Ko Ari yang sedang berkutat di depan kalkulator, tentu kaget mendengar teriakan Aruna.
Begitupun dengan laki-laki itu. Ia kaget mengapa Aruna justru berteriak saat menatapnya
"Hei, aku ini manusia. Bukan hantu. Lihat kakiku. Menapak tanah. Lagipula ini masih pagi. Hantu masih tidur," ucap laki-laki itu tak kalah panik.
Runa masih berdiri dengan kaku
"Ada Apa Runa? Kamu mengagetkan saja," tanya Ko Ari
"Itu Ko. Ada Pangeran Arab nyasar kesini." jawab Runa sembari menunjuk laki laki di depannya.
Laki laki itu menepuk jidat.
"Yaelah. Ada ya wanita yang alergi laki laki tampan," katanya.
"Idih. Sombong banget." balas Runa.
"Iya lah. Kamu tadi bilang aku seperti pangeran Arab kan. Semua wanita juga tau bahwa sosok yang dijuluki pangeran itu tentu sosok yang tampan."
"Eh sudah sudah. Disini saya bayar kalian untuk bekerja. Bukan untuk berantem. Mengerti." kata Ko Ari
Aruna mengangguk.
"Maaf Ko. Reflek."
"Perkenalkan dia namanya Andra. Dan ini Aruna."
Karena di depan Ko Ari, terpaksa Runa mengulurkan tangan. Begitupun Andra yang tidak kikuk membalas uluran tangan Runa.
Namun Runa kembali di buat kaget, tangan Andra begitu halus. Jauh sekali dengan miliknya. Buru-buru Runa mengambil tangannya kembali.
"Tolong kardus-kardus ini diangkat ke samping toko ya Mas," pinta Runa.
"Iya Dik." jawab Andra yang asal.
"Aku bukan adikmu," protes Runa.
"Tak apa lah. Panggilan sayang," jawab Andra.
Idih. Bukannya senang, yang ada Runa bertambah kesal.
Andra sedikit kebingungan mengangkat tumpukan kardus itu. Cukup tinggi dan tebal.
"Berat Mas?"
"Lebih berat beban hidupku, Dik," jawab Andra sembari sekuat tenaga mengangkat beban itu.
"Mas, sedikit sedikit Saja. Tidak usah langsung satu tumpuk begitu. Yang ada justru tidak terangkat sampai subuh nanti." protes Runa.
"Aku ini laki-laki Dik. Jangan lemah di hadapan perempuan."
Runa mendengus kesal
"Laki laki maupun perempuan adalah sama. Sama sama makhluk ciptaan Tuhan. Yang punya keterbatasan dan kekurangan masing-masing. Tak ada yang sempurna," gerutu Runa lalu pergi. Dia merasa Andra keras kepala.
Namun berbeda dengan Andra. Justru dia diam. Terpaku dengan kalimat Aruna. Yang selalu ia tau bahwa laki laki harus lebih kuat daripada perempuan. Hanya kalimat Aruna, yang ia dengar berbeda.
*
"Mayang, bagaimana acaramu dengan Dimas kemarin?" tanya Pak Subrata pagi ini.
Mayang tersenyum.
"Dimas itu romantis Daddy. Ya kalimatnya memang singkat sih. Tapi bisa membuat Mayang terkesan begitu." ujar Mayang. Tampak sekali dia begitu riang.
"Ah syukurlah kalau begitu. Kamu merasa cocok?"
Mayang sempat terdiam.
"Cocok sih. Tapi apa Dimas juga merasa cocok dengan aku?" tanya Mayang dengan ragu
Pak Subrata sontak langsung berdiri.
"Kalau dia mau pergi dengan kamu. Itu artinya dia juga mau denganmu Mayang. Tenang saja, Daddy sudah bicara dengan keluarga Dimas. Dan mereka tidak keberatan."
Mayang mengangguk penuh gembira.
"Nanti akan Daddy tanyakan lagi perihal kepastian pernikahan kalian."
"Hah? Secepat itu Dad?"
"Lebih cepat lebih baik bukan?"
Mayang kembali mengiyakan pernyataan sang ayah tersebut.
Selayaknya orang jatuh cinta, Mayang pun sama seperti orang lain yang selalu kepo dan ingin tau masa lalu laki-laki yang akan menikah dengan dia.
Entah berlebihan atau tidak, bahkan Mayang menyuruh salah satu asisten ayahnya hanya untuk mencari tau apa yang dia ingin tau.
Dengan kekuatan uang, di zaman sekarang, apa yang tidak mungkin?
Dia kaget, saat mendapat kabar bahwa sebenarnya Dimas sudah bertunangan dan memilih membatalkan pernikahan demi dirinya. Bukan merasa tak enak hati. Tetapi Mayang justru merasa tersanjung. Memang agak lain.
Bahkan dengan handalnya uang, Mayang tau siapa dan bekerja dimana mantan tunangan Dimas itu.
"Antar saya Pak ke toko Ko Ari sekarang," kata Mayang.
Dia tak sabar ingin melihat wanita bernama Aruna tersebut, ia ingin memamerkan bagaimana kemenangannya bisa mendapatkan Dimas dan bisa merebut Dimas dari sisinya.
"Itu Mbak. Wanita yang pakai baju merah. Namanya Aruna," ucap sang sopir.
Mayang mengangguk. Ia segera turun dari mobil. Dan kebetulan Aruna yang tengah menjaga toko.
"Mbak, saya beli air mineral ya. Sepuluh kardus," kata Mayang.
"Baik Mbak sebentar," jawab Aruna dengan sopan. Sementara Mayang sedikit menatap risih. Aruna telah bekerja seharian. Wajar saja jika penampilanya tidak sesegar pagi hari.
"Totalnya lima ratus ribu ya Mbak. Nanti biar disiapkan di depan."
Mayang memberi lima lembar uang merah. Saat tangan Aruna hendak meraihnya, Mayang menariknya kembali.
"Kamu tidak ingin tau siapa saya?" tanya Mayang tiba-tiba.
Dahi Aruna berkerut. Rasa-rasanya memang dia tidak pernah mengenal wanita itu sebelumnya
Mayang tersenyum. Lalu dia mengulurkan tangan.
"Saya calon istrinya Dimas," katanya dengan yakin.
Degg... Bohong sekali jika hari Aruna saat itu tidak bergetar.
"Kenapa tidak mau membalas tangan saya? Cemburu ya?" tanya Mayang dengan angkuhnya.
Aruna membalas uluran tangan itu dengan mantap.
"Kamu sedih ya?" tanya Mayang lagi.
Aruna menarik nafas panjang.
"Mbak, kalau sudah tidak ada perlu, bisa bergantian dengan yang lain?"
Mayang tertawa kecil.
"Alah bilang saja kamu itu cemburu," serang Mayang lagi.
Aruna tak perduli, ia pergi. Meminta karyawan yang lain menggantikan posisinya di depan.
"Eh mau kemana kamu?" tanya Mayang. Seolah tidak terima ditinggal Aruna pergi l.
"Maaf saya tidak punya waktu untuk melayani orang tidak waras."