Mayang mengepalkan tangannya. Ia kira mantan tunangan Dimas adalah wanita miskin dan lembek. Tapi ternyata dia menyebalkan juga.
'Awas. Tunggu saja pembalasanku. Akan ku buat kamu bertekuk lutut meminta maaf dariku,' gumam Mayang dalam hati.
Sementara itu Aruna tak habis pikir. Kurang kerjaan atau bagaimana wanita itu hingga datang kesini hanya untuk mengucapkan itu. Jika ia mau, bisa saja ia berbicara panjang lebar. Tapi untuk apa? Tak ada untungnya. Biar dia yang merasakan sendiri.
"Belum waktunya istirahat. Kok sudah ada disini? Kata Ko Ari kamu adalah karyawan teladan. Tapi kok?" tegur Andra.
Di belakang toko, Ko Ari membuatkan sebuah teras untuk para kartawannya istirahat. Teras tersebut menghadap area persawahan secara langsung. Damainya, semilir anginnya. Benar benar membuat nyaman.
Aruna hanya sekilas menoleh.
"Kamu sakit?" tanya Andra lagi.
"Iya. Sakit hati." jawab Aruna asal.
Andra menatap Aruna dengan tawa seraknya. Sementara Aruna membalasnya dengan tatapan sinis.
"Kenapa tertawa? Jelek sekali sih etika kamu. Ada orang susah ditertawakan," gerutu Aruna.
"Run, kamu tau tidak kunci hidup aman dan nyaman?"
"Apa?"
"Segala sesuatu yang kiranya menyakiti, jangan pernah kamu masukin hati atau kepala yang ada hanya akan menjadi penyakit. Tapi masukin telinga." nasihat Andra yang mencoba bijak.
"Sama saja. Gantian telinganya yang sakit."
"Ya beda Run. Kalau kamu masukin hati dan kepala. Itu tidak ada lubangnya. Sementara kai telinga ada lubangnya. Masuk telinga kiri. Keluar telinga kanan. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Yang penting sama sama ada lubangnya. Jangan dimasukan hidung. Nanti pilek," lanjut Andra.
Tak disangka mendengar itu Aruna tertawa.
"Betul apa betul?" tanya Andra lagi.
Aruna sampai menepuk pundak Andra karena tawanya.
"Eh aku kira kamu itu agak o'on loh. Ternyata pintar juga." komentar Aruna.
"Ye. Kelihatannya saja agak o'on. Tapi aslinya..."
Kalimat Andra menggantung. Ah Aruna curiga. Atau jangan jangan..
"Jangan bilang kalau kamu sebenarnya sarjana. Kamu anak orang kaya lalu pura pura menjadi orang m1skin. Ah seperti sinetron saja."
Andra tertawa lagi
"Kamu mau tau kelanjutannya?"
Aruna mengangguk mantap.
"Aslinya lebih o'on," jawab Andra dengan tawa keras lagi. Bukannya kesal, karena Aruna menunggu dengan seriusnya, justru wanita itu tertawa sama kerasnya.
*
Niat hati pulang dengan rasa menang, justru Mayang kena mental karena perlawanan Aruna.
Ia sudah kehilangan mood untuk melakukan aktivitas. Yang ia tunggu adalah kedatangan Daddy-nya.
Saat terdengar deru kendaraan Pak Subrata terdengar, Mayang berlari menyambut. Bahkan saat menunggu Daddy-nya di teras, Mayang sudah menampakkan raut cemberutnya.
"Loh anak Daddy kenapa cemberut begitu? Kamu sedih? Katakan siapa yang membuat kamu sedih? Agar Daddy beri pelajaran," kata Subrata. Menenggelamkan Mayang dalam pelukannya.
"Aruna," jawab Mayang dengan singkat.
Subrata menyipitkan mata. Baru kali ini ia mendengar nama itu.
"Siapa itu Mayang?"
"Mantan Tunangan Dimas. Dia buat aku kesal, Dad," adu Mayang .
Subrata tersenyum sembari mengelus lembut rambut sang putri. Rupanya anaknya tengah merasakan cemburu.
"Lalu apa yang harus Daddy lakukan? Kamu mau diapakan dia?" tawar Subrata.
"Dia penjaga toko, Dad."
Subrata tertawa.
