Dimas hanya menelan Saliva saat Aruna mengatakan itu. Tidak bohong, memang Aruna cantik.
"Lagipula, kamu juga aneh. Putus dari aku, cari yang lebih. Kenapa cari yang lebih jelek dari aku?" olok Aruna.
"Memangnya.. emm,"
Kalimat Dimas terbata bata.
"Memangnya kenapa? Memangnya aku tidak tau begitu calon istrimu? Aku tau ya Dimas. Dia pernah datang ke toko. Entah maunya apa. Mungkin ingin membuat ku sakit hati."
Dimas terdiam. Ah apa mungkin Aruna sakit hati? Itu artinya dia masih menyimpan rasa untuknya.
"Dan kamu sakit hati?" tanya Dimas. Besar harapannya agar Aruna mengatakan iya.
"Tidak sama sekali. Justru dia yang mungkin kena mental. Kamu tanya saja sendiri."
Dimas melengos.
"Kamu selalu begitu Run,"
"Begitu bagaimana? Lalu mau kamu yang seperti apa? Yang diam saja saat harga dirinya dihina. Jika hari ini dia bisa menginjak ekorku, besar kemungkinan dia juga akan menginjak kepalaku esok. Dan aku tidak mau. Kalau bukan aku yang mempertahankan harga diriku. Lalu siapa lagi?" tanya balik Aruna.
Tapi siapa sangka, ternyata Bu Siti yang sadar bahwa Dimas tidak ada di belakangnya, segera berbalik arah untuk mencari anaknya tersebuy.
Untungnya Aruna tau kedatangan Bu Siti dari jauh.
"Sana, anak ibu dicari induknya tuh. Takut kalau hilang," komentar Aruna lalu memilih bangkit dan segera mengambil es dawet pesanannya.
Dimas menoleh dengan gontai. Namun saat Aruna hendak pergi, ia berpapasan dengan ibunya Dimas.
Bu Siti tentu menatap remeh Aruna.
"Pintar sekali cari cari waktu bertemu anak saya. Mau sampai kiamat juga saya tidak akan merestui," omel Bu Siti.
Sebenarnya Aruna ingin mengabaikan, tapi jika dibiarkan saja, mungkin ia masih terus menggonggong.
Aruna yang akan melangkah terpaksa menghentikan langkahnya.
"Sampai kiamat juga saya tidak akan kembali kepada anak ibu. Tanya anak ibu, orangnya juga masih hidup, siapa yang datang lebih dahulu,"jawab Aruna dengan pelan namun sengit
"Hemm, minuman es dawet. Calon mantu saya saja kalau minum atau nongkrong selalu mengajak di cafe yang mahal." kata Bu Siti dengan pamer.
Aruna tertawa kecil
"Tidak apa apa Bu minumnya es dawet. Tapi saya tidak menjual apa apa, hanya menjual tenaga agar bisa dapat uang. Daripada dapat apa apa tapi menjual harga diri," cerca Aruna baru setelah itu ia pergi.
"Woo dasar bocah edan. Untung tidak menjadi menantu saya," teriak Bu Siti. Ia tidak perduli walau banyak orang yang menatapnya aneh.
"Dimas, ayo. Ngapain juga kamu antri es dawet. Buat masalah saja." gerutu Bu Siti.
"Ya Dimas haus Bu. Kalau haus mau minum apa? Air comberan?"
Bu Siti hanya melengos. Rasa kesalnya kepada Aruna masih ada.
"Nih ibu mau?" tanya Dimas. Bu Siti melirik sejenak, lalu meraih es dawet plastikan itu dari tangan Dimas dan meneguknya sampai habis tak bersisa. Lalu membuangnya begitu saja.
Dimas hanya melongo.
"Kenapa kamu melihat ibu seperti itu?" tanya Bu Siti sedikit sengit.
"Ibu haus?"
"Ya iyalah. Ibu tadi bertemu dengan Aruna. Bagaimana tidak naik darah tinggi ibu. Mana dia juga bilang bahwa kita menjual harga diri."
Dimas diam.
"Memang betul kan Bu?"
"Jangan banyak omong kamu Dimas. Persetan dengan harga diri. Zaman sekarang masih mikir harga diri, ya nggak makan Dimas. Ya miskin terus seperti hidup Aruna itu. Lagipula kamu ngobrol apa sih dengan wanita itu? Jaga jarak Dimas. Kalau keluarga Subrata tau, bisa habis kita,"
Dimas menggeleng.
