Mendengar itu justru Aruna mundur ke belakang. Menghindar dari Andra.
"Gila. Kamu pasti kesurupan," komentar Aruna dan ia hendak lari.
Andra tertawa kecil. Separah itukah luka hati Aruna? Hingga ia seolah tidak percaya kepada laki-laki.
Andra tak mengejar. Tapi ia mempunyai rencana lain. Wanita seperti Aruna pasti effortnya tinggi andaikata ia sudah jatuh cinta. Sayang, mungkin dia pernah jatuh di tangan laki laki yang salah.
Hari Mayang kembali berbunga-bunga. Bagaimana tidak hari ini ia diajak oleh Dimas ke toko emas untuk membeli cincin lamaran mereka.
"Naik motor?" tanya Mayang.
Dimas mengangguk. Bagaimana lagi. Memang yang ia punya hanya montor. Hati Dimas berdebar, apakah Mayang menolak karena hanya naik montor?
Namun siapa sangka justru Mayang memberikan sebuah kunci mobil.
"Kamu bisa pakai mobil kan?"
Dimas melongo dan mengangguk pelan. Tangannya bergetar menerima kunci itu.
"Nanti kamu bawa pulang sekalian. Jadi kalau jemput aku langsung pakai mobil," kata Mayang lagi.
Apa seperti ini yang di mau ibunya? Dia kaya dan juga loyal.
Mayang pasrah. Andai kata Dimas mengajaknya ke toko emas murahan sekalipun. Tak apa. Yang penting ia mau mengikatnya dan segera menikahinya
Tapi begitu sampai pasar, Dimas melewati begitu saja.
"Kemana kita?" tanya Mayang.
"Beli cincin. Di mall depan ya," jawab Dimas.
Mayang semakin senyum senyum. Hatinya berbunga. Dimas berasal dari keluarga yang biasa saja. Tapi mau memperlakukannya dengan istimewa.
Sementara itu hati Dimas tak hentinya berdo'a. Agar uang untuk membeli cincin bisa cukup. Karena ia juga tidak tau berapa pasaran harga cincin di mall.
Masuk mall, senyum tak pernah lepas dari bibir wanita yang tengah kasmaran itu. Bahkan tangannya juga menggandeng kejat tangan Dimas.
Sepuluh tahun bersama Aruna, Dimas tidak seperti ini. Ia dan Aruna beranggapan hal tersebut adalah norak. Lagipula mereka juga belum resmi menjadi suami istri. Tapi dengan Mayang, mana bisa dia menolak? Andai kata bisa menolak. Tapi belum tentu Dimas berani melakukannya. Bisa dimakan mentah mentah oleh Subrata andai dia berani seperti itu.
Mereka sudah sampai di salah satu toko emas yang ada di mall tersebut. Pelayanannya buka kaleng kaleng. Apalagi saat melihat di etalasenya. Ahh perasaan Dimas semakin bergejolak tak karuan. Andai uangnya tidak cukup bagaimana? Tak mungkin ia menjatuhkan diri di hadapan orang yang cukup ramai seperti ini?
Mata Mayang sudah mulai mengedari etalase mewah itu. Dan pilihannya jatuh kepada sebuah cincin dengan satu mata putih diatasnya. Cantik dan mengkilap.
"Saya mau yang itu Mbak," lanjut Mayang.
Dimas mulai merogoh dompet di saku celananya. Sebelum tangan Mayang menggapai tangannya. Dan memberikan sesuatu di genggamannya. Sebuah kartu debit.
Dimas kaget. Tapi Mayang mengisyaratkan agar laki laki itu menerimanya. Disitu juga ada sebuah kertas berisi deretan angka. Dan Dimas memberikannya kepada kasir.
"Kenapa seperti itu? Biar aku yang membayar," kata Dimas saat dia keluar dari toko tersebut.
"Tidak perlu. Sudah cukup aku melihat keseriusan kamu. Aku ini tak pernah diberi orang Aku selalu kecukupan sedari kecil. Jadi rasanya janggal saja," jawab Mayang.
Aneh.
Tapi Dimas mencoba menerimanya.
"Uangnya kamu simpan saja. Barangkali di rumah kamu nanti ada acara atau apalah. Bisa untuk tambah tambah," kata Mayang.
Dimas tersenyum dan mengangguk.
Harusnya diperlakukan seperti itu ia senang, tapi kali ini tidak. Justru dia seperti tidak ada harganya di mata Mayang.
Terlebih saat Dimas pulang membawa sebuah mobil, semakin histerislah keluarga Bu Siti.
