"Sudah sudah ayo pergi saja," ajak Mayang. Lalu naik ke mobil.
Di dalam mobil bukannya ia sedih. Ia yang tidak terbiasa dengan kegagalan tentu menaruh dendam karena usahanya tidak berhasil.
Ah keluarga Aruna memang bukan keluarga berada. Tapi mereka punya prinsip yang kuat.
"Nanti kita coba cara lain ya Non. Agar membyat mereka benar benar kapok dan menyesal sudah berani melawan Non Mayang," usul salah seorang bodyguard.
"Tidak usah. Buang buang waktu. Nanti akan ada saatnya anaknya akan benar benar sakit hati melihat aku bahagia. Kamu catat. Mereka harus diundang di acara nikahan ku nanti," perintah Mayang
Sementara itu Pak Wito cukup mendengus kesal dengan kedatangan mereka. Nafasnya naik turun.
"Kurang kerjaan sekali mereka. Datang datang hanya untuk seperti itu. Bapak jadi khawatir dengan keadaan Aruna Bu," kata Pak Wito.
"Duh bapak seperti tidak kenal Aruna saja. Andai Aruna ada disini sudah habis wanita itu. Dia lebih keras dan lebih tegas daripada kita,"
Pak Wito mengangguk pelan. Walaupun begitu pikirannya terus berkecamuk. Masalah batalnya pernikahan Aruna belum selesei menari di otaknya. Kini datang lagi sang pembuat onar.
Ia berangkat bekerja dengan hati yang sepenuhnya belum tenang.
"Bapak tadi berangkat jam berapa Bu?" tanya Aruna saat mereka makan malam.
"Sore Run. Tau tidak kalau tadi calon istri Dimas kesini."
"Mau ngapain? Ah pasti tidak ada tujuan lain selain cari gara gara. Kalau dia datang lagi bilangin ke dia ya Bu. Kalau mau cari masalah, tunggu aku pulang. Biar ku libas sekalian," telat Aruna.
Bu Marni sejenak diam.
"Kamu berani Run?"
"Kenapa tidak berani? Sama sama manusia. Sama sama makan nasi. Kecuali kalau dia kuda lumping." jawab Runa yang disusul tawa dari adik kembarnya.
"Ya ibu juga tau. Tapi latar belakangnya dia."
"Anak Pak Subrata. Orang kaya? Ah orang kaya tapi tak punya etika buat apa ditakuti. Mau anak presiden sekalipun, jika dia bersalah. Aruna tak akan segan segan untuk membalas." tekadnya.
Dan malam itu entah mengapa Bu Marni tampak gelisah. Tidurnya tidak nyenyak. Mengenai ditinggal suami bekerja adalah makanannya sedari dulu. Tapi kali ini rasanya berbeda. Perasaanya tidak enak.
Dan tengah malam ia membangunkan Aruna hanya untuk menelfon sang bapak.
"Bapak juga sudah tidur mungkin Bu jam segini." jawab Aruna, matanya belum membuka sempurna.
"Ayolah Run. Kamu telefon dulu tidak ada salahnya bukan. Mendengar bapak berucap 'Hallo' saja sepertinya ibu sudah merasa lega," desak Bu Marni.
Aruna mengalah. Ia menguak mata lebar lebar. Agar tak salah pencet.
Tutt.. Tut.. Tut...
Nomor telefon bapaknya tidak dapat dihubungi. Padahal bertahun tahun merantau bapak tidak pernah seperti itu. Kalaupun tidak aktif karena kehabisan baterai ia selalu memberi kabar. Prinsipnya ia tidak mau membuat orang lain khawatir.
"Tuh kan Run. Nomor telefon bapakmu tidak bisa dihubungi. Bagaimana ini?$
Bu Marni mulai resah.
"Tenang Bu. Mungkin bapak ketiduran karena lelah dalam perjalanan," kata Runa sembari terus mencoba menghubungi nomor telefon sang bapak.
Tapi masih sama. Hasilnya nihil. Hingga selang beberapa jam ada sebuah nomor tidak dikenal yang telefon ke handphone Aruna.
Runa yang anti sekali dengan nomor asing, saat itu entah mengapa ia angkat begitu saja. Siapa tau penting.
"Hallo dengan keluarga Pak Wito?" tanya seorang laki laki di seberang sana.
