalan seperti ini?"
Min Hyeok yang merasa cukup terganggu dengan keributan di dalam lantas menutup bukunya dan turun dari bus. Berinisiatif untuk memberikan bantuan pada si supir bus.
Namun Min Hyeok langsung tertegun ketika melihat bahwa mobil yang berhenti di tengah jalan itu adalah mobil milik Kihyeon. Dengan wajah yang terlihat khawatir, Min Hyeok bergegas menuju mobil tersebut.
"Tidak ada siap-siapa di sini. Kenapa dia meninggalkan mobilnya di tengah jalan seperti ini?" ujar si supir bus begitu melihat Min Hyeok menghampirinya.
Tak mempedulikan si supir bus, Min Hyeok segera memeriksa mobil Kihyeon yang memang tampak ditinggalkan begitu saja. Min Hyeok mencoba membuka pintu dan ternyata pintu mobil tidak terkunci. Dia pun segera masuk dan memeriksa keadaan mobil. Hal itu membuat si supir bus terlihat panik.
"Hey, Anak Muda. Apa yang kau lakukan? Jika kau dituduh mencuri, bagaimana?"
"Mobil ini milik temanku," ujar Min Hyeok tanpa melihat sang lawan bicara ketika ia tampak mencari sesuatu.
"Teman?"
Pandangan Min Hyeok menemukan kunci mobil berada di samping kakinya. Sembari mengambil kunci mobil Min Hyeok menyahut, "putra dari mendiang Ketua Distrik Hwang Sejin, Hwang Kihyeon. Aku yang akan membawa mobilnya pergi."
Si supir tampak terkejut, dan setelahnya ia kembali ke bus. Sementara Min Hyeok menepikan mobil milik Kihyeon. Setalah bus itu lewat, Min Hyeok keluar dan memandang sekeliling meski ia tidak yakin jika Kihyeon berada di sekitar sana saat ini.
"Kihyeon ... Hwang Kihyeon!" lantang Min Hyeok.
Sekilas Min Hyeok berpikir bahwa mobil Kihyeon telah dicuri. Namun jika memang benar bahwa mobil itu telah dicuri, lalu kenapa si pencuri meninggalkan mobil itu di sana. Terlebih lagi posisi mobil menghadap jalan menuju Distrik 9, yang menegaskan bahwa siapapun pengemudinya, sepertinya tengah dalam perjalanan menuju Distrik 9.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini!"
Min Hyeok dilanda kepanikan. Mengurungkan niatnya untuk pergi ke Gwangju, Min Hyeok lantas mengendarai mobil Kihyeon kembali ke Distrik 9 untuk memastikan bahwa sang pemilik mobil itu masih tidur nyenyak di rumahnya. Meski Min Hyeok Sendiri tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan. Namun ia sendiri juga tak menemukan alasan kenapa Kihyeon harus meninggalkan distrik dan kembali secepat itu. Untuk saat ini Min Hyeok hanya bisa meyakini harapannya. Meski kecil kemungkinannya, setidaknya dia bisa sampai dengan selamat dan memastikan keberadaan Kihyeon yang sebenarnya.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL