"Jangan bilang kamu mencintaiku," sengit Aruna.
"Idih. Ge-er bener kamu Run. Aku hanya bilang aku menjagamu. Kata Ko Ari kamu harus hati-hati." elak Andra.
"Halah bisa saja kamu,"
"Memangnya kenapa sih? Kamu jadi anti dengan laki laki? Kamu masih normal kan?"
Bugg.. Aruna melempar Snack yang ada di kursi
"Kalau aku tidak normal tentu aku sudah di pasung di rumah. Kalau tidak gitu ada di Rumah Sakit Jiwa. Mana mungkin aku bisa berkeliaran bebas. Kata mantan calon mertua, aku ini hanya penjaga toko Ndra. Harus sadar diri."
Andra tertawa.
"Jadi omongan sampah seperti itu kamu dengarkan? Buktikan dong Run. Kalau kamu pantas bersanding bahkan mendapatkan yang lebih dari anaknya tersebut."
Aruna menoleh dengan sinis.
"Memangnya ada yang mau dengan penjaga toko seperti aku?" tanya Aruna lagi.
"Ada,' jawab Andra dengan yakin.
"Siapa?"
"Aku."
Aruna mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ndra, berhenti gombal seperti itu. Aku bukan orang yang langsung mleyot mendengar rayuan laki laki."
Andra mengangguk.
"Iya. Aku juga tidak akan mengobral janji, Run."
"Maksut kamu?"
"Pikir saja sendiri," jawab Andra. Obrolan mereka dibuyarkan karena ada pelanggan yang datang.
"Ingat ya Ndra. Kamu masih punya hutang ke aku," bisik lirih Aruna.
"Utang apa Run? Yang ada kamu kemarin yang aku belikan cilok,"
"Utang penjelasan." jawab Aruna penuh penekanan.
*
"Dimas, antar ibu ke pasar," pinta Bu Siti saat anaknya baru pulang.
Dimas mendengus kesal.
"Mau ngapain sih Bu? Dimas baru pulang," keluhnya.
"Heh, ini semua demi kamu ya. Ibu mau jual emas ini."
Sontak Dimas terperanjat.
"Untuk apa Bu? Itu emas peninggalan bapak kan? Apa Mbak Diah butuh uang lagi? Ya Tuhan, kemarin habis dapat dari Mayang loh."
"Jangan banyak omong kamu. Ini untuk lamaran kamu. Tak apa ibu menjualnya. Nanti kalau sudah dapat dari Mayang, ibu bisa beli lagi. Lebih banyak," kata Bu Siti.
Dimas hanya tertunduk.
"Mereka yang minta Dimas menikahi Mayang kan Bu? Kenapa mereka tidak tanggung jawab sepenuhnya?"
"Kepala kamu itu. Kamu itu laki laki. Melamar anak orang Kaya. Meskipun kita tidak begitu mampu, kita usahakan lah. Tapi hasilnya sepadan. Daripada melamar Aruna. Cuma penjaga toko. Mau jadi apa kamu? Bisa memberi ibu apa selepas menikah nanti?"
Dimas sudah tidak mampu berkata apa apa lagi. Sang ibu begitu keras kepala jika urusan itu sudah menyangkut nama Mayang.
Bisa tidak bisa, dan mau tidak mau, Dimas harus menuruti.
"Ingat ya Dimas. Jika di pasar nanti kamu ketemu dengan Aruna. Kamu harus berlagak stay cool. Jangan lembek seperti ini. Ingat jodohmu lebih segalanya dari Aruna. Bibit, bebet dan bobotnya. Jadi tidak ada alasan untuk kamu melirik Aruna lagi. Paham?" nasihat Bu Siti.
"Tapi lebih cantik Aruna, Bu."
Bu Siti mengibaskan tangannya di udara.
"Alah cantik doang. Zaman sekarang asal pakai uang, semua juga bisa berubah."
"Kok Mayang tidak bisa Bu? Dia banyak uang bukan?"
Bu Siti sejenak salah tingkah. Ia juga bingung menjawab. Uang keluarga Subrata tentu dalam jumlah banyak. Tapi wajah Mayang kenapa masih seperti itu?
"Itu katena tidak ada yang mengarahkan saja, Dimas. Wajar Mayang tidak punya ibu."
Dimas hanya kembali diam. Apapun statement terhadap Mayang, semuanya salah.
Kios toko emas, terletak di bagian dalam pasar. Itu artinya mereka harus melewati toko Ko Ari.
"Kayak gini wanita idamanmu? Bekerja di tempat panas seperti ini? Banyak orang. Belum lagi kuman yang dia bawa. Ih. Mbak mu sudah salah memilih jodoh ya Dimas. Kamu jangan sampai," pesan Bu Siti lagi
"Sebenarnya ini kesini mau menjual emas atau memberi wejangan sih Bu? Kalau sekedar nasihat, di rumah juga bisa," gerutu Dimas. Dia sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Panas, sumpek, engap bercampur jadi satu.
Bu Siti berjalan di depan. Sementara Dimas agak di belakang. Menjaga jarak antara orang lain agar tidak terlalu gerah.
Tiba tiba netranya menangkap penjual es dawet di seberang. Tenggorokannya yang kering, seolah minta untuk diguyur kesegaran.
Tak berpikir lama, Dimas segera melesat ke arah penjual dawet. Mumpung ibunya tidak melihat. Namun ternyata bukan hanya dia yang tengah antri. Ada beberapa ibu ibu dan juga.... Aruna...
Wajah Aruna juga biasa saja saat melihat Dimas. Tidak ada tampak kaget.
"Run," sapa Dimas sembari antri es dawet. Ah kapan lagi ia bisa mengobrol dengan Runa. Setelah menjadi suami Mayang nanti, belum tentu ia akan bisa seperti ini.
Aruna menoleh dengan santai.
"Iya."
"Kamu baik baik saja?"
"Seperti yang kamu lihat. Aku sehat walafiat," jawab Aruna tanpa ada inisiatif untuk bertanya balik keadaan Dimas.
"Iya. Kamu masih sama. Masih cantik. Run, kalau galau diungkapkan saja ya. Jangan dipendam. Pasti berat ya putus dari aku. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat."
"Bagaimana? Bisa kamu ulang?"
"Pendengaranmu masih normal kan Run? Putus dari aku, tidak merubahmu menjadi tuli kan?"
"Kamu yang tidak normal. Putus dari kamu kok galau. Ya sorry ya, semakin disakiti ya aku semakin mempercantik diri."