"H...Hai," sapa Dimas dengan terbata.
Namun Mayang langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia terlihat begitu antusias dengan kedatangan Dimas.
Namun dekat semakin mendekat, wajah Mayang yang hitam karena bawaan lahir, semakin jelas terlihat.
Sebenarnya Dimas ingin mundur, tapi dia tidak enak hati.
"Hai," jawab Mayang dengan riang.
"Ayo," ajak Dimas. Hanya kata itu yang keluar dari tenggorokannya. Lalu ia menuju montornya.
"Mau kemana?" tanya Mayang.
Dimas hanya memasang wajah yang bingung.
"Katanya mau malam Minggu?"
Mayang tertawa kecil. Jika wanita lain tersenyum manis. Justru bagi Dimas senyum Mayang tak ubah seperti pare. Pait.
"Iya. Tapi kita naik mobil. Ini," kata Mayang sembari menunjuk sebuah mobil Alphard.
Dimas semakin melongo.
"Ta.. Tapi aku tidak bisa setir mobil," elak Dimas dengan lirih.
Mayang mengibaskan tangannya di udara
"Gampang. Kan ada sopir," jawabnya enteng
Dimas dengan pelan masuk ke dalam mobil mewah itu. Bahkan sopirnya membukakan pintu untuknya. Ya Tuhan, bermimpi pun tidak pernah Dimas seperti ini.
"Jangan kaku, Dimas. Biasa saja. Toh nanti kamu juga akan merasakan ini. Jadi mulai sekarang kamu harus belajar ya," kata Mayang.
"Iya." jawab Dimas singkat.
"Oh iya, tentang konsep pernikahan kita nanti, aku ingin ala ala princess negeri dongeng begitu. Jadi aku akan memakai gaun yang mewah dan dibawahnya ada kelap kelip yang bisa menyala. Indah bukan?" tanya Mayang.
Dimas merutuk dalam hati. Berapa kira-kira tingkat kadar percaya diri si Mayang itu hingga dia begitu yakin bahwa Dimas akan menikah dengannya. Setidaknya tanyalah dulu, Dimas mau atau tidak menerima keadaan fisiknya yang seperti itu. Apa dia berpikir karena dia punya uang?
"Kita mau kemana?" tanya Dimas.
"Ehm ke tempat yang mungkin belum pernah kamu kunjungi sebelumnya," jawab Mayang, masih dengan senyum.
Dimas diam. Baginya saat ini, dia ibarat anak buah Mayang. Yang menurut saat dibawa kemanapun.
Mobil berhenti di salah satu restoran. Mewah dan megah. Tentu membuat Dimas begitu kagum. Bagaimana tidak jika setiap malam Minggu ia habiskan dengan Runa di warung Mi ayam. Atau di taman dengan di temani Es teh plastikan.
"Ayo masuk Dimas. Jangan bengong saja. Ini baru luarnya saja," ajak Mayang.
Lagi lagi Dimas seperti mati kutu. Ia takut salah tingkah. Terlebih di tempat elite seperti ini.
Dan ternyata Mayang membawanya di ruangan VIP. Disana sudah ada satu set meja dan kursi yang mewah dengan beragam makanan. Pencahayaan yang remang membuat syahdu suasana malam itu. Apalagi jendela di ruangan itu menghadap ke laut lepas. Benar benar pemandangan yang indah.
Tidak berhenti disitu. Masih ada dua orang laki laki pemain biola yang memainkan alunan lembut di dekat meja makan mereka. Seolah membuat makan malam ini benar benar romantis.
"Bagaimana? Kamu suka?"
Dengan reflek Dimas mengangguk. Bohong sekali jika ia berkata tidak suka tempat seperti ini. Makanan dan minuman yang enak.
"Ini baru permulaan. Nanti akan aku buat lebih dari ini," kata Mayang.
Dimas akhirnya tersenyum. Ya dengan Mayang memang rasanya berbeda. Seperti ia tengah menyiapkan rollercoaster. Dengan Runa, hidup seperti datar saja. Itu saja. Bosan.
Mayang melihat Dimas yang begitu lahap memakan apa yang tersaji di depannya. Steak Ayam disini memang terkenal enak.
"Kamu suka?"
"Siapa?" tanya Dimas kaget. Ah ia takut, bagaimana jika Mayang menanyakan perasaanya.
"Itu. Steak ayamnya," jawab Mayang.
"Oh. Iya. Enak ya makanan disini."
"Tentu saja. Kalau tidak enak, mana mungkin aku mau makan disini. Prinsipku meskipun mahal tapi enak, tetap aku terjang. Jangan khawatir, aku bungkuskan lagi ya untuk dibawa pulang," ujar Mayang dengan lembut dan manis.
Dimas benar benar melongo. Dengan Aruna dulu, boro boro membawa mi ayam untuk pulang, mau tambah gorengan saja berpikir seribu kali.
Hari sudah semakin malam, dan Mayang memutuskan untuk pulang. Sebelum itu salah satu karyawan restoran memberikan empat kotak yang sepertinya berisi steak ayam tersebut. Mayang mulai membuka dompetnya. Dan tak sengaja ekor mata Dimas melihat, dompet tersebut tampak kosong.
Dimas bergetar bukan main. Keringatnya mulai turun. Ia panik. Bagaimana jika justru dia yang disuruh bayar? Sementara di dompetnya hanya ada selembar uang berwarna hijau.
Mayang sadar, Dimas menatapnya tak biasa.
"Kenapa melihat aku seperti itu?"