Bohong sekali jika saat itu Subrata tidak tersinggung. Tapi ia harus tetap menjaga sikap di depan Ko Ari. Setidaknya agar keinginanya terkabulkan.
"Apa mungkin kurang banyak? Saya bisa tambahkan lagi," tawar Subrata.
Mendengar itu, Ko Ari bertambah kadar kekesalannya.
"Ah sudah sudah. Pergi saja. Saya tidak punya banyak waktu meladeni acara suap menyuap. Saya tidak butuh uang anda," usir Ko Ari yang mulai bangkit berdiri.
Kedua bodyguard Subrata, sontak pasang badan melihat majikannya diperlakukan dengan sedemikian rupa.
Namun Subrata mengangkat tangannya. Mengisyaratkan untuk tidak mengambil langkah yang lebih.
"Baiklah. Tapi tawaran saya masih berlaku Ko. Jika anda berubah pikiran, anda bisa menemui saya."
"Iya iya iya," jawab Ko Ari dengan tangan yang mengusir.
Subrata kecewa bukan main. Baru kali ini ada orang yang menolak tawarannya. Bagaimana dan apa yang bisa ia lakukan kepada Mayang untuk mengabulkan permintaannya. Dia tak pernah gagal melihat usaha Daddy-nya.
Dan benar saja. Mayang sudah duduk di teras rumah dengan pilar pilar mewah itu.
"Bagaimana Dad? Berhasil bukan?" tanya Mayang dengan penuh harapan.
"Ehm Daddy belum bertemu pemilik tokonya. Tapi bagaimana kalau kita buat dia merasa lebih perih lagi?"
"Maksut Daddy?"
"Kita segerakan pernikahan kamu di tempat yang mewah. Dan dia kita undang. Bagaimana? Lebih sakit bukan?" tawar Subrata. Besar harapannya agar Mayang setuju.
Mayang tampak berpikir.
"Iya boleh juga. Biar gantung diri sekalian," kata Mayang.
Subrata tersenyum. Memeluk erat putrinya itu.
Sementara keluarga Dimas dikagetkan dengan kedatangan anak buah Subrata.
"Ada surat dari bapak." kata salah seorang anak buahnya.
Bu Siti yang hanya sendirian di rumah. Tentu merasa takut. Ah apa ini ultimatum atau apa? Apa ada kesalahan yang diperbuat keluarganya hingga membuat Subrata murka. Ia bergetar menerima surat itu.
"Surat apa ini Mas?" tanyanya di tengah rasa panik.
"Ya mana saya tau kalau anda tidak membukanya?" jawab anak buahnya
Bu Siti membukanya dengan peluh bercucuran. Rupanya itu adalah surat agar Dimas menyegerakan lamaran untuk Mayang. Agar keduanya bisa segera menikah.
Fiuuuhh, Bu Siti bernafas lega. Dengan sumringah ia mengiyakan permintaan Subrata tersebut.
Tak membuang waktu, Ko Ari segera menuju ke tokonya lagi. Meskipun rasa kesal terhadap Subrata saat itu belum hilang.
"Aruna, Koko ingin bicara dengan kamu," kata Ko Ari dengan wajah tegas.
Aruna pun tak kalah kaget. Tak biasanya Ko Ari memintanya berbicara empat mata.
Duh Aruna merutuk dirinya sendiri. Sembari mengingat apa yang dia lakukan hingga menimbulkan kesalahan. Tapi sialnya Aruna tidak ingat kesalahan mana yang dia lakukan.
"Tenang saja. Mungkin si Koko mau naikin gaji kamu. Ingat filosofiku. Masuk telinga kanan. Keluar telinga kiri. Terbalik juga boleh," kata Andra menenangkan.
Aruna menoleh. Melihat wajah Andra yang sama sekali tidak bisa serius itu justru membuat perutnya terasa mulas.
Aruna sama sekali tidak menanggapi ocehan Andra tersebut. Perasaanya mulai gelisah.
"Duduk Run," kata Ko Ari yang sudah bersiap di meja kerjanya.
Tangan Aruna yang meraih kursi itu cukup bergetar juga.
"Ada apa ya Ko? Apakah saya ada salah?"
Ko Ari tersenyum kecil.
"Wajahmu pucat sekali Run. Santai. Kita ngobrol santai saja. Kamu tidak ada salah kok," kata Ko Ari.
"Jadi ada apa ya Ko?"
"Kamu hati-hati ya,"
"Untuk?"
"Ya untuk semuanya."
Aruna tertawa kecil.
"Ko Ari aneh."
"Saya serius Aruna."
"Iya deh Ko. Iya."
"Ya sudah kamu bisa bekerja lagi."
Aruna mengangguk lalu ia keluar dari ruangan itu. Dan siapa sangka Andra sudah stay di depan pintu.
"Kamu kenapa disini? Nguping?" tanya Aruna
Ia menggeleng dengan cepat.
"Tidak. Aku hanya jaga jaga saja. Barangkali kamu pingsan. Tenang saja aku tidak nguping, untuk apa aku nguping, nanti kamu pasti beri tau aku kok, ada apa kok kamu dipanggil oleh Ko Ari." kata Andra dengan yakinnya.
Aruna tertawa kecil.
"Mana ada aku pingsan," jawab Aruna dengan santai lalu memilih duduk menunggu pelanggan.
Andra menarik kursi, duduk di sebelah Aruna.
"Lalu ada apa? Coba cerita. Coba cerita."
Aruna menarik nafas panjang.
"Ki Ari hanya berpesan untuk aku hati hati. Aneh. Kira kira kenapa ya?"
Mereka berdua sejenak diam
"Kamu punya musuh?"
"Kalau menurut aku sih tidak ada. Kalau ada yang memusuhiku dari belakang, ya entahlah."
"Ya itu. Mungkin saja Ko Ari tau ada orang yang memusuhiku."
"Siapa ya kira kira? Atau mungkin kamu?" tanya Aruna.
Andra menelan Saliva.
"Ya kali aku memusuhimu Run. Yang ada aku me...