Dengan hati yang berdebar-debar, Shine melangkah masuk ke gedung megah yang menjadi kantor perusahaannya. Setiap langkahnya dipenuhi perasaan campur aduk antara kegembiraan dan ketegangan.
Shine memilih setelan kerja yang rapi dan elegan. Jas hitam yang dipadukan dengan blus putih memberikan kesan profesional dan sopan. Rambutnya yang terurai dengan indah melambai lembut ketika ia berjalan menuju pintu masuk. Sepatu hak tinggi hitam melengkapi penampilannya yang anggun, menciptakan aura percaya diri yang tak terelakkan.
Setelah melewati pintu putar kaca, Shine berada di lobi yang luas dan modern. Langit-langit tinggi dan dinding kaca membuat kantor terasa terang dan terbuka. Resepsionis dengan ramah menyambutnya saat ia sampai. Mereka sudah diberi pesan oleh sang boss jika Shine akan datang menemuinya siang ini.
"Selamat sore! Anda Ibu Shine Angela? Pak Nathan sudah menunggu anda. Mari saya antar!" Wanita dengan pakaian rapi dan rambut dicepol itu menunjuk ke arah lift dengan sopan. Mengantar Shine yang hanya tersenyum ramah dan mengatakan terimakasih.
Setelah sampai di sebuah ruangan, wanita itu mengetukkan pintu untuk Shine lalu mempersilahkannya masuk setelah suara Nathan menyahutinya.
Shine maju dengan langkah takut-takutnya. Ia berdebar hebat melihat pria tampan dihadapannya yang berekspresi sangat dingin dan terlihat kejam. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Shine bisa bertemu dengannya? Apa benar dia akan memberinya pekerjaan?"
"Akhirnya kamu datang juga." Ujar Nathan dingin. "Cepat ganti bajumu dan ikut aku. Mulai hari ini kamu adalah asistenku." Nathan melempar paperbag padanya. "Jangan pernah membantahku dan banyak bertanya. Jadilah orang yang siap dan sigap dalam segala situasi. Mengerti?"
"Kamu tidak mau melihat dataku?"
"Taruh saja di meja."
"Tidak mau membacanya dahulu?"
"Jika melalui prosedur, aku tidak yakin kamu akan ketrima. Pelamar mana yang datang jam setengah empat sore?! Sainganmu juga sebanyak 130 orang. Kamu mau bersaing dengan mereka?"
"Baiklah Boss! Saya akan ganti baju!" Ujar Shine tak mau basa-basi, lalu segera membawa paperbag yang Nathan berikan menuju kamar di ujung ruangan.
Nathan terkekeh melihat sikapnya yang sama persis penurutnya seperti semalam. Apa dia memang selalu seperti itu? Nathan rasa, Shine adalah orang yang tepat untuk menjadi asistennya. Untuk menjadi partnernya dalam semua misi yang harus ia lakukan. Shine tidak akan berani berkutik karena dia butuh pekerjaan dan uang.
Setelah menunggu beberapa saat, Shine keluar dengan penampilan sempurnanya. Dress yang anggun, make-up yang telah dia sesuaikan, Nathan sampai terpukau melihatnya. Harus Nathan akui jika dia sangat cantik.
"Apalagi yang harus aku lakukan?"
"Ada pesta persahabatan antar pebisnis. Kamu cukup menjadi pendampingku dan iyakan saja apapun yang aku katakan. Mengerti?"
"Ba--baik!" Jawab Shine ragu-ragu. Baru kali ini ia bekerja dengan orang misterius. Ia bahkan tidak perlu wawancara segala macam, dan langsung diangkat menjadi asisten direktur. Sepertinya ini adalah balasan untuk hati yang tersakiti.
"Pak!"
"Apa?"
"Gajiku?" Shine tersenyum manis.
"Nanti setelah acara ini selesai, kita bicarakan kontrak kerja dan gaji. Kamu tenang saja, aku akan memberimu dua digit. Kamu juga akan dapat fasilitas satu unit apartemen yang berdekatan denganku, supaya lebih gampang jika aku membutuhkanmu."
"Siap!"
"Kerjakan tugasmu dengan baik. Buat gaji dan fasilitas yang aku beri sepadan dengan pekerjaanmu. Jangan buat aku kecewa." Ujar Nathan dingin.
*****
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa menit, akhirnya keduanya sampai di sebuah ballroom hotel yang cukup mewah. Semua tamu yang ada di sana adalah pebisnis dari semua kalangan.
"Wahhh boss kita! Selamat datang Nathan! Apa kabar?" Seorang pria menyapa Nathan dengan ramah. "Apa akhirnya kamu memiliki pasangan? Kupikir isu buruk tentangmu benar!"
"Hanya karena aku belum menikah, lalu orang mengabarkanku gay. Aku ini masih 30 tahun! Orang-orang di Indonesia selalu saja mempermasalahkan tentang itu."
"Sudahlah, itu kan memang sudah menjadi budaya kita. Yang penting kamu sudah menepisnya!" Alex tertawa. "Siapa nama wanita cantik ini?"
"Shine." Nathan merengkuh pinggangnya. "Kami baru mengenal beberapa hari, tapi entah mengapa aku merasa kami sangat cocok. Mungkin ini yang dinamakan jodoh akan datang dengan sendirinya."
"Kamu wanita yang beruntung. Dari sejak masih jaman sekolah, pria ini belum pernah pacaran!"