"Iya. Anda siapa?"
"Saya Pak Saleh. Teman kerjanya Pak Witi. Mbak, bapaknya masuk rumah sakit. Beliau tiba tiba jatuh," ucapnya.
Ya Pak Wito berkali kali menyebut nama Saleh saat bersama dengan keluarganya. Jadi Aruna hafal betul. Tangan Aruna terasa lemas sekali. Ia tak dapat membayangkan bagaimana ibunya.
Bu Marni sudah banjir air mata mendengar itu.
"Run, ibu mau ke kota sekarang. Nyusulin bapak. Kamu di rumah. Jaga adik adikmu ya," tekad Bu Marni dalam Isak tangisnya.
"Bu, tapi ini masih dini hari. Iya ibu menyusul bapak. Tapi tunggu matahari terbit dulu ya Bu. Mau naik apa kesana Bu?" kata Aruna menenangkan sang ibu meskipun dalam hatinya sendiri berkecamuk tak karuan
Bu Marni hanya mengangguk meskipun begitu tidak ada yang tidur diantara mereka. Sembari semuanya sibuk dengan pikiran masing masing.
Aruna melepas kepergian ibunya dengan berat. Hatinya meronta ingin ikut. Tapi ia ingat kedua adiknya yang masih butuh pengawasan. Belum lagi tanggung jawabnya untuk bekerja.
Di tempat kerja pun hatinya masih dilanda gulana. Menantikan kabar dari ibunya. Berkali kali ia menatap layar handphonenya berharap segera ada kabar.
Telepon akhirnya berdering.
Ibunya memberi kabar. Bapaknya terserang darah tinggi mendadak. Bahkan terancam stroke. Dan kini dirawat di sebuah rumah sakit swasta yang tidak bisa dicover oleh asuransi pemerintah.
Sampai disini, Aruna paham ia harus apa dan bagaimana.
"Ibu tenang saja ya. Nanti secepatnya Aruna transfer uangnya," kata Aruna. Walau dia sendiri tidak tau dapat uang sebanyak itu darimana. Gaji setiap bulan juga ia pakai untuk membantu sekolah adiknya. Tabungannya memang ada. Tapi sepertinya jumlahnya tidak cukup.
Kebetulan hari ini adalah hari gajian. Aruna harap harap cemas menantikannya. Dan sepertinya uang gajiannya pun tidak cukup.
"Ndra, Ko Ari kemana?" tanya Aruna. Raut cemasnya tidak bisa disembunyikan.
"Tadi pamit ke rumah temannya. Entahlah. Urusan orang kaya mungkin," jawab Andra asal.
Aruna tertunduk.
"Kamu kenapa sih Run? Dari tadi aku perhatikan wajahmu muram saja? Ada apa? Bilanglah sama pahlawanmu ini. Kali saja aku bisa membantu," tanya Andra
"Aku ada perlu dengan Ko Ari, Ndra. Aku mau pinjam uang. Bapakku sedang sakit." jawab Aruna.
"Banyak?"
"Lima juta."
Aruna menghela nafas pelan. Ya baginya nominal itu cukup besar. Jika Ko Ari mau meminjamkan uang, itu pun artinya Aruna tidak akan menerima gaji selama dua bulan
Ah tapi nanti ia pikirkan lagi. Yang terpenting sekarang adalah nasib sang bapak.
Sore hari seperti biasa di hari gajian, istri Ko Ari memberikan karyawan masing masing amplop. Disitu sudah tertera namanya. Bahkan sampai toko akan tutup, Ko Ari juga tidak tampak batang hidungnya.
Aruna mulai gelisah. Padahal ia sudah janji kepada ibunya. Tentu ibunya disana juga lebih cemas dengan keadaan sang bapak. Jika karyawan lain pulang dengan sumringah karena menerima gaji. Lain dengan Aruna yang merasa kurang.
Namun tiba tiba sebuah tangan mengulurkan amplop.
Aruna mendongak.
Siapa lagi kalau bukan Andra.
"Ambilah," kata Andra menyerahkan amplop gajian yang masih tertulis namanya itu
Aruna membuang nafas kasar.
"Please lah Ndra. Jangan bercanda. Kamu juga pasti butuh. Untuk apa kamu bekerja kalau tidak butuh uang," komentar Aruna.
"Aku tidak butuh."