"Remeh sekali," komentar Brata.
"Iya. Aku ingin dia di pecat dari kerjanya Dad. Biar dia tau rasa."
Subrata lagi lagi tertawa.
"Hal mudah sekali itu Mayang. Katakan, dimana dia bekerja?" tanya Subrata. Hampir seluruh pemilik toko di kawasan itu mengenal Subrata dan kekuasaannya.
"Di Toko milik Ko Ari."
Subrata sejenak terdiam. Nama keturunan Tionghoa itu sebenarnya tidak asing di telinganya. Hanya saja sepertinya ia tak terlalu terpengaruh oleh dia. Apa mungkin dia mau memecat seorang Aruna hanya karena perintah Subrata.
Melihat Mayang yang merajuk, tentu dia tak tega untuk tidak mengabulkan permintaan putrinya tersebut.
Namun apa salahnya dicoba? Dari luar memang Ko Ari terlihat tegas. Tapi belum tentu dalamnya bukan?
Hari itu juga Subrata berusaha memenuhi permintaan Mayang. Bukan datang ke toko. Melainkan ia langsung datang ke rumah pribadi Ko Ari. Ia datang dengan setelan jas hitam, sepatu kulit hitam seperti mafia. Dan juga dua pengawalnya di belakang siap menjaganya.
Ci Eli yang menerima tamu juga tampak kebingungan.
"Siapa ya?" tanya Ci Eli.
Subrata tersenyum sembari mengulurkan tangan.
"Saya Subrata. Apa anda tidak mengenal saya?" tanya Subrata dengan ramah.
Ci Eli memicingkan mata. Namun nama Subrata sama sekali tidak tercatat di memorinya.
Ci Eli menggeleng pelan.
"Oh tidak apa-apa. Mungkin suami anda mengenal saya. Beliau ada di rumah? Saya ada perlu,", lanjut Subrata lagi. Masih dengan ramah.
"Ada. Silahkan duduk." kata Ci Eli yang justru mempersilahkan Subrata duduk di kursi teras.
Tentu saja sebenarnya Subrata keberatan. Dia golongan orang yang disegani dan dihormati di kawasan ini, dan kini hanya dipersilahkan duduk di luar. Harga dirinya seolah sedang diinjak. Tapi demi sang putri, ia tahan juga.
Tak berselang lama, Ko Ari keluar. Ia membenarkan letak kacamata kotaknya saat menatap Subrata.
Subrata bangkit dan tersenyum.
"Apa kabar Ko?" sapa Subrata dengan ramah, sembari mengulurkan tangan.
Ko Ari masih bingung. Terpaksa Subrata menarik kembali tangannya
"Apa Ko Ari juga tidak mengenal saya?"
Ko Ari menggeleng.
"Saya Subrata. Pemilik lahan terbesar di kawasan ini."
Ko Ari mengangguk.
"Saya tidak tau. Tapi saya hanya pernah mendengar sekilas nama anda disebut oleh orang-orang."
Subrata tertawa kecil.
"Ah ya begitulah. Sebagian bahkan hampir seluruh dari mereka mengenal saya sebagai orang terkaya di kawasan ini." jawab Subrata dengan percaya dirinya. Tanpa mengindahkan siapa yang di depannya.
Tapi Ko Ari memang begitu. Kesehariannya sederhana, pakai kaos oblong dan celana kolor. Tidak terlihat seperti orang kaya.
"Jadi ada perlu apa ya?" tanya Ko Ari.
Subrata mengisyaratkan asistennya untuk mengeluarkan sesuatu dari tas. Dan ternyata yang dikeluarkan adalah amplop yang cukup tebal.
"Apa ini?" tanya Ko Ari.
"Anggap saja ini sebuah DP. Ko Ari tentu ingin memperbesar usaha bukan? Mungkin ini bisa membantu. Dan saya ingin anda memecat pegawai anda yang bernama Aruna."
Ko Ari kaget. Ia membanting u4ng itu di atas meja lagi.
"Memangnya kamu siapa? Yang memb4yar Aruna itu aku. Jangan seenaknya kamu memerintah. Memangnya dengan u4ng segepok ini aku akan silau. Di rumahku banyak seperti ini." jawab Ko Ari dengan kesal.
Tangan Subrata mengepal di bawah.