Dimas melengos. Salah tingkah.
"Ehm ti... ti.. tidak Mayang. Tak apa," jawab Dimas dengan gugup.
Mayang mengeluarkan satu kartu dari dompetnya. Fiyuhh Dimas lega bukan main. Ia kira Mayang akan menyuruhnya membayar.
"Kamu kenapa sih? Kok keringatan seperti itu? Ini tidak panas loh. Ini malam hari," tanya Mayang.
Dimas sejenak tertunduk.
"Ah aku mungkin grogi di dekat kamu," elak Dimas. Ya ia hanya berbohong menutupi ketakutannya
Mendengar itu, Mayang tersipu malu. Pipinya bersemu kemerahan. Perasaanya semakin berbunga-bunga.
"Kamu bisa saja," respon Mayang yang salah tingkah.
Mayang masih senyum-senyum walau dia sampai di mobil
"Terimakasih ya Dimas," ucap Mayang tiba-tiba.
Dimas menoleh.
"Terimakasih kenapa? Aku yang justru berterimakasih. Kamu baik," ujar Dimas
Ah rasanya Mayang sekarang seperti terbang tinggi. Tersanjung.
"Jangan kapok ya Dimas. Kapan kapan kita keluar lagi," ucapnya saat mereka sudah turun dari mobil.
Dimas hanya mengangguk kecil. Memaksakan senyum. Lalu ia menuju montornya yang masih terparkir.
"Dimas, tunggu," teriak Mayang.
Mayang setengah berlari mendekat. Ia menyerahkan sebuah amplop.
"Ini apa?" tanya Dimas yang bingung
"Ini isinya uang."
Dimas melongo.
"Kamu tidak bermaksud membeliku bukan?"
Mayang menggeleng dengan cepat.
"Eh tidak. Bukan begitu. Ini aku titip buat Mbak Diah," jawab Mayang yang gugup.
Dahi Dimas berkerut .
"Hah? Maksut kamu?"
"Ehm tadi Mbak Diah menghubungi aku. Katanya dia butuh uang," jawab Mayang.
Dimas merutuk dalam hati. Dia benar benar geram dengan kelakuan kakaknya itu. Benar benar tidak ada akhlak.
"Ayolah diterima. Jangan merasa tidak enak. Toh aku juga bukan orang lain untuk keluarga kalian," lanjut Mayang dengan yakinnya.
Dimas setengah tidak ikhlas menerima amplop dari Mayang tersebut. Malu.
Tak sabar ia ingin pulang, ia memacu montor lebih kencang lagi. Ingin memakai Mbak Diah. Benar benar membuat malu dia.
Seperti yang dia kira, benar saja Mbak Diah seolah sudah tau. Dia berdiri di depan teras menunggu kepulangan sang adik.
"Mana Dimas?" tanyanya sembari menyodorkan tangan. Tanpa rasa bersalah.
Dimas menyerahkan amplop dari Mayang dengan sedikit kasar.
"Mbak Diah itu memalukan," gerutu Dimas.
"Kenapa justru kamu yang marah? Mayang saja dengan senang hati memberi kok. Dia bahkan berkata ke aku, jika butuh apa-apa, tidak usah sungkan untuk ngomong. Toh dia akan jadi adik ipar ku. Begitu katanya." jawab Mbak Diah seolah merasa menang.
"Tapi Dimas malu Mbak." elaknya
Mbak Diah mengibaskan tangan di udara.
"Jadi diri kamu sendiri saja. Karena apa adanya kamu, Mayang sudah suka," kata Mbak Diah. Kali ini nada bicaranya serius. Dan setelah mendapat apa yang dia mau, dia pulang begitu saja.
"Ibu, seharusnya bilang dong ke Mbak Diah. Agar sedikit punya urat malu. Mentang mentang keluarga Mayang lebih kaya daripada kita." protes Dimas kepada sang ibu.
"Mas Dimas, zaman sekarang perduli urat malu, ya tidak akan makan apa apa. Lagipula benar kok apa kata Mbak mu. Lebih baik jadi diri sendiri. Toh Mayang menerima kamu apa adanya."
Dimas mendengus kesal.
"Ya iya menerimaku. Memang hanya aku yang mau dengannya," gerutunya lagi dengan kecewa.
"Jangan begitu Dimas. Kelak kamu juga akan suka dengan dia. Ingat pepatah Jawa bukan?"
"Sudah Bu. Jangan diteruskan. Dimas pusing mendengar itu," sengitnya lagi sembari masuk ke dalam kamar.
*
"Runa, kamu masuk kerja?" tanya Ko Ari, pemilik toko tempat Runa bekerja.
"Runa, sehat sehat saja Ko. Kenapa tidak bekerja?"
"Ah iya. Tapi orang orang bilang, kamu batal menikah ya Runa. Tidak apa apa kalau kali ingin menenangkan diri dulu. Jangan dipaksa untuk bekerja," lanjut Ko Ari.
Runa sedikit melongo.
"Meratapi orang yang salah tidak menghasilkan duit Ko. Tapi kalau bekerja kan dapat duit." jawab Runa dengan kekeh kecilnya.
"Ah benar benar. Apapun masalahnya, hantam terus ya Run. Saya tau, kamu wanita yang kuat."
Runa mengangguk.
"Oh iya, kenalkan laki laki yang duduk disana itu karyawan baru saya. Dia tugasnya angkat angkat. Barangkali ada pembeli yang bawa mobil. Atau ada barang bongkaran baru. Jika kamu butuh bantuan untuk mengangkat sesuatu, panggil dia."
Toko Ko Ari adalah toko kelontong besar di kota itu. Banyak toko toko kecil yang memilih mengambil barang disitu. Tak heran jika toko itu selalu ramai pembeli. Selain harga yang lebih miring, Ko Ari selalu menekankan kepada karyawan, agar selalu ramah terhadap pembeli. Dan tidak membeda-bedakan.
Di depan toko, tampak sudah banyak kardus yang tertumpuk. Biasanya kardus itu diletakkan di sebelah toko, nanti akan ada tukang rongsok yang sudah menjadi langganan Ko Ari mengambilnya.
Tapi laki laki yang Ko Ari maksud, justru duduk dengan santainya di atas kardus.
"Mas, tolong dong berdiri."
Dia masih diam
"Mas, tolong ini dipindah kesana."
Masih diam
"Mas, niat kerja apa tidak sih?" tanya Aruna sedikit lebih keras.
Laki -laki itu setengah kaget, ia reflek berbalik badan. Begitupun Aruna yang juga kaget. Ia menatap laki laki itu tanpa kedip
"Ko Ari, tolong," pekik Aruna.