"Jangan bicara sembarangan!" Nathan membawa Shine pergi meninggalkan Alex agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh lagi.
Walau agak shock, Shine menurut saja dengan apapun yang Nathan lakukan di ruangan ini. Sesuai perkataannya sebelum berangkat, ikuti saja apa yang dia katakan. Tanpa protes. Shine tidak mau melewatkan gaji dua digitnya.
"Kerja bagus." Bisik Nathan memujinya. Membuat Shine mengangguk patuh. Shine tidak boleh kehilangan pekerjaan. Berpura-pura memiliki pasangan bukan hal baru di dunia bisnis. Shine yakin Nathan punya alasan yang berkaitan dengan citranya.
"Kamu makan dan minum dulu, aku mau ke kamar mandi. Jangan pergi jauh-jauh dan membuat masalah."
"Siap boss!!!" Shine membuat gestur hormat. Dia lalu berjalan menuju tempat kue dan memakan beberapa potong pencake. Semenjak menikah dengan keluarga pelit itu, ia tidak pernah makan makanan begizi dan enak. Jika akhirnya nasibnya sebaik ini, Shine menyesal telah menangis dan mabuk beberapa hari terakhir. Seharusnya Shine merayakan kebebasannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara yang sangat Shine kenal terdengar ditelinganya. "Kamu mengikuti kami?"
Saat menoleh, ia melihat David dan Alissa menatapnya dengan kebingungan. Untunglah dulu Shine selalu disembunyikan dan tak pernah diajak ke pesta seperti ini. Pernikahan pun privat. Jadi semua orang tidak akan mengenali dirinya sebagai mantan istri David.
Shine menyesal telah menurut saja saat diperlakukan seburuk itu. Untuk apa dia berjuang mati-matian demi orang yang hanya setengah hati mencintainya? Menikahinya hanya untuk menjadikannya pembantu?
"Aku? Mengikuti kalian?" Shine memasang wajah sombong.
"Apa kamu masih tidak terima? Jangan berkata macam-macam. Berita perceraian kita akan membuat citraku buruk. Tolong! Akan aku berikan apapun, tapi jangan rusak citraku."
"Aku sedang hamil, aku tidak siap mendapat tekanan jika hal ini terungkap. Tolong! Kamu belum pernah hamil bukan? Kelak jika kamu bisa menjadi seorang ibu, kamu akan paham!" Alissa ikut berbicara. Namun dalam ucapannya memiliki maksud terselubung. Alissa ingin merendahkan Shine secara halus.
Semua ini salahnya sendiri bukan? Siapa suruh tidak bisa punya anak dan membuat David berpaling padanya?
"Kalian bicara apa sih? Kalian pikir aku serendah kalian? Sepicik kalian?" Shine tersenyum sendu. "Setelah menyakiti hati seseorang, kalian masih tega mengatakan hal semacam itu?"
"Sayang!" Suara Nathan dan pelukan pria itu pada pinggangnya, membuat semua orang melongo.
"Nathan, dia...." Ucapan David terpotong saat Nathan angkat bicara.
"Kenalkan, dia Shine calon istriku. Ini kejutan dariku untuk teman baikku." Nathan yang tak tau apa-apa mengenalkan Shine pada David. Namun sebelum pembicaraan berlanjut, Shine langsung menatap Nathan dengan matanya yang sudah berair.
"Kenapa?"
"Aku ingin pulang."
"Tapi..."
"Please!" Shine memeluk lengan Nathan, lalu menariknya pergi dari hadapan David.
"Sepertinya dia tidak enak badan. Aku akan menghubungimu dan istrimu untuk bertemu lain kali." Nathan mengikuti Shine pergi dengan raut terheran-heran. Kenapa Shine terlihat sangat sedih? Apa mantan suaminya ada di ruangan itu? Ekpresinya benar-benar berubah seratus persen dari sebelumnya.
"Ada mantan suamimu di sana?" Nathan bertanya dengan dingin.
"Kamu tahu masalahku?"
"Kamu bercerita ribuan kali semalam."
"David, dia orang b******k itu." Ujar Shine dengan suara serak menahan tangis.
"David? Jadi yang hamil itu..."
"Terimakasih sudah membantuku walau kamu tidak menyadarinya. Setidaknya, aku tidak merasa rendah seperti sebelumnya. Aku sedikit memiliki harga diri." Shine mengucapkan kalimat itu dengan tulus, ekspresi wajahnya mencerminkan rasa syukur yang mendalam.
Nathan, yang mendengar kata-kata itu, mengangguk dengan lembut. Meskipun terlihat dingin, matanya menunjukkan pemahaman dan kepedulian yang mendalam. Shine merasa aman saat memutuskan untuk memeluk Nathan sepihak, sebagai ungkapan terima kasih dan kenangan akan bantuan yang telah diberikan.
Dalam pelukan itu, Shine merasa beban emosional yang telah lama dipendam perlahan-lahan meluruh. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan isak tangisnya terdengar sayup-sayup di udara malam.
Nathan meresapi getaran emosional yang terpancar dari pelukan mereka. Dia merasakan kepedihan yang tersemat di dalam isak tangis Shine, seolah-olah menjadi saksi bisu dari perjalanan yang tak mudah. Dalam diam, Nathan membiarkan Shine menangis di pundaknya, menawarkan dukungan tanpa kata-kata.
*****