"Tidak. Dimas hanya bilang kalau dia cantik."
Bu Siti menepuk jidatnya.
"Ya Tuhan Dimas. Mulut kamu itu perlu diapakan? Sudah mau menikah tapi masih bilang kalau wanita lain cantik. Waras kamu?"
"Kenyataan Bu. Dimas bicara fakta."
"Mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu wanita itu lagi. Kamu punya calon istri yang lebih bermartabat. Ya lng lebih baik bibit bebet dan bobotnya
"Ya sudah sudah Bu. Ayo kemana tujuan ibu." ajak Dimas. Ia sedikit malu karena orang orang sekitar mulai menatap ke arah mereka.
Dimas hanya diam sepanjang jalan ke toko emas. Bu Siti juga sering menoleh ke belakang. Mungkin takut anaknya hilang
"Ada Bu. Aku masih ada disini," jawab Dimas sedikit kesal.
Bu Siti tak menghabiskan waktu lama untuk di toko emas.
"Wah Dimas, ternyata laku banyak sekali. Maklum emas dari bapakmu emas sudah lama. Jadi naik y harganya. Nanti kamu buat janji dengan Mayang untuk cari cincin ya," perintah Bu Siti.
"Hah? Harus nanti Bu?"
"Iya lah. Kan pernikahan kami dipercepat. Bagaimana sih. Satu lagi, Mayang minta agar Aruna juga di undang ke pernikahan mewahmu."
Dimas hanya terdiam menahan kekecewaan.
"Kenapa tidak disini sekalian Bu beli cincinya? kenapa harus nanti?"
"Heh kamu itu kalau bodoh jangan keterlaluan. Calon istrimu itu bukan wanita sembarangan. Mana bisa kamu ajak di tempat sumpek, kumuh panas seperti ini. Paling tidak kamu ajak ke mall. Di galeri perhiasan yang elit. Ini liat. Uang ibu banyak. Tenang saja."
"Sayang sekali lho Bu. Itu emas peninggalan bapak."
"Tidak usah khawatir Dimas. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu pasti kecipratan har
ya Mayang. Nah itu bisa kamu beri ke ibu untuk ganti uang ini."
"Berarti ini ibu sebagai hutang?"
"Ehm ya tidak sepenuhnya begitu Dimas. Ibaratnya kalau kamu membeli barang dengan harga mahal, kamu juga akan mendapat barang bagus bukan. Harga menentukan kualitas kan. Begitu Dimas. Ibu juga tidak akan rela menggelontorkan uang dalam jumlah banyak jika ibu tidak mendapat hal yang sepadan."
Dimas tidak berselera menanggapi omongan ibunya. Karena ia tau, ia hanya dijadikan sapi perah untuk menikahi Mayang. Bahagia atau tidak adalah nomor ke sekian.
"Wuidih mantap ini. Siang siang panas ada es dawet," komentar Andra yang antusias saat Aruna datang membawa wa dawet.
Tak membuang waktu, ia menyeruput es dawet itu hingga habis tak bersisa. Sementara Aruna hanya diam di tempat.
"Kamu kesurupan Run? Kok diam saja?" tanya Andra.
Aruna menoleh.
"Kalau aku kesurupan, kamu sudah aku makan. Tadi aku ketemu mantan calon mertua," gerutunya.
"Hah? Serius? Seru dong."
"Iya seru. Apa omongannya aku lawan saja."
"Nah gitu dong yang namanya Aruna. Ingat filosofiku masuk kuping kanan keluar kuping kiri,"
Aruna sejenak terdiam.
"Ndra, aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Semisal aku nanti diundang ke acara nikahan mantan, kamu mau tidak menemani? Pura pura jadi pasanganku begitu" tanya Aruna penuh harap, namun terdengar lirih. Ia juga setengah tidak enak hati dengan Andra.
Andra sejenak menatap Aruna.
"Kenapa Ndra? Kamu tidak mau ya? Ya sudah tidak apa apa. Aku tidak memaksa kok,"
"Jangankan pasangan pura-pura. Pasangan sungguhan aku juga mau kok. Bilang ke orang tuamu ya. Bulan depan aku datang bersama orang tuaku."
Aruna melongo.