Bu Marni tak menggubris omongan tetangga. Bahkan ia masih dengan santai melakukan aktivitasnya.
Dimas berangkat dengan wajah yang tidak sumringah sama sekali. Walau para tetangga yang mengiringnya tentu senang bukan main. Karena ia yakin di tempat Pak Subrata akan di suguhkan beragam hidangan yang mewah. Tentu pelayanannya pun bukan kaleng kaleng.
Benar saja, bahkan Pak Subrata memasang sebuah tenda di depan rumahnya. Hanya untuk acara pertunangan saja. Dengan beraneka macam makanan prasmanan yang begitu menggugah selera.
Mayang tampil dengan kebaya berwarna pink soft. Baju yang dikenakan memang bagus. Tapi di mata Dimas, apapun bajunya tetap aneh jika dipakai oleh Mayang.
Semua tepuk tangan saat Dimas melingkarkan cincin di jari manis Mayang. Fotografer terkenal juga turut diundang di acara tersebut. Mengabadikan momen yang sangat berkesan di hati Mayang.
Acara berlangsung dengan begitu meriah. Para tetangga Dimas sudah seperti rakyat yang tidak pernah makan berhari hari. Mereka begitu antusias dan lahap. Apalagi dengan hidangan yang disediakan termasuk premium. Dan gratis tentunya.
"Setelah ini, aku ikut pulang ya." kata Mayang tiba tiba.
Dimas yang sedang minum mendadak terbatuk.
"Heh kenapa?" tanya Mayang.
Perasaan Dimas mendadak tidak enak. Ia kira Mayang akan senekat itu. Dan separah itu bucinnya hingga ikut Dimas pulang.
Dimas menggeleng pelan.
"Tapi kita belum menikah Mayang. Kenapa kamu ikut aku?" tanya Dimas yang kaget.
Mayang tertawa kecil.
"Aku hanya ingin berkunjung ke desa kamu. Ada paket sembako yang ingin aku bagikan. Hitung hitung memperkenalkan diri lah begitu. Kita sudah resmi tunangan." kata Mayang.
"Tidak usah berlebihan seperti itu tidak apa apa kok May," elak Dimas. Mendengar itu, Mayang sedikit tertunduk dan dilihat oleh Pak Subrata.
Pak Subrata sontak menatap Dimas dengan netra yang melotot seolah sebagai isyarat untuk tidak melawan anaknya. Dan menuruti segala keinginan sang putri.
Dimas tertunduk.
"Tapi niat kamu baik kok May. Dan aku mendukung," lanjut Dimas.
Perlahan kepala Mayang terangkat. Ia yang sedari kecil tidak kenal dengan penolakan tentu tersinggung. Seandainya Dimas benar benar menolak niat baiknya.
"Nanti aku bantu ya," lanjut Dimas. Agar Mayang tidak cemberut. Dan wanita itu langsung mengangguk tanda setuju.
Hari ini bapak Aruna akan kembali merantau ke kota. Dia pulang membawa kebahagiaan. Dan berangkat dengan membawa kenyataan pahit. Tapi tak apalah. Namanya hidup, rahasia di dalamnya tak ada yang tau.
"Bu, pastikan Aruna baik baik saja. Jangan biarkan dia sedih, dia melamun," pesan suaminya saat hendak berangkat.
Wajahnya memang teduh. Tapi sorot mata itu seperti menyimpan beban.
"Aruna itu tidak apa apa Pak. Justru ibu yang khawatir dengan Bapak. Lihat bapak seperti menyimpan beban." kata Bu Marni.
Pak Wito hanya menarik nafas panjang, mengeluarkannya dengan pelan.
"Bukan apa Bu. Hanya saja rencana pernikahan Aruna itu sudah ada. Tiba tiba dibatalkan begitu saja. Apalagi alasan dibatalkannya seperti itu, bagaimana bapak tidak kepikiran? Aruna boleh tegar. Tapi seolah harga diri kita sedang di injak injak Bu. Ibu mengerti bukan?"
Bu Marni mengangguk pelan
"Pak, kita ini hanya makhluk Allah. Kita boleh berencana seperti apapun Tapi semua kembali lagi kepada Sang Pemilik Hidup.Semua yang terjadi ada hikmahnya. Lebih baik Aruna dijauhkan dari sekarang dengan laki laki model begitu. Daripada keterusan, ah ibu justru tidak bisa membayangkan."