"Tuh ibu bilang juga apa Dimas. Kamu baru mau tunangan saja sudah diberi mobil. Apalagi kalau sudah menikah. Tidak perlu bekerja. Kamu hanya tinggal ongkang ongkang kaki pasti uang datang sendiri." komentar Bu Siti.
Awalnya Dimas hanya terdiam.
"Bukannya justru aneh ya Bu?" tanyanya.
"Aneh bagaimana? Justru kamu lebih aneh jika menikah dengan Aruna. Tak ada peningkatan. Hidupmu akan stuck disitu situ saja. Bahkan bisa jadi kamu jatuh miskin," komentar Bu Siti.
"Kenapa kesannya aku jadi seperti menjual diri Bu?"
"Tidak usah berpikir macam macam Dimas. Yang penting semua lancar. Dan hidup kita ke depan masuk dijamin bahagia."
Saat ini rumah kediaman Bu Siti sedang ramai. Hari itu dilaksanan acara lamaran Dimas untuk Mayang. Hantaran yg dibawa mungkin jumlahnya satu pick up penuh. Berbeda dengan saat tunangan dengan Aruna dulu yang hanya sewajarnya. Begitupun para tetangga yang ikut mengiring. Bukannya bahagia, justru Dimas hanya mengurung diri di kamar
"Eh calon pengantin kok justru berdiam diri di kamar," tegur Mbak Diah yang mendekati Dimas.
Dimas hanya diam tak menyahut.
"Eh kata ibu, kamu dapat mobil ya dari Mayang?" tanya Diah penuh antusias.
Dimas hanya mengangguk
"Wah keren sekali Dimas. Kalau sudah menikah nanti kamu mintakan aku montor dong. Second juga tidak apa apa," rayu Diah
Dimas kesal, ia bangkit dari duduknya.
"Mbak, bisa tidak sih hanya memikirkan materi? Tidak ada yang memikirkan bagaimana perasaan Dimas?" keluh Dimas.
"Perasaan apa sih Dimas? Dengan Mayang apakah kamu tidak bahagia? Kamu tidak perlu repit repot mencari. Semua sudah ada."
"Iya. Aku tau Mbak. Tapi lihatlah wajah Mayang. Ya Tuhan, sangat tidak Mbak. Dia jelek. Dimas pasti menjadi bahan olokan teman teman.".
Mbak Diah mengibaskan tangan di udara.
"Alah biarkan saja. Paling juga satu dua hari nanti, Mereka akan kembali ke kamu untuk meminjam uang. Percaya ke Mbak mu ini. Wajah itu nomor sekian, yang penting uang. Kalau kamu dengan Aruna, memang benar cantik. Tapi kamu mau makan apa? Memangnya perutmu bisa kenyang hanya memakan cinta dan wajah? Menurut saja Dimas. Hidup itu realistis." kata Mbak Diah lagi.
Ah Dimas memang tidak ada jalan lagi selain menurut
Di kediaman Mayang juga tampak sibuk. Putri tunggal itu bahkan dengan sengaja ingin membagikan sembako di kampung Dimas sebagai bentuk syukuran acara lamaran mereka.
Bahkan nama keluarga Aruna dicatat pertama kali. Untuk apa selain agar Aruna sakit hati? Pun Mayang ingin mendapatkan nilai tambah di desa Dimas nanti.
"Bukan main. Baik sekali gadis Daddy ini. Pasti Dimas akan senang sekali mendapatkan istri sepertimu Nak," puji Subrata.
Mayang mengangguk setuju.
"Daddy, nanti yang diberi pertama kali keluarga Aruna ya. Kalau perlu nanti ada yang mengambil gambar. Ah aku tidak bisa membayangkan bagaimana wanita itu sakit hati," ungkap Mayang dengan rencananya.
Rumah Aruna dan Dimas yang hanya beda RT tentu juga mendengar kabar tentang lamaran Dimas yang kedua.
Bahkan berbondong bondong tetangga ikut. Tapi tidak dengan Bu Marni. Ia tetap santai dengan aktifitasnya tanpa terpengaruh.
"Sabar ya Bu Marni. Ya bagaimana lagi. Kita sebagai tetangga ya menurut saja jika diminta mengantarkan calon mempelai laki laki," kata Bu Parmi.
Bu Marni mengangguk.
"Kalau saya tidak sabar, sudah saya bunuh keluarga Bu Siti itu sejak kemarin, Bu. Saya juga tidak berselera menyaksikan transaksi jual beli anak itu," jawab Bu Marni dengan asal