"Ya sudah. Pasrah dengan jalan Yang Diatas saja Bu," jawab Pak Wito lalu mulai keluar rumah di antar oleh Bu Marni. Aruna sedang bekerja dan adik kembarnya sedang sekolah.
Saat Pak Wito hendak berangkat, tiba tiba ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya. Netra laki laki paruh baya itu sedikit menyipit. Ia tidak kenal dengan beberapa orang yang turun dari mobil.
"Selamat Siang Pak. Ini ada sedikit rezeki untuk bapak sebagai bentuk syukur saya," mata seorang wanita yang berwajah aneh itu menurut Pak Wito.
"Anda siapa?" tanyanya.
"Waduh Pak kemana Saja. Tidak tau dengan Mbak Mayang ini?" tanya laki laki yang ada di sebelahnya.
Pak Wito hanya menggeleng pelan. Ya bagaimana lagi ia memang jarang ada di rumah. Namun begitupun dengan Bu Siti yang tidak tau siapa wanita di hadapannya itu.
"Mbak Mayang ini anaknya Pak Subrata, Pak. Kalau Pak Subrata tau kan?"
Ya meskipun tidak kenal, namun nama Subrata sudah cukup terkenal di kawasan ini.
"Beri yang lain saja Pak. Kami memang tidak kaya. Tapi sepertinya kami tidak mengharapkan itu," kata Bu Siti setengah membentak dan ketus.
Pak Wito masih bingung. Ia menatap sang istri seolah mencari jawaban.
"Kamu itu berniat mengolok olok kami? Syukuran atas pertunangan kamu dengan Dimas? Eh neng. Tidak usah repot repot. Mau kamu jungkir balik sekalipun membuat keluarga kami sakit hati, kami tidak akan seperti yang kamu inginkan,"lanjut Bu Siti
Dan Pak Wito kini mengerti.
"Tapi saya datang kesini dengan niat baik Bu. Bukan hanya anda yang kami beri. Tapi seluruh warga kampung ini juga saya beri," elak Mayang sebagai bentuk pembelaannya.
"Saya tidak perduli ya Mbak. Mau kamu memberi seluruh orang kampung. Seluruh kecamatan. Bahkan seluruh Indonesia say tidak perduli. Pada intinya saya tidak mau menerima barang pemberian kamu."
"Kalian pergi dari sini," usir Pak Wito dengan garang.
Mayang mendengus kesal.
"Jika pada akhirnya calon menantu ibu memilih saya, seharusnya jangan marah dong. Tapi introspeksi diri. Apa yang kurang. Bukan justru langsung menyalahkan sepihak begitu. Anda bukan malaikat yang selalu benar," lanjut Mayang tak mau kalah.
Ia anti penolakan sedari kecil. Wajar ia berusaha agar rencananya tetap berjalan.
"Eh mbak. Bukan anak saya yang kurang. Tapi laki laki itu yang kurang waras. Lagipula saya heran. Anda kok mau maunya dengan laki laki yang bahkan sebenarnya sudah tunangan. Bahkan pacaran hampir sepuluh tahun. Dan anda berniat menikah? Apa anda yakin rumah tangga anda akan baik baik saja? Apa anda yakin suami anda tidak akan terkenang dengan mantan pacarnya yang sudah sepuluh tahun ditemani? Seperti tidak ada laki laki lain saja. Atau memang tidak laki?" lawan Bu Siti tak mau kalah.
Mayang yang tidak terbiasa dengan celaaan, cemoohan, hanya bisa tertunduk. Netranya berkaca kaca
"Eh kalian kok kurang ajar sekali membuat Mbak Mayang menangis?" tanya laki laki disampingnya.
"Saya tidak akan kurang ajar kalau dia juga tidak memulai. Saya tidak gila Pak untuk memulai pertengkaran."
"Kalian apa tidak takut dengan Pak Subrata?"
"Tidak. Dia memang kaya. Tapi dia bukan Tuhan. Mereka boleh berlimpah materi, tapi mereka tidak bisa seenaknya menginjak sebuah harga diri," jawab Pak Wito dengan